Kualitas Udara Singapura Kembali Tak Sehat, PSI Tembus 108



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Kualitas udara di wilayah tengah Singapura kembali berada pada tingkat tidak sehat pada hari Sabtu (19/9).

Melansir dari CNA, Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam di wilayah tersebut mencapai angka 102 pada pukul 13.00 dan terus meningkat sepanjang sore, mencapai 108 pada pukul 18.00.

Kualitas udara di wilayah lain negara tersebut tetap berada dalam kisaran moderat.


Angka PSI tercatat naik-turun antara kisaran moderat dan tidak sehat selama beberapa minggu terakhir.

Baca Juga: Denmark dan Greenland Tegaskan Kesepakatan dengan AS Tak Korbankan Kedaulatan

Wilayah tengah terakhir kali mencatat kualitas udara tidak sehat pada Kamis malam. Pada hari Selasa, kelima wilayah Singapura mencatat tingkat kualitas udara tidak sehat. ini merupakan kejadian pertama kalinya sejak September 2019.

Pada hari Sabtu, Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) menyatakan dalam imbauan harian terkait kabut asap bahwa PSI 24 jam diperkirakan akan berada pada kisaran moderat tinggi hingga tidak sehat tingkat menengah.

Terdapat risiko kabut asap yang berdampak pada Singapura karena angin diperkirakan akan bertiup dari arah timur-tenggara atau tenggara, demikian pernyataan badan tersebut.

"Kondisi kering terus berlangsung dan diperkirakan akan bertahan di wilayah Kalimantan dan Sumatra bagian selatan," ujar NEA, seraya menambahkan bahwa kepulan asap dari kebakaran di wilayah-wilayah tersebut terpantau bergerak ke arah Singapura.

Mengutip dari South China Morning Post, berdasarkan data IQAir, kualitas udara Singapura saat ini menempatkannya di antara 10 kota paling tercemar di dunia, bersanding dengan ibu kota Malaysia dan Indonesia yang juga menempati peringkat teratas.

Indonesia kerap menghadapi kebakaran hutan selama musim kemarau tahunan, namun jumlah titik panas tahun ini lebih tinggi dari biasanya. Menurut platform pemantauan kebakaran SiPongi milik Kementerian Kehutanan, tercatat lebih dari 9.000 titik panas pada bulan Agustus - jumlah tertinggi untuk bulan tersebut sejak pencatatan dimulai pada tahun 2015—dan lebih dari 7.000 titik panas telah tercatat sepanjang bulan September sejauh ini.

Situasi ini diperparah oleh menguatnya pola cuaca El Nino, yang menyebabkan cuaca lebih kering di sebagian besar wilayah tersebut. Menurut Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASEAN Specialised Meteorological Centre), kecil kemungkinan kondisi cuaca akan segera membaik, karena kondisi kering diperkirakan akan terus berlanjut di sebagian besar wilayah selatan Asia Tenggara dalam waktu dekat.

"Situasi titik panas dan kabut asap di kawasan ini diperkirakan akan tetap tinggi, disertai risiko berkelanjutan terjadinya kabut asap lintas batas," demikian pernyataan pusat tersebut dalam prakiraan terbarunya.

Baca Juga: Anthony Loke Mundur sebagai Menhub Malaysia, Imbas Keputusan Tahanan Rumah Najib