Krisis Iran Ancam Supercycle Cip



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Industri semikonduktor Korea Selatan mulai mencemaskan dampak meluas dari krisis geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran dinilai berpotensi mengganggu pasokan bahan baku penting sekaligus merusak prospek lonjakan permintaan cip global.

Reuters (5/3) melaporkan, anggota parlemen dari partai berkuasa Korea Selatan Kim Young-bae mengatakan, konflik berkepanjangan di Iran berisiko mengganggu suplai material penting dari Timur Tengah. Gangguan tersebut bisa memicu kenaikan harga cip, terutama karena biaya energi yang melonjak di tengah ketegangan kawasan.

Pernyataan itu disampaikan Kim setelah bertemu dengan sejumlah eksekutif industri, termasuk dari Samsung Electronics, produsen cip memori terbesar di dunia, serta sejumlah asosiasi bisnis.


Menurut Kim, optimisme terhadap datangnya supercycle semikonduktor kini mulai dibayangi ketidakpastian geopolitik.

“Selama ini kita berbicara tentang datangnya supercycle semikonduktor. Namun rencana pembangunan pusat data berisiko terganggu, yang pada akhirnya bisa memukul permintaan cip,” ujar Kim dalam pengarahan kepada wartawan.

Ia menambahkan, pejabat industri juga menyoroti potensi gangguan produksi semikonduktor jika pasokan bahan baku tertentu dari Timur Tengah terhambat.

Salah satu material yang menjadi perhatian adalah helium. Gas ini sangat penting dalam proses pengendalian panas selama produksi chip dan hingga kini belum memiliki alternatif yang layak.

Baca Juga: China Akhirnya Izinkan Impor Cip Nvidia H200 Bagi Perusahaan Teknologi Besar China

Ancaman pusat data

Kekhawatiran tersebut muncul di saat produsen cip Korea Selatan sedang menikmati lonjakan harga memori, didorong oleh perlombaan global perusahaan teknologi membangun pusat data kecerdasan buatan (AI).

Permintaan cip dari proyek pusat data selama ini menjadi motor utama pertumbuhan bagi produsen seperti Samsung Electronics dan SK Hynix.

Namun konflik di Timur Tengah mulai menimbulkan risiko baru bagi ekspansi infrastruktur digital di kawasan tersebut.

Awal pekan ini, Amazon mengungkapkan bahwa beberapa pusat datanya di United Arab Emirates dan Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan drone yang terkait konflik regional.

Insiden tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan ekspansi raksasa teknologi global di Timur Tengah.

Perusahaan teknologi Amerika Serikat seperti Microsoft dan Nvidia sebelumnya menjadikan Uni Emirat Arab sebagai pusat komputasi AI regional untuk menopang layanan kecerdasan buatan seperti ChatGPT.

Ketegangan kawasan meningkat setelah Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk sebagai balasan atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Bagi industri cip global, konflik ini membuka potensi efek domino, dari lonjakan harga energi, gangguan logistik bahan baku, hingga tertundanya investasi pusat data.

Jika situasi ini berkepanjangan, euforia supercycle semikonduktor yang didorong ledakan kebutuhan AI bisa menghadapi ujian geopolitik yang tidak ringan.

Baca Juga: China Bakal Bisa Produksi Cip Lebih Cepat dari Prediksi

TAG: