KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan ekonomi global dan domestik yang meningkat pada Oktober 2026 menjadi perhatian Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Meski demikian, pemerintah memastikan stabilitas sistem keuangan Indonesia masih berada dalam kondisi terjaga berkat fundamental ekonomi yang kuat dan koordinasi kebijakan antarotoritas. Ketua KSSK sekaligus Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, hasil asesmen KSSK menunjukkan stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama kuartal III-2026 masih terjaga dengan baik. Kondisi tersebut ditopang oleh koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antara Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
"Hasil asesmen KSSK menunjukkan bahwa stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama tiga bulan tiga tetap terjaga baik. Didukung oleh koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antar otoritas," ujar Suahasil dalam konferensi rapat berkala KSSK IV Tahun 2026, Selasa (3/11/2026). Ia menambahkan, perekonomian domestik masih memperlihatkan daya tahan yang cukup baik. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid serta fungsi intermediasi sektor keuangan yang masih terjaga.
Baca Juga: Pemerintah Bakal Bikin Storage Minyak Mintah, Tahan Sampai 60 Hari Meski demikian, Suahasil mengakui tekanan terhadap perekonomian kembali meningkat memasuki Oktober 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi global, kebijakan moneter negara-negara utama yang cenderung ketat, serta likuiditas domestik yang semakin mengetat. "Namun demikian, kita juga melihat bahwa tekanan kembali meningkat memasuki bulan Oktober 2026 seiring eskalasi konflik geopolitik yang mendorong naiknya harga energi global, kebijakan moneter global yang cenderung ketat, serta kondisi domestik yang ditandai dengan mengetatnya likuiditas," ujar Suahasil. Selain faktor tersebut, pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait kondisi pasar saham turut memengaruhi perkembangan pasar keuangan domestik. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berdampak pada meningkatnya arus modal keluar atau capital outflow dari pasar saham. Kendati demikian, Suahasil menilai fundamental ekonomi Indonesia dan respons kebijakan yang adaptif masih mampu menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah berbagai tantangan tersebut. KSSK pun akan terus memantau perkembangan ekonomi dan sektor keuangan, termasuk mengantisipasi potensi risiko yang berasal dari luar negeri. "Kami akan terus melakukan asesmen yang bersifat forward looking serta memperkuat kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak rambatan risiko global," katanya.
Ekonomi Global Masih Tertekan
Lebih lanjut, Suahasil menjelaskan bahwa prospek ekonomi global masih dibayangi berbagai tekanan akibat meningkatnya konflik geopolitik. Ketegangan perang di Timur Tengah turut mendorong harga energi dan sejumlah komoditas lainnya bertahan pada level tinggi. Dari sisi kebijakan moneter, sejumlah bank sentral negara utama juga cenderung menerapkan kebijakan yang lebih ketat. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ) tercatat menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada September 2026. Tren tersebut diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa waktu mendatang. Akibatnya, perekonomian global berpotensi menghadapi periode suku bunga tinggi lebih lama atau dikenal dengan istilah higher for longer.
Baca Juga: Pajak Digital Bakal Diperluas, Cek Transaksi yang Bakal Dipungut PPN Tekanan juga tercermin dari imbal hasil atau yield US Treasury yang masih bertahan tinggi. Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan serta besarnya defisit anggaran pemerintah Amerika Serikat.
Sementara itu, preferensi investor global terhadap aset portofolio di negara berkembang masih relatif terbatas. Situasi tersebut turut menopang penguatan indeks dolar AS terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang. Menurut Suahasil, kombinasi berbagai faktor tersebut berpotensi menghambat aliran modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. "Kondisi tersebut berpotensi menahan aliran modal masuk ke emerging markets termasuk Indonesia dan perkembangan ini akan terus kita pantau dan kita mitigasi dampaknya," tegas Suahasil. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News