Krisis Minyak di Depan Mata? Ini Skenario Terburuk Konflik AS-Iran Menurut Analis



KONTAN.CO.ID - Serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) memicu kekhawatiran besar di pasar global. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, sekaligus mendorong kawasan Timur Tengah menuju konflik baru.

Ketegangan ini membuat negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk waspada. Iran merespons serangan tersebut dengan meluncurkan rudal ke arah Israel, sehingga meningkatkan kekhawatiran eskalasi konflik.

Situasi ini juga berdampak langsung pada pasar energi. Beberapa perusahaan minyak besar dan perusahaan perdagangan komoditas global menghentikan sementara pengiriman minyak mentah dan bahan bakar melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.


Melansir Reuters, berikut pandangan sejumlah analis pasar atas serangan AS-Israel ke Iran. 

Dampak ke harga minyak

Kepala Riset Komoditas di RBC Capital Markets, Helima Croft, mengatakan dampak terhadap harga minyak akan sangat bergantung pada respons militer Iran, khususnya dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Menurutnya, jika Iran memilih meningkatkan eskalasi konflik, biaya ekonomi bagi Washington bisa meningkat tajam. Ia juga mengungkapkan bahwa para pemimpin regional sebelumnya telah memperingatkan Amerika Serikat tentang risiko konflik baru dengan Iran, yang berpotensi mendorong harga minyak menembus US$ 100 per barel.

Baca Juga: Trump Ancam Iran Jika Balas Dendam, AS Siap Kerahkan Kekuatan Terbesarnya

Croft juga menilai kapasitas produksi tambahan dari kelompok produsen minyak OPEC+ saat ini sangat terbatas. Hampir semua negara produsen disebut telah memproduksi mendekati kapasitas maksimum, kecuali Arab Saudi.

Risiko gangguan pasokan global

Wakil Presiden Senior Analisis Geopolitik di Rystad Energy, Jorge Leon, menyebut ada jalur infrastruktur alternatif di Timur Tengah untuk menghindari Selat Hormuz. Namun tetap saja ada potensi kehilangan pasokan minyak global sebesar 8–10 juta barel per hari, dari total konsumsi dunia sekitar 100 juta barel per hari.

Ia menambahkan bahwa negara-negara yang memiliki cadangan minyak strategis kemungkinan akan mulai melepas cadangan jika gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz berlangsung lama.

Baca Juga: Timur Tengah Bergejolak: Ini Dampak Kematian Pemimpin Tertinggi Iran yang Mengguncang