Kuartal I, laba PTBA susut 35%



JAKARTA. PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) tampaknya masih sulit mengatasi pelemahan harga batubara. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, laba bersih PTBA melorot 35,45% year on year (yoy) menjadi Rp 356,17 miliar.

Pada periode yang sama tahun lalu, PTBA membukukan laba bersih Rp 551,81 miliar. Laba bersih ini membuat laba per saham PTBA turun dari Rp 247 per saham menjadi Rp 157 per saham. Melorotnya laba lebih disebabkan dari membengkaknya beban penjualan perseroan. Soalnya, dari sisi pendapatan, emiten pelat merah ini masih mencetak kenaikan pendapatan sebesar 6% menjadi Rp 3,27 triliun. Beban pokok penjualan PTBA melonjak 19,61% menjadi Rp 2,5 triliun. Volume penjualan pada periode Januari hingga Maret 2015 mencapai 4,57 juta ton, naik tipis jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,21 juta ton. Sementara, volume penjualan ekspor naik 17% menjadi sebesar 2,4 juta ton dan volume penjualan domestik hanya naik 1% menjadi 2,17 juta ton. Dengan begitu, komposisi penjualan batubara ekspor pada Kuartal I 2015 menjadi 53% dan 47% untuk pasar domestik. Turunnya laba bersih PTBA juga disebabkan oleh harga jual rerata ekspor yang anjlok dari US$ 73,88 per ton pada Kuartal I-2014 menjadi US$ 63,69 per ton pada Kuartal-I tahun ini. Pendapatan PTBA masih tumbuh karena produksi batubara berkalori tinggi masih bisa memenuhi permintaan pasar.

Di sisi lain, PTBA juga menggenjot volume angkutan kerja kereta api yang kini mencapai 3,59 juta ton, atau tumbuh 5% dari tiga bulan pertama tahun lalu. Hingga Maret 2015, produksi dan pembelian batubara PTBA mencapai 3,7 juta ton, atau turun dari Kuartal I 2014 yang sebesar 3,76 juta ton. Dari sisi margin, PTBA menatatkan Gross Profit Margin sebesar 24% dan operating profit margin sebesar 11%. Sementara net profit margin mencapai 10%. Joko Pramono, Sekretaris Perusahaan PTBA mengatakan, meski pasar batubara masih sulit, tahun ini, PTBA masih akan mengejar volume penjualan sebesar 24 juta ton atau naik 33% dibandingkan pencapaian tahun lalu. PTBA masih optimis lantaran ada dukungan dari peningkatan angkutan kereta api dari PT KAI yang naik 27% menjadi 18,7 juta ton di tahun ini. "Beroperasinya tambahan lokomotif dan gerbong baru dan selesainya pembangunan jalur ganda di tahun ini akan meningkatkan jumlah angkutan batubara," ujarnya di Jakarta, Kamis (30/4). Sementara, untuk pemenuhan pasar ekspor, PTBA bakal meningkatkan penjualan batubara kalori tinggi untuk Taiwan, Jepang, Tiongkok, Malaysia, dan Vietnam. Pasar baru seperti Korea Selatan juga tengah dibidik. Tahun lalu, PTBA berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih karena ada efisiensi. Tahun ini pun, perseroan akan melanjutkan program efisiensi dengan menjaga stripping rasio rendah di bawah 5. Sementara, adanya peningkatan kapasitas sandar Pelabuhan Tarahan yang baru akan memberi ongkos angkut lebih murah. Belum lama ini, perseroan mengantongi pinjaman senilai US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 15,6 triliun untuk menggarap PLTU Banko Tengah dengan kapasitas 2x620 MW. Proyek yang disebut PLTU Sumsel 8 itu berlokasi di Mulut Tambang Tanjung Enim Sumatera Selatan. Pinjaman tersebut diperoleh melalui anak usahanya PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) dari The Export-Import Bank of China (CEXIM). Selain PLTU Sumsel 8, PTBA juga sudah menyelesaikan pembangunan PLTU Banjarsari 2x110 MW Di Mulut Tambang di Lahat Sumatera Selatan. Pada Kuartal II ini, tenaga listrik yang dihasilkan bakal sudah tersambung dengan jaringan interkoneksi Sumatera bagian selatan milik PLN. Analis DBS Vickers Securities, William Simadiputra dalam risetnya, Kamis (30/4) mengatakan, penurunan laba PTBA memang sudah di ekspektasi analis. Hal ini karena harga jual yang merosot dan beban yang tinggi. Di tahun ini, William menilai PTBA masih berada dalam posisi yang penuh tantangan. Namun, selesainya beberapa infrastruktur penunjang seperti pelabuhan dan jalur kereta api bakal menjadi isu positif yang akan menopang penjualan PTBA. Dia masih merekomendasikan Hold untuk saham PTBA dengan target harga Rp 10.300 per saham. Harga saham PTBA sendiri ditutup turun 3,36% menjadi Rp 9.350 per saham.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan