Krisis Likuiditas Menghantui Perbankan



JAKARTA. Tahun 2012 dan 2013 benar-benar menjadi tahun yang penuh tantangan bagi perbankan. Saat gencar menyalurkan kredit, perbankan dihadapkan pada kian menipisnya likuiditas.Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), sejak kuartal IV-2013 terjadi anomali pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), yaitu pertumbuhan sumber dana perbankan terus menurun. Per September 2012, DPK perbankan tumbuh 19,45% secara tahunan dan terus menurun hingga Mei 2013 jadi 15,15%. Selain itu, untuk pertama kali, DPK tahun 2012 lebih rendah ketimbang DPK tahun sebelumnya. Akhir 2012, DPK baru mencapai Rp 440,29 triliun dan DPK baru di 2011 sebesar Rp 482,86 triliun. Artinya, DPK baru yang dikumpulkan tahun 2012 menurun 8,82%.Kondisi ini diperparah dengan tidak kondusifnya pasar keuangan beberapa bulan terakhir. Sehingga beberapa bank membatalkan aksi korporasi mencari dana di pasar modal.Presiden Direktur Bank Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja, mengatakan sejak tahun lalu likuiditas perbankan mengalami pengetatan, sebab bank-bank gencar menyalurkan kredit karena tingginya. Sementara pertumbuhan minat menabung tidak seimbang dengan kebutuhan likuiditas bank. "Bank menyiasati dengan mencairkan simpanan mereka di BI. Ada kecenderungan perang suku bunga simpanan tinggi," ujarnya, belum lama ini.Semester II membaikDeputi Gubernur BI Halim Alamsyah, mengakui adanya tekanan likuiditas pada perbankan. Penyebabnya, sumber dana di pasar modal yang seharusnya masuk, eh, malah keluar. Hal ini dampak perbaikan ekonomi Amerika Serikat yang menyebabkan para investor mengalihkan dana ke dollar AS. Rendahnya ekspansi rekening pemerintah dan rendahnya daya serap anggaran juga menjadi biang keladi. Halim menambahkan, tekanan terhadap likuiditas berkurang di semester II-2013. Pemerintah akan melakukan ekspansi yang menciptakan lapangan kerja, sehingga upah masuk rekening pribadi pekerja. Kenaikan BI rate yang mendorong kenaikan yield obligasi jangka panjang bisa menjadi obat. Investor ritel yang memiliki dana besar mempunyai pilihan penempatan dana. "Kami akan menjaga yield obligasi jangka panjang tak naik tinggi karena akan mengurangi investasi," ujar Halim, Jumat (19/7).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News