KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menghadapi krisis paling serius sepanjang 36 tahun masa kekuasaannya. Di tengah tekanan ekonomi akibat sanksi internasional, gelombang protes berdarah, serta ancaman serangan udara Amerika Serikat, posisi politik dan strategis Khamenei kini berada dalam ujian terberat. Para utusan Teheran tengah berpacu dalam perundingan untuk mencegah ancaman serangan udara dari Washington. Namun, situasi domestik dan geopolitik yang memburuk membuat stabilitas Republik Islam Iran semakin rapuh.
Baca Juga: Harga Minyak Menuju Kenaikan Mingguan, Dipicu Meningkatnya Ketegangan AS-Iran Tekanan Ekonomi dan Gelombang Protes Berdarah
Ekonomi Iran terpuruk akibat sanksi internasional yang berkepanjangan. Ketidakpuasan publik memuncak dalam protes besar pada Januari lalu yang akhirnya dibungkam dengan tindakan keras aparat keamanan. Ribuan orang dilaporkan menjadi korban dalam penumpasan tersebut. Di saat bersamaan, ancaman militer kembali muncul dari Presiden AS, Donald Trump, yang memperingatkan kemungkinan pemboman terhadap Iran. Ancaman ini muncul hanya beberapa bulan setelah serangan udara yang menewaskan sejumlah pejabat dekat Khamenei dan komandan Garda Revolusi Iran. Serangan tersebut merupakan dampak tidak langsung dari serangan kelompok Palestina yang didukung Iran, Hamas, terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan itu memicu perang di Gaza dan mendorong Israel untuk melemahkan jaringan proksi Iran di kawasan.
Pengaruh Regional Iran Melemah
Posisi geopolitik Iran di Timur Tengah mengalami kemunduran signifikan. Kelompok Hezbollah di Lebanon melemah, sementara pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah telah tumbang. Kondisi ini membatasi jangkauan pengaruh Iran di kawasan. Kini, Amerika Serikat menekan Iran untuk meninggalkan program rudal balistiknya—yang dianggap Teheran sebagai alat pencegah (deterrent) utama terhadap serangan Israel. Meski Iran menunjukkan indikasi kompromi dalam program nuklirnya, Khamenei menolak keras pembahasan soal penghentian pengembangan rudal. Program nuklir Iran, yang menurut Teheran bertujuan sipil, dipandang Barat dan Israel sebagai jalur menuju senjata nuklir. Ketegangan ini meningkatkan risiko konfrontasi militer langsung di Timur Tengah.
Baca Juga: Donald Trump Beri Tenggat 10–15 Hari ke Iran untuk Capai Kesepakatan Nuklir Komitmen pada Kelangsungan Republik Islam
Sejak awal 2026, Khamenei memerintahkan tindakan keras paling mematikan sejak Revolusi Islam 1979. Ia menyatakan para demonstran harus “ditempatkan pada posisinya” sebelum aparat keamanan melepaskan tembakan ke arah massa yang meneriakkan slogan anti-pemerintah. Khamenei, yang kini berusia 86 tahun, dikenal memiliki komitmen kuat terhadap kelangsungan Republik Islam Iran. Permusuhannya terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat, telah menjadi fondasi kebijakan luar negerinya selama puluhan tahun. Namun demikian, ia juga dikenal pragmatis ketika kelangsungan rezim dipertaruhkan. Konsep “fleksibilitas heroik” yang diperkenalkannya pada 2013 membuka ruang kompromi taktis demi tujuan strategis jangka panjang. Salah satu contohnya adalah dukungannya terhadap kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan enam negara kekuatan dunia. Namun pada 2018, Presiden Trump menarik AS dari perjanjian tersebut dan kembali menjatuhkan sanksi berat terhadap Iran, yang kemudian direspons Teheran dengan melanggar pembatasan program nuklir secara bertahap.
Struktur Keamanan Loyal Jadi Pilar Kekuasaan
Kekuatan Khamenei bertumpu pada loyalitas aparat keamanan, khususnya Garda Revolusi Iran (IRGC) dan milisi Basij. Kedua elemen ini berperan penting dalam menumpas berbagai gelombang protes, termasuk demonstrasi 2009 pasca terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad dan protes 2022 setelah kematian Mahsa Amini dalam tahanan.
Baca Juga: Harga Minyak Ditutup di Level Tertinggi Enam Bulan, Ketegangan AS-Iran Memanas Selain itu, Khamenei mengendalikan kerajaan bisnis semi-negara bernama Setad, yang nilainya mencapai puluhan miliar dolar AS. Entitas ini berinvestasi besar dalam Garda Revolusi dan memperkuat basis kekuasaan finansialnya.
Dari Pemimpin Lemah ke Figur Paling Berpengaruh
Saat ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi pada 1989 menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, banyak pihak meragukan kapasitas Khamenei. Ia belum menyandang gelar ayatollah saat itu dan dinilai kurang memiliki kharisma pendahulunya. Namun melalui konsolidasi kekuasaan dan pembangunan struktur keamanan yang sangat loyal, ia berhasil memperkuat posisinya.
Karim Sadjadpour dari Carnegie Endowment for International Peace menyebut perjalanan Khamenei sebagai “kecelakaan sejarah” yang mengubahnya dari presiden lemah menjadi salah satu dari lima tokoh paling berkuasa dalam sejarah Iran modern. Kini, di tengah tekanan domestik, isolasi internasional, dan ancaman perang regional, keputusan Khamenei akan sangat menentukan arah masa depan Iran dan stabilitas Timur Tengah secara keseluruhan.