KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pariwisata menikmati kinerja positif pada kuartal I-2026, ditopang sejumlah momentum libur panjang. Namun, pelaku usaha mulai mencermati risiko geopolitik global yang berpotensi menekan kinerja ke depan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sepanjang Januari–Maret 2026, total kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 3,44 juta kunjungan atau tumbuh 8,62% secara tahunan (
year on year/YoY).
Baca Juga: Tim Reformasi Polri Temui Prabowo, Lapor Ribuan Lembar Hasil Kerja Komisi Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) melonjak 13,14% yoy menjadi 319,51 juta perjalanan pada periode yang sama. Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Budijanto Ardiansjah mengatakan, capaian tersebut didorong oleh efek libur panjang seperti Lebaran, Imlek, dan Paskah. “Banyaknya libur panjang meningkatkan perjalanan domestik. Untuk wisman, peningkatan .co.id masih didorong sisa promosi tahun lalu,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (5/5/2026). Namun demikian, Budijanto menilai kuartal II-2026 akan lebih menantang. Konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu perputaran ekonomi global, termasuk sektor pariwisata.
Baca Juga: BPS: Pengangguran Turun Jadi 7,24 Juta Orang, Proporsi Pekerja Formal Turun 40,58% Menurut dia, konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran membuat sebagian wisatawan menunda perjalanan karena faktor keamanan. Selain itu, operasional penerbangan juga berisiko tertekan akibat kenaikan biaya bahan bakar. “Naiknya harga avtur bisa mendorong kenaikan harga tiket pesawat, sehingga berpotensi menahan pertumbuhan perjalanan domestik,” jelasnya. Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah sebenarnya membuka peluang bagi peningkatan kunjungan wisman karena biaya berwisata ke Indonesia menjadi relatif lebih murah. Namun, faktor tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari sisi global. Untuk menyiasati kondisi tersebut, pelaku usaha mulai menyiapkan strategi dengan menawarkan paket wisata yang lebih terjangkau dan selektif dalam pemilihan destinasi.
Baca Juga: Harga Minyakita Merangkak Naik Rp 15.915 Per Liter, Sudah Di atas HET “Pelaku usaha juga mencari fasilitas penunjang yang sedang memberikan promosi agar paket tetap kompetitif,” tambah Budijanto. Sebelumnya, Asita menargetkan pertumbuhan perjalanan wisata hingga 25% pada 2026. Namun, dengan meningkatnya ketidakpastian global, target tersebut berpotensi direvisi. “Situasi ini harus disikapi secara dinamis, sehingga strategi dan target dapat disesuaikan dari waktu ke waktu,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News