KONTAN.CO.ID – EVIAN-LES-BAINS, Prancis. Para pemimpin negara-negara anggota Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) memulai pertemuan tingkat tinggi di kawasan resor tepi danau Evian-les-Bains, Prancis, pada Senin (15/6/2026), hanya beberapa saat setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang yang selama ini berlangsung. Perkembangan terbaru tersebut dipastikan menjadi salah satu agenda utama dalam KTT G7 yang berlangsung pada 15–17 Juni. Selain membahas situasi Iran, para pemimpin dunia juga akan mencari titik temu terkait perang di Ukraina, ketidakseimbangan ekonomi global, hingga upaya diversifikasi pasokan mineral kritis di luar China yang selama ini mendominasi pasar.
Trump Hadir di Tengah Meningkatnya Kekhawatiran Sekutu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan tiba di Evian-les-Bains pada Senin untuk menghadiri pertemuan tersebut. Kehadirannya disambut positif oleh pemerintah Prancis setelah tahun lalu ia meninggalkan KTT G7 di Kanada lebih awal.
Baca Juga: Pentagon Rilis 72 Dokumen Baru UFO, Ungkap Laporan Bola Cahaya Misterius di AS Namun, banyak pemimpin negara G7 kini memandang kebijakan luar negeri Trump dengan penuh kehati-hatian. Berbagai langkah yang diambil Washington dinilai telah mengubah dinamika di Timur Tengah, perdagangan global, dan diplomasi internasional, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai komitmen AS terhadap tatanan dunia pascaperang yang sebelumnya turut dibangunnya. Selama KTT berlangsung, Trump dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin Timur Tengah serta menghadiri sesi kerja bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Ukraina Berupaya Mendapat Dukungan Militer Tambahan
Pertemuan Trump dan Zelenskyy yang dijadwalkan berlangsung Selasa digelar di tengah melambatnya laju kemajuan militer Rusia di Ukraina. Pemerintah Ukraina saat ini terus mengupayakan tambahan bantuan pendanaan militer dari negara-negara sekutu. Posisi Zelenskyy dinilai lebih kuat dibandingkan tahun lalu ketika Trump pernah mengatakan kepadanya di Ruang Oval Gedung Putih: "Anda tidak memiliki kartu yang kuat." Meski demikian, peluang Ukraina memperoleh dukungan tambahan dari Washington diperkirakan tidak mudah mengingat Trump kini lebih memprioritaskan penyelesaian konflik dengan Iran, yang belakangan juga memengaruhi tingkat dukungan politiknya di dalam negeri.
Kesepakatan AS-Iran Masih Akan Dirundingkan Lebih Lanjut
Para pemimpin G7 juga diperkirakan akan meminta penjelasan lebih rinci mengenai kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran. Sebuah nota kesepahaman dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat mendatang, meski rincian isi perjanjian tersebut belum dipublikasikan.
Baca Juga: Pasar Saham Asia Menguat, Harga Minyak Anjlok Usai Rencana Damai AS–Iran Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi distribusi minyak dan gas dunia yang selama beberapa bulan terakhir praktis ditutup oleh Iran, akan kembali dibuka pada Jumat. Ia juga mengaku telah memerintahkan penghentian blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sementara itu, Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dalam pernyataannya menyebutkan bahwa perang dan seluruh operasi militer di berbagai front, termasuk di Lebanon, akan dihentikan secara permanen mulai Senin malam. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan bahwa kesepakatan yang lebih komprehensif akan dinegosiasikan selama masa gencatan senjata selama 60 hari, termasuk pembahasan mengenai pencabutan sanksi terhadap Iran. Program nuklir Iran juga akan menjadi bagian dari negosiasi lanjutan tersebut.
UEA, Qatar, dan Mesir Ikut Hadir
Selain negara-negara anggota G7, Uni Emirat Arab yang terdampak langsung oleh konflik, serta Qatar dan Mesir yang berperan sebagai mediator utama, juga akan menghadiri pertemuan tersebut. Kehadiran ketiga negara diharapkan dapat memperkuat pembahasan mengenai implementasi kesepakatan damai dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Momentum Diplomatik Terakhir Macron
Presiden Prancis Emmanuel Macron akan menyambut langsung Donald Trump pada pembukaan KTT. Bagi Macron, forum ini menjadi salah satu pencapaian diplomatik penting menjelang berakhirnya masa jabatan keduanya pada tahun depan. Meski pengaruh politiknya di dalam negeri mulai melemah, Macron dinilai masih memiliki posisi kuat di panggung internasional. Ia bahkan berhasil meyakinkan Trump untuk menghadiri jamuan makan malam kenegaraan di Istana Versailles pada Rabu mendatang.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak 2% Menyusul Kesepakatan Pendamaian AS-Iran, Harga Minyak Merosot Prancis juga memanfaatkan presidensi G7 tahun ini untuk mendorong pembahasan mengenai ketidakseimbangan makroekonomi global sebelum Amerika Serikat mengambil alih kepemimpinan G20 dan G7 berikutnya. Pemerintah Prancis memandang persoalan tersebut sebagai tanggung jawab bersama, di mana China mengalami kelebihan produksi, Amerika Serikat memiliki tingkat konsumsi yang berlebihan, sementara Eropa dinilai masih kurang berinvestasi.
Negara Berkembang Turut Diundang
Untuk memperluas pembahasan, Prancis turut mengundang Brasil, India, Kenya, dan Korea Selatan dalam forum tersebut. Macron juga mendorong China agar meningkatkan konsumsi domestiknya sebagai bagian dari upaya menyeimbangkan kembali perekonomian global dan mengurangi ketergantungan terhadap ekspor.