Kuartal IV, Rp 28,7 Triliun Duit Asing Kabur



JAKARTA. Krisis keuangan global menghanyutkan dana asing berjangka pendek alias hot money. Sepanjang kuartal terakhir 2008, hot money yang mengalir keluar dari Indonesia mencapai Rp 28,7 triliun. Bank Indonesia (BI), dalam Laporan Kebijakan Moneter kuartal keempat 2008, menyatakan, duit asing yang hengkang dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pada kuartal IV mencapai Rp 11,9 triliun. Sedangkan hot money yang keluar dari Surat Utang Negara (SUN) Rp 16,8 triliun. BI mensinyalir, para pemilik dana panas itu menarik uangnya karena ingin memperkuat likuiditas di negara asalnya. Dugaan BI yang lain tentang penyebab penurunan hot money adalah: para pemilik dana tengah berburu aset yang harganya merosot besar-besaran di negara asal mereka. Beberapa ekonom yakin, pada 2009 ini pelan-pelan dana asing tersebut akan kembali ke Indonesia. Ekonom PT Bank Danamon Tbk Anton Gunawan memprediksi, jika BI bisa menstabilkan nilai tukar rupiah stabil terhadap mata uang lain seperti dolar Amerika Serikat, investor akan melirik ladang investasi di Indonesia lagi. Jika ekonomi Indonesia tetap kokoh di kuartal pertama 2009, Anton yakin investor asing akan kembali membawa uang mereka. Tapi pada kuartal kedua kemungkinan mereka akan ambil untung alias profit taking sehingga jumlah hot money akan merosot lagi. "Bulan Juni siklusnya profit taking," kata Anton. Masyarakat tak perlu khawatir di bulan itu akan terjadi spekulasi besar-besaran. Alasan Anton, para spekulan di pasar sudah berkurang. Head of treasury PT BCA Tbk Branko Windoe juga mengatakan hal yang sama. Investor asing akan masuk tetap secara pelan-pelan sekali ke Indonesia. "Saya menduga mereka akan masuk dahulu ke SBI kemudian baru ke SUN," kata Branko. Alasan yang mendasari, asing memilih SBI lantaran jangka waktunya pendek, yakni satu bulan, tiga bulan, dan enam bulan. Jadi mereka bisa keluar dari Indonesia dengan cepat jika pasar bergolak. Adapun untuk masuk SUN, investor akan melihat kondisi perekonomian global benar-benar pulih lebih dulu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News