KTT NATO Diwarnai Kontrak Senjata Jumbo, Trump Kembali Kritik Sekutu



KONTAN.CO.ID - Para pemimpin negara anggota NATO mengumumkan serangkaian kesepakatan pembelian persenjataan bernilai puluhan miliar dolar AS dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki, Selasa (7/7/2026).

Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa negara-negara Eropa mulai meningkatkan belanja pertahanan, sejalan dengan tuntutan Amerika Serikat.

Baca Juga: Saham Chip Korea Selatan Merosot Rabu (8/7), Ikuti Aksi Jual Saham Semikonduktor AS


Namun, di tengah komitmen tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku kecewa terhadap sekutu-sekutunya di NATO. Ia menilai sejumlah negara anggota belum memberikan dukungan yang memadai terhadap operasi militer AS di Iran.

Para pemimpin NATO berkumpul di ibu kota Turki dengan harapan menunjukkan persatuan setelah satu tahun penuh tantangan.

Konflik Iran kembali memperlihatkan perbedaan pandangan di dalam aliansi yang selama puluhan tahun menjadi pilar keamanan Barat.

Dalam pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Trump mengatakan dirinya hampir saja tidak menghadiri KTT NATO jika bukan karena hubungan baiknya dengan Erdoğan.

Ia juga tidak menutup kemungkinan akan kembali mengurangi jumlah pasukan AS yang ditempatkan di Eropa.

Baca Juga: Bursa Australia Anjlok 1% Rabu (8/7), Saham Tambang dan Bank Jadi Pemberat

"Saya sangat kecewa terhadap NATO," kata Trump seraya menyoroti Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia karena dinilai tidak memberikan dukungan yang cukup terhadap operasi militer AS di Iran.

Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menginvestasikan dana triliunan dolar untuk NATO, tetapi merasa tidak memperoleh perlakuan yang setimpal dari para sekutunya.

Selain membahas NATO, Trump mengatakan dirinya telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengenai upaya mengakhiri perang yang berlangsung sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

"Saya pikir keduanya ingin mencapai kesepakatan. Memang terlalu lama, tetapi saya yakin akan ada hasilnya," ujar Trump.

Di sisi lain, Trump mengumumkan pencabutan sanksi terhadap Turki yang diberlakukan sejak 2020 akibat pembelian sistem rudal pertahanan udara Rusia. Ia juga menyatakan kesediaannya menjual jet tempur F-35 kepada Ankara, sebuah langkah yang dinilai dapat memperbaiki hubungan kedua negara.

Baca Juga: Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Sepekan Rabu (8/7), Setelah AS Kembali Serang Iran

NATO dorong peningkatan industri pertahanan

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan negara-negara Eropa telah meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan.

Menurutnya, aliansi membutuhkan "revolusi industri pertahanan" untuk menghadapi meningkatnya ancaman keamanan.

"Kita tidak memiliki kemewahan waktu. Kita membutuhkan kemampuan militer sekarang juga agar tetap siap menghadapi berbagai ancaman," ujar Rutte.

Dalam forum industri pertahanan menjelang KTT, NATO mengumumkan sejumlah kontrak pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan nilai diperkirakan sedikitnya mencapai US$ 50 miliar.

Kesepakatan tersebut antara lain mencakup pembelian drone pengintai dari perusahaan AS Northrop Grumman oleh sejumlah negara Eropa serta pembelian pesawat militer buatan perusahaan Swedia Saab oleh NATO. Saham Saab sempat melonjak lebih dari 5% setelah pengumuman tersebut.

Selain itu, pemerintah Inggris mengumumkan bahwa 12 negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, akan menggelontorkan lebih dari US$ 50 miliar dalam sepuluh tahun ke depan untuk mengembangkan sistem senjata presisi jarak jauh guna memperkuat kemampuan pertahanan NATO.

Baca Juga: Jelang Inggris vs Norwegia, 5 Pemain Three Lions Terancam Sanksi

Trump kembali singgung Greenland

Ketegangan di dalam NATO kembali mengemuka setelah Trump menghidupkan lagi gagasannya agar Greenland berada di bawah kendali Amerika Serikat.

"Greenland seharusnya dikendalikan oleh Amerika Serikat, bukan Denmark," kata Trump.

Pernyataan tersebut langsung mendapat tanggapan dari Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen yang menegaskan bahwa Greenland bukan untuk dijual dan berharap seluruh anggota NATO menghormati kedaulatan Denmark.

Baca Juga: Prancis Hadapi Ujian Sesungguhnya saat Tantang Maroko di Perempat Final Piala Dunia

Di tengah dinamika tersebut, para anggota NATO diperkirakan tetap akan menegaskan dukungan kepada Ukraina.

Presiden Zelenskyy kembali mendesak sekutu Barat mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara setelah serangan rudal dan drone Rusia kembali menghantam wilayah Kyiv dan menewaskan sedikitnya 28 orang.