Kritis Hadapi Informasi, Benteng Pertama agar Merdeka dari Penipuan Finansial
Senin, 31 Agustus 2026 17:15 WIB
Diperbarui Senin, 31 Agustus 2026 18:31 WIB
Oleh: Theresia Widiningtyas | Editor: Ridwal Prima Gozal
KONTAN.CO.ID - Kemajuan teknologi dan digitalisasi membuat penyebaran informasi semakin mudah dan cepat. Namun, di balik kemudahan tersebut juga muncul ancaman hoaks atau informasi palsu yang dapat menjadi awal penipuan finansial. Hoaks kerap digunakan pelaku penipuan sebagai pintu masuk social engineering atau rekayasa sosial. Melalui informasi palsu, pelaku memancing sisi emosional korban sehingga korban merasa panik, takut, atau antusias berlebihan. Dalam kondisi itu, korban sukarela memberikan data pribadi seperti NIK, PIN, password, nomor rekening, hingga OTP. Data pribadi ini kemudian digunakan pelaku untuk mengakses akun atau perangkat elektronik milik korban. Sebagai contoh, penipu menyebarkan pesan melalui aplikasi percakapan berisi berita palsu tentang “bank akan segera membekukan rekening” sehingga korban takut dan panik. “Hanya berlaku dalam periode terbatas” juga kerap dipakai untuk membuat korban merasa terdesak dan bertindak tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Modus lainnya, penipu sering mengaku sebagai pihak resmi seperti bank, pemerintah, atau perusahaan besar dengan berita yang tampak kredibel sehingga korban mudah percaya. Kata-kata “viral” juga sering disematkan pada hoaks supaya korban terdorong untuk ikut ambil bagian agar tidak ketinggalan dari orang lain. Makin sulit dikenali Seiring dengan perkembangan teknologi, rekayasa sosial pun semakin canggih. Pesan berantai bisa dibuat dengan gaya bahasa yang mirip dengan komunikasi lembaga resmi beserta logo instansi tersebut. Tak hanya itu, penipu juga membuat laman menyerupai situs resmi instansi, sehingga saat korban diarahkan ke laman tersebut, mereka menjadi lengah dan memberikan data pribadi. Di era AI atau kecerdasan buatan, konten hoaks bahkan menjadi semakin sulit dikenali. Penipu mampu menciptakan hoaks deepfake, yang merupakan konten berisi audio, video, atau gambar palsu hasil teknologi AI. Pelaku memanipulasi suara dan gambar figur publik agar narasi konten tampak “asli” dan bisa dipercaya. Salah satu hoaks deepfake yang pernah beredar di media sosial berisi imbauan seorang menteri agar masyarakat mendaftar ke nomor ponsel yang tertera untuk memperoleh hibah atau bantuan pemerintah. Faktanya, kementerian tersebut tidak pernah menyalurkan bantuan secara perorangan atau masyarakat umum.
Lima langkah praktis Agar tak mudah terjerat penipuan finansial melalui hoaks, masyarakat perlu membangun sikap berpikir kritis saat menerima informasi. Kebiasaan berpikir kritis bisa menjadi benteng pertama dalam mengantisipasi penipuan finansial. Terapkan lima langkah mudah ini sewaktu dihadapkan pada informasi yang memicu rasa panik, takut, atau menawarkan keuntungan yang terlalu menggiurkan dalam waktu cepat. Agar mudah diingat, langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk waspada hoax dan penipuan finansial bisa disingkat jadi P.I.L.I.H: P – Pahami sumbernya Siapa yang menulis atau menyebarkan? Apakah domain asli? Apakah resmi? Apakah sumber tersebut legit? I – Identifikasi informasinya Apakah terdengar wajar? Apakah seperti provokasi? Apakah seperti hoax? Apakah informasinya berimbang? Apakah ada data fakta ataukah hanya opini? L – Lacak kebenarannya Double check informasinya dengan informasi lain yang ada di internet, bandingkan isi informasinya dengan data dan informasi yang sumbernya terpercaya. I – Ingat untuk tidak panik dan tidak langsung ambil keputusan Jangan langsung panik setelah membaca atau menerima berita. Jangan langsung mengambil keputusan berdasarkan satu sumber informasi saja. H – Hentikan jika ragu Jangan share kepada siapapun atau di media manapun kalau ragu dengan kebenaran informasi, dan laporkan jika memungkinkan.
Tak kalah penting, jangan bagikan data pribadi seperti NIK, nomor rekening, PIN, password, hingga OTP kepada siapapun, termasuk kepada bank. Petugas bank asli tidak akan meminta data pribadi nasabah. Dengan melatih diri untuk berhenti sejenak, mengecek fakta, dan berpikir kritis, Anda dapat lebih mewaspadai hoaks, memutus rantai manipulasi, dan lebih bijak bertindak sebelum mengambil keputusan finansial. Cermati informasi sebelum langsung mempercayainya, jangan sampai niat cuan justru berujung pada kerugian. Artikel edukasi ini bekerja sama dengan PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC). Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News