Kualitas Aset Menjadi Tantangan Industri Perbankan, Siapa yang Paling Tahan Banting?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring normalisasi likuiditas dan penyesuaian suku bunga, prospek industri perbankan Indonesia pada 2026 mulai memasuki fase pemulihan yang lebih moderat, . Meski demikian, pemulihan tersebut dinilai masih dibayangi tantangan struktural, terutama dari sisi kualitas aset.

Hal itu mulai terlihat dari kinerja bank sepanjang 2025. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) misalnya membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% menjadi Rp 57,5 triliun sepanjang 2025.

BCA secara konsolidasian mencatat pertumbuhan kredit 7,7% year on year menjadi Rp 993 triliun per Desember 2025. Secara rata-rata pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8% sepanjang 2025.


Meski begitu, pada penutupan perdagangan Selasa (27/1), harga saham BBCA turun 1,96% ke  Rp 7.500 per saham. Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan menilai, pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. "Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan, Selasa (27/1).  Dari sisi fundamental, BCA dinilai masih kuat dengan likuiditas longgar, rasio CASA tinggi, kualitas aset terjaga, serta proyeksi pertumbuhan kredit 2026 yang lebih baik dibandingkan 2025.

Baca Juga: Saham BBCA Turun Meski Kinerja Positif, Ini Kata Bos BCA

Ekky menilai harga BBCA di bawah Rp 8.000 sudah menarik untuk akumulasi bertahap bagi investor jangka menengah hingga panjang. Namun, saham ini kurang cocok untuk trader jangka pendek karena masih sensitif terhadap arus dana asing. Industri perbankan memang masih dibayangi tantangan struktural, terutama dari sisi kualitas aset. Beberapa analis menilai BCA menjadi yang paling tahan menghadapi tantangan tersebut.

Tercermin dari rasio loan at risk (LAR) BCA pada tahun 2025 yang membaik ke 4,8% dibandingkan 5,3% pada tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, rasio non-performing loan (NPL) terkendali di 1,7% dan pencadangan NPL serta LAR memadai, masing-masing sebesar 183,8% dan 71,6%

BRI Danareksa Sekuritas dalam riset sektor perbankan yang dirilis pada pertengahan Januari 2026 mengungkapkan kualitas aset dinilai menjadi faktor pembeda utama antarbank. BRI Danareksa Sekuritas mencatat, NPL sektor perbankan belum sepenuhnya keluar dari fase kenaikan, khususnya pada segmen kredit konsumer dan UMKM. 

BRI Danareksa Sekuritas menilai, saham BCA memiliki posisi relatif lebih defensif dibandingkan bank-bank lain. "Kami memilih BBCA sebagai top pick karena didukung oleh profil pendapatan yang lebih aman dan kualitas aset yang lebih solid dibandingkan dengan peers," ujar  analis BRIDS Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis. BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan  buy dan target harga Rp10.800 per saham.

Baca Juga: Mulai Bangkit Awal 2026, Sudah Waktunya Koleksi Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI?

Sementara dalam laporan sektor perbankan pada Desember 2025, CGS International menilai, ndustri perbankan masih berada dalam kondisi operasional yang menantang, namun bank dengan disiplin manajemen risiko yang kuat berpotensi lebih resilien. 

"Kami mempertahankan rekomendasi overweight sektor ini karena kami melihat prospek laba bersih yang lebih baik di 2026F, didorong oleh volume kredit yang meningkat dan tren pembalikan pada biaya pendanaan," ujar analis CGS, Handy Noverdanius, Owen Tjandra, dan Elizabeth Noviana dalam risetnya.

CGS menekankan bahwa stabilitas kualitas kredit menjadi salah satu keunggulan BBCA dibandingkan dengan bank lain. CGS memberikan target harga BBCA menyentuh Rp10.700 dalam setahun ke depan. Rekomendasi add (buy) BBCA berdasarkan pada kinerja operasional yang solid di tengah kondisi operasional di lapangan yang masih cukup menantang.  Sedangkan Ekky menolai, secara teknikal, area support BBCA berada di kisaran Rp7.300, sementara resistance terdekat berada di rentang Rp7.800–Rp7.850.

Selanjutnya: Dampak MSCI: IHSG Anjlok 6,53%, BREN dan BBCA Merana di Awal Perdagangan

Menarik Dibaca: Dynamite Kiss dan 6 Drakor Ini Punya Adegan Ciuman Paling Intim, Berani Nonton?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News