Kritisi tawaran arisan dari Negeri Panda



JAKARTA. Tawaran arisan komunitas masih tinggi geliatnya di pasar Indonesia. Salah satu yang teranyar adalah arisan Faliang Asia. Meski perkembangannya demikian pesat di pasar, namun pengamat menilai masyarakat sebaiknya tetap waspada terhadap tawaran arisan ini.

Menurut pemaparan Shofwan Hadi, Founder Arisan Faliang Asia di Indonesia kepada KONTAN, Jumat (9/10) skema arisan ini dimulai dengan biaya pendaftaran sebesar Rp 160.000. Untuk mengaktifkan keanggotan seorang anggota juga harus merekrut tiga anggota baru yang nantinya berada langsung di kaki bawahnya.

Setelah berhasil merekrut tiga orang, tentunya anggota tersebut akan mendapat Rp 480.000 di rekeningnya dari tiga anggota baru yang direkrutnya. Setelah itu sang anggota secara otomatis akan menerima informasi untuk upgrade level dari sistem Faliang.


“Nantinya untuk upgrade, sang anggota harus membayar uang upgrade ke level 2 senilai Rp 300.000 ditransfer ke rekening anggota di atas uplinenya. Istilahnya kakeknya si anggota, di atas uplinenya langsung,” jelas Shofwan.

Proses tersebut berlanjut dengan upgrade tiga anggota di bawahnya yang langsung ditransfer ke upline si anggota. Nantinya jika tiga anggota yang sudah direkrut itu berhasil merekrut anggota baru. Anggota baru tersebut yang nantinya akan menjadi sumber penghasilan bagi sang anggota.

“Intinya kalau mau berusaha baru akan ada hasil besar yang diraih,” kata Shofwan. Tawaran arisan ini hanya bisa diakses secara online karena tidak memiliki kantor di Indonesia. Untuk mencari informasi dari Shofwan bisa melalui www.faliangasia.com sedangkan website resmi komunitas ini adalah www.faliang.asia / www.faliang.club.

Berdasarkan cerita Shofwan, komunitas arisan ini baru berkembang di Indonesia sejak 9 Agustus 2015 lalu. Semulanya komunitas ini berkembang pesat di China. “Kebetulan saya kenal dengan founder dari China yakni Mr. Matthew,” tutur Shofwan.

Lalu Shofwan dan Ibra, salah satu pendiri Faliang Indonesia memilih untuk menjalankan dan mengembangkan Arisan Faliang di Indonesia. Shofwan sendiri berdomisili di Jakarta sedangkan Ibra di Bandung. Uniknya, perkembangan anggota terpesat justru bukan di kedua kota tersebut.

Masih menurut Shofwan, perkembangan anggota paling signifikan disumbang oleh Palembang, Makassar, Manado, Gorontalo dan Bali. “Hingga Jumat (9/10) ini saja total anggota seluruh Indonesia mencapai 45.000 orang,” katanya.

Sejak mulai merintis arisan ini dari awal, selama dua bulan berjalan Shofwan sudah berhasil mendulang keuntungan sekitar Rp 300 juta. Dengan anggota yang berhasil direkrut secara langsung 100 orang. “Namun kalau anggota hitungannya mitra atau di bawah kaki saya itu sebesar 70% dari total anggota seluruh Indonesia,” jabar Shofwan. Per harinya saja diakui Shofwan, anggota dalam kaki grupnya bisa bertambah sekitar 1.000 orang.

Ini yang membuat Shofwan berhasil menduduki level 7 dari sistem dengan posisi tertinggi di level 15. Jika ditilik dari chart yang ada untuk menyentuh level 7 seorang anggota minimal merekrut 2.187 anggota. Tidak heran, Shofwan menjadi satu-satunya orang yang menduduki posisi ini.

“Rata-rata itu di level 2 dan 3 yang paling gemuk porsinya dengan rata-rata sudah mendapat keuntungan Rp 5 – Rp 10 juta per orang dalam dua bulan terakhir,” jabar Shofwan.

Dengan pesatnya pertumbuhan anggota arisan ini, Shofwan menargetkan di akhir tahun 2015 bisa menggaet anggota hingga 300 – 500 ribu orang. “Optimis tercapai karena prospeknya besar,” kata Shofwan. Untuk memuluskan niatnya itu, Shofwan gencar melakukan edukasi dan informasi keliling Indonesia. Dalam sebulan terakhir saja Shofwan sudah berkeliling mulai dari pulau Kalimantan, Bali hingga Jawa.

Mengkritisi tawaran ini, Eko Endarto Perencana Keuangan menghimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada. Sebab skema arisan ini lebih mengarah kepada money game. Perputaran uang hanya terjadi dan berlangsung di antara anggota. Tidak ada produk atau jasa yang ditawarkan.

“Jika ada salah satu anggota yang menolak upgrade akan menjadi kendala dalam sistem kaki di grup tersebut dan berujung pada kemacetan,” papar Eko. Selain itu, sistem seperti ini nantinya akan berujung pada kredit macet setelah kaki yang direkrut semakin bengkak. Ujungnya, posisi upline di level atas mendulang keuntungan sementara yang di level bawah atau downline mengalami kerugian.

Disarankan Eko, sebaiknya masyarakat menghindari sistem arisan ini. “Kalau sekadar coba-coba nggak masalah tapi kalau untuk investasi atau cari penghasilan ini sangat berisiko dan lebih baik dihindari,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News