Krisis Iran Hambat Distribusi Bantuan Pengungsi, Biaya Logistik Melonjak



KONTAN.CO.ID - Konflik yang melibatkan Iran mulai berdampak luas terhadap distribusi bantuan kemanusiaan global. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan biaya pengiriman bantuan, khususnya ke Sudan, melonjak tajam akibat gangguan rantai pasok.

Dalam pernyataan terbaru dilansir Reuters Jumat (1/5/2026), UNHCR menyebut biaya pengiriman bantuan dari Dubai ke Sudan dan Chad meningkat lebih dari dua kali lipat, dari US$ 927.000 menjadi sekitar US$ 1,87 juta.

Baca Juga: Serangan Trump terhadap Pemimpin Eropa Perburuk Ketegangan Transatlantik


Lonjakan ini dipicu oleh terganggunya jalur pelayaran utama di kawasan Teluk, termasuk Selat Hormuz, menyusul konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak akhir Februari.

Juru bicara UNHCR Carlotta Wolf menjelaskan bahwa kondisi keamanan yang memburuk, kemacetan pelabuhan, kenaikan harga bahan bakar, serta premi asuransi yang melonjak turut memperlambat distribusi bantuan.

“Barang bantuan yang sangat dibutuhkan masyarakat tiba lebih lambat dari waktu yang seharusnya,” ujarnya dalam konferensi pers di Jenewa.

Gangguan di Selat Hormuz memaksa perubahan rute pengiriman. Kapal yang sebelumnya berangkat dari Dubai kini harus memutar melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di Afrika Selatan, yang menambah waktu pengiriman hingga 25 hari.

Baca Juga: UEA Ragukan Iran Soal Selat Hormuz, Negosiasi Perdamaian Iran–AS Mandek

Selain itu, kemacetan terjadi di sejumlah pelabuhan utama seperti Jeddah (Arab Saudi) dan Mersin (Turki), yang semakin memperparah keterlambatan logistik.

Premi asuransi risiko perang untuk pengiriman melalui kawasan Teluk juga melonjak hingga 0,5%–1,5% dari nilai kargo.

Di tengah kondisi tersebut, UNHCR juga semakin bergantung pada jalur darat. Namun, hal ini memicu kekurangan truk dan kenaikan biaya transportasi.

Di Nairobi, Kenya, harga bahan bakar tercatat naik sekitar 15%, yang berdampak pada keterlambatan pengiriman bantuan ke Ethiopia, Republik Demokratik Kongo, dan Sudan Selatan.

Tekanan logistik ini datang di saat UNHCR menghadapi keterbatasan pendanaan. Dari total kebutuhan dana sebesar US$ 8,5 miliar untuk membantu sekitar 135 juta pengungsi dan warga terlantar di seluruh dunia, baru sekitar 23% yang terpenuhi.

Baca Juga: Hormati Raja Charles, Trump Cabut Tarif Whisky Asal Inggris

“Setiap tambahan biaya transportasi berarti berkurangnya bantuan yang bisa kami berikan kepada mereka yang membutuhkan,” jelas Wolf.

UNHCR juga memperingatkan bahwa kenaikan harga bahan bakar dan kelangkaan pupuk berpotensi mendorong harga pangan lebih tinggi, yang pada akhirnya memperburuk kondisi masyarakat terdampak krisis kemanusiaan.