KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbaikan kualitas aset kredit mikro PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI) mulai menunjukkan hasil. Perubahan proses bisnis yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir dinilai menjadi faktor utama di balik membaiknya kualitas kredit Kupedes, bukan semata karena kondisi ekonomi yang semakin membaik. Analis Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi dalam riset 11 September 2026 mengatakan, sejumlah perubahan dalam proses bisnis kredit mikro BRI yang mulai diterapkan sejak 2023 telah memberikan dampak positif terhadap kualitas portofolio Kupedes. "Pertanyaan terbesar kami adalah apakah perbaikan Kupedes disebabkan oleh proses bisnis yang lebih baik atau kondisi ekonomi yang membaik. Jawabannya adalah yang pertama," tulis Jovent dalam risetnya.
Baca Juga: Biaya Kesehatan Naik, Asuransi Memperkuat Underwriting Berbasis Data Menurut dia, terdapat beberapa perubahan penting yang dilakukan BRI. Pertama, pengelolaan risiko kredit mikro yang sebelumnya berada di bawah direktur mikro dialihkan ke direktur risiko pada 2024. Kedua, BRI mengubah mekanisme pemberian kredit yang sebelumnya memungkinkan penurunan kualitas aset tersamarkan melalui pelunasan kredit lama. Setelah kredit dilunasi, nasabah yang sama masih dapat kembali mengajukan pinjaman baru. Kini, BRI hanya memperbolehkan satu rekening kredit untuk setiap nasabah. Perubahan ini membuat kualitas kredit lebih mudah dipantau dan mengurangi potensi penyamaran penurunan kualitas aset. Ketiga, BRI mengubah indikator kinerja atau key performance indicator (KPI) bagi petugas kredit mikro. Sebelum 2024, bonus petugas lebih banyak ditentukan oleh pencapaian target volume kredit. Kini, kualitas kredit menjadi faktor utama dalam menentukan bonus, dengan melihat kualitas pinjaman setelah enam bulan atau six-month on book (6MoB), dengan ambang batas special mention loan (SML) di atas 1%. Keempat, BRI menambah sekitar 4.400 petugas penagihan lapangan atau field collection officer. Jumlah tersebut setara dengan tambahan sekitar 16% dari total 26.000–27.000 mantri yang dimiliki BRI. Jovent menilai penambahan petugas penagihan ini penting karena sebelumnya aktivitas penagihan juga menjadi tanggung jawab mantri atau petugas kredit mikro. Dengan adanya petugas khusus collection, mantri dapat lebih fokus pada aktivitas penyaluran dan pengelolaan kredit.
Baca Juga: Penjualan Kendaraan Meningkat, AAUI Prediksi Asuransi Kendaraan Terus Bertumbuh Serangkaian perubahan tersebut mulai tercermin dalam kualitas portofolio Kupedes. Jovent memaparkan, analisis vintage 6MoB menunjukkan rasio kredit yang turun menjadi SML dari penyaluran Kupedes tahun 2025 rata-rata hanya 3,4%. Angka tersebut membaik dibandingkan dengan penyaluran tahun 2024 yang mencapai sekitar 5% dan tahun 2023 sebesar 6,3%. Perbaikan juga terlihat pada net micro downgrade ke non-performing loan (NPL). Nilai penurunan kualitas kredit mikro tersebut turun menjadi sekitar Rp 1,7 triliun per bulan pada kuartal II 2026, dari Rp 1,9 triliun per bulan pada kuartal I 2026. Sebagai perbandingan, angka tersebut sempat mencapai puncak sekitar Rp 3,5 triliun per bulan pada kuartal I 2025. Indo Premier memperkirakan angka downgrade tersebut kembali turun menjadi sekitar Rp 1,5 triliun pada kuartal III 2026. Perbaikan kualitas aset juga tercermin pada cost of credit (CoC) PNM yang turun menjadi 3,6% pada semester I 2026, dibandingkan kisaran 6%–7% pada 2024–2025. "Secara keseluruhan, kami memperkirakan CoC tahun 2026 berada di batas bawah panduan, yakni di bawah 3%, dibandingkan 3,1% pada semester I 2026," ujar Jovent. Untuk 2027, dengan asumsi tidak terjadi kembali pelemahan kondisi makroekonomi, Indo Premier memperkirakan CoC secara keseluruhan dapat membaik sekitar 15–25 basis poin.
Kupedes Berpeluang Tumbuh Lagi
Menurut Jovent, stabilnya kualitas aset membuka ruang bagi Kupedes untuk kembali tumbuh pada tahun depan. Pasalnya, selama tiga tahun terakhir, penyaluran Kupedes mengalami kontraksi. Sepanjang 2023 hingga semester I 2026, Kupedes mencatat compound annual growth rate (CAGR) negatif sekitar 12%. Namun, Indo Premier memperkirakan penyaluran Kupedes dapat kembali tumbuh pada 2027, dengan pertumbuhan di kisaran mid-single digit atau sekitar 4%–6%. Pertumbuhan kembali Kupedes dinilai penting bagi BRI karena dapat membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan net interest margin (NIM) dan return on equity (ROE) akibat ekspansi kredit korporasi. Sebagai catatan, kredit korporasi BRI tumbuh dengan CAGR sekitar 34% sepanjang 2023 hingga semester I 2026. Namun, Jovent mencatat sebagian besar ekspansi kredit korporasi tersebut bersifat jangka pendek.
Baca Juga: SMI Salurkan Pembiayaan Syariah Rp 1,52 T Dukung Pengembangan Proving Ground Bekasi Dengan kualitas aset yang semakin stabil dan peluang kembali tumbuhnya kredit mikro, Indo Premier masih menempatkan BRI sebagai pilihan utama atau top pick di sektor perbankan. Dari sisi valuasi, saham BRI juga dinilai masih menarik. Saat ini, BRI diperdagangkan pada sekitar 1,5 kali price to book value (P/B) dan 8,4 kali price to earnings (P/E), lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 tahun masing-masing sebesar 2,3 kali dan 14,1 kali. Di sisi lain, kepemilikan investor asing terhadap saham BRI juga telah menurun. Pada Agustus 2026, porsi kepemilikan asing tercatat sekitar 13%, turun dari kisaran 18%–19% pada periode 2021–2023.
Kondisi tersebut dinilai memberikan ruang bagi BRI untuk kembali menarik minat investor apabila tren perbaikan kualitas aset dan pertumbuhan Kupedes mulai berlanjut. Jovent masih memberi rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga di Rp 4.600 per saham. Pada Jumat (11/9/2026), harga saham BBRI berada di level Rp 3.270 per saham, turun 1,51%. Sementara itu dalam lima hari saham BBRI telah naik 3,82%. Target harga saham BBRI tersebut didapat dengan asumsi laba bersih sebesar Rp 59,61 triliun di tahun 2026. Sementara laba bersih di 2027 diperkirakan mencapai Rp 66,16 triliun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News