KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 7,45 juta kunjungan sepanjang Januari-Juni 2026. Angka tersebut tumbuh 5,71% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan kunjungan wisman terutama berasal dari sejumlah pasar regional. Kunjungan wisatawan dari kawasan Asia lainnya meningkat hampir 10%, Asia Tenggara tumbuh 8,22%, sedangkan pasar Oseania naik 6,60%. Namun, kenaikan kunjungan wisman tersebut belum sepenuhnya terasa di tingkat usaha perhotelan.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menilai okupansi hotel secara nasional pada semester I-2026 cenderung stagnan, meski tren kunjungan wisman meningkat.
Baca Juga: Investasi Pariwisata Tumbuh 16,64% di Semester I, PHRI: Ekspansi Hotel Masih Seret Ketua Umum PHRI, Hariyadi Sukamdani, mengatakan kenaikan kunjungan wisman memang menunjukkan tren positif. Namun, pertumbuhan tersebut belum terlihat signifikan pada tingkat keterisian hotel secara nasional. "Kalau yang berkaitan dengan wisata mancanegara itu memang ada pertumbuhan, ada pertumbuhan naik. Namun kalau secara umum, untuk hotel itu kecenderungannya stagnan atau turun," kata Hariyadi saat dihubungi Kontan, Senin (10/8/2026). Menurut Hariyadi, kinerja hotel berbeda-beda berdasarkan karakteristik pasar di masing-masing daerah. Hotel di kota-kota besar yang tidak terlalu bergantung pada pasar pemerintah masih mencatat pertumbuhan. Sebaliknya, hotel di daerah dengan ketergantungan tinggi terhadap pasar pemerintah mengalami tekanan okupansi. Di sisi lain, wisatawan nusantara (wisnus) belum memberikan dorongan kuat terhadap tingkat keterisian hotel. Hariyadi menyebut pergerakan wisnus cenderung stagnan. Kondisi serupa juga dirasakan pelaku usaha taman rekreasi yang melihat kecenderungan penurunan kunjungan wisatawan domestik. Kesenjangan antara kenaikan jumlah wisatawan dan tingkat okupansi hotel juga terlihat di Bali. Hariyadi mengatakan jumlah wisatawan yang datang ke Bali bertambah, tetapi tingkat keterisian hotel relatif stagnan.
Baca Juga: Adopsi Kendaraan Listrik Tumbuh, 21.865 Pelanggan Baru Gunakan Home Charging PLN Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah perubahan pola akomodasi wisatawan. Sebagian wisatawan memilih akomodasi seperti Airbnb yang tidak tercatat sebagai hotel. "Di Bali ini, orangnya yang datang tambah, tapi okupansi hotelnya relatif stagnan juga. Kenapa? Karena banyak yang larinya ke Airbnb. Jadi dia ke hotel yang tidak teregister sebagai hotel," kata Hariyadi. Meski demikian, Hariyadi menilai kenaikan kunjungan wisman tetap memberikan pengaruh terhadap perekonomian daerah. Namun, kontribusinya terhadap bisnis hotel belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Memasuki semester II-2026, industri hotel dan restoran juga menghadapi tantangan dari sisi daya beli masyarakat. Hariyadi menilai pelemahan daya beli berpotensi menahan pertumbuhan industri apabila kondisi tersebut berlanjut. Tekanan juga datang dari kenaikan biaya bahan baku. Hariyadi menyebut harga bahan baku untuk industri hotel dan restoran meningkat sekitar 10%-12%. Kondisi tersebut menambah beban pelaku usaha ketika pertumbuhan permintaan belum terlalu kuat.
Dari industri industri restoran, Haryadi menilai tekanan biaya juga berasal dari kenaikan harga kemasan berbahan plastik. Kenaikan harga plastik turut meningkatkan biaya operasional restoran. Dengan kondisi tersebut, PHRI melihat kenaikan kunjungan wisman pada semester I-2026 belum otomatis mengerek okupansi hotel. Stagnasi wisatawan domestik, perubahan pola akomodasi, serta tekanan daya beli dan biaya operasional masih menjadi tantangan bagi industri hotel dan restoran pada semester II-2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News