Kunjungan Xi Jinping ke Korea Utara Perkuat Posisi Kim Jong Un di Panggung Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Korea Utara pekan ini dinilai membawa keuntungan strategis bagi kedua negara. Di satu sisi, Pyongyang berhasil meningkatkan posisi diplomatik pemimpinnya, Kim Jong Un, di panggung internasional.

Di sisi lain, Beijing dinilai sukses menarik Korea Utara semakin dekat ke dalam orbit pengaruhnya di tengah dinamika geopolitik kawasan.

Selama kunjungan dua hari tersebut, kedua negara saling melontarkan pujian dan menegaskan komitmen untuk memperdalam kerja sama bilateral. Xi disambut langsung oleh Kim Jong Un dengan penghormatan 21 tembakan salvo serta pertunjukan lagu-lagu China dan Korea Utara.


Menariknya, agenda pertemuan tidak menyinggung isu-isu sensitif seperti denuklirisasi Semenanjung Korea maupun hubungan dengan Amerika Serikat.

Direktur Program Korea di Stimson Center yang berbasis di Washington, Jenny Town, menilai kunjungan Xi menjadi kemenangan diplomatik besar bagi Kim Jong Un.

Baca Juga: Samsung Kucurkan US$175 Juta untuk Kuasai Saham Mayoritas di Perusahaan Genetika AS

“Kim sering berbicara bahwa Korea Utara kini merupakan pemain penting dalam membentuk kembali tatanan global, dan kemitraannya dengan Rusia menjadi katalis utama yang memperkuat klaim tersebut. Kini, ketika Xi memilih melakukan kunjungan luar negeri pertamanya tahun ini ke Pyongyang dengan agenda yang tidak memasukkan program nuklir Korea Utara, itu menjadi kemenangan besar bagi Kim,” ujar Town.

Isu Denuklirisasi Tak Lagi Menjadi Fokus

Absennya pembahasan mengenai denuklirisasi menandai perubahan signifikan dalam hubungan Beijing dan Pyongyang. Pada masa lalu, isu tersebut kerap menjadi sumber ketegangan di antara kedua negara.

Sehari sebelum kedatangan Xi, Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un, mengkritik Amerika Serikat yang dinilai menyebarkan informasi keliru setelah Washington pada Mei lalu menyatakan bahwa Xi dan Presiden AS Donald Trump telah menegaskan tujuan bersama untuk melakukan denuklirisasi Korea Utara dalam pembicaraan di Beijing.

Analis China dan Asia Timur Laut dari Eurasia Group, Jeremy Chan, menilai sikap Beijing menunjukkan perubahan pendekatan terhadap status nuklir Korea Utara.

“Beijing dengan sangat jelas telah meninggalkan isu tersebut dan kini secara diam-diam menerima Korea Utara sebagai negara berkekuatan nuklir. Hal itu kemungkinan menempatkan China pada posisi yang setara dengan Rusia di mata Pyongyang,” kata Chan.

Ia menambahkan, “Saya pikir China berhasil mencapai tujuan utama dari kunjungan ini, yaitu menarik Korea Utara semakin dekat dan menyeimbangkan pengaruh Rusia yang terus berkembang di negara tersebut.”

Ketika ditanya apakah Xi dan Kim membahas isu denuklirisasi, Kementerian Luar Negeri China hanya menyatakan bahwa posisi dan kebijakan Beijing terhadap Semenanjung Korea tetap konsisten dan stabil. Pemerintah China juga belum memberikan komentar apakah tidak disebutkannya isu tersebut berarti pengakuan implisit terhadap Korea Utara sebagai negara nuklir.

Hubungan Semakin Erat, tetapi Masih Ada Batasannya

Meski demikian, para analis melihat adanya perbedaan penekanan dalam pernyataan resmi kedua negara mengenai hasil pertemuan para pemimpin.

Korea Utara lebih menonjolkan kemegahan seremoni serta berupaya memosisikan diri setara dengan China. Sebaliknya, Beijing lebih banyak menyoroti peluang kerja sama di bidang perdagangan, pariwisata, hingga penegakan hukum.

Baca Juga: Penerbitan Surat Utang Terkait AI Naik Dua Kali Lipat, Bisa Capai US$ 570 Miliar

Menurut Jenny Town, hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat batas sejauh mana Korea Utara ingin mempererat hubungan dengan China setelah beberapa tahun terakhir lebih dekat dengan Rusia melalui dukungan militer dalam perang Ukraina yang dibalas dengan bantuan ekonomi dari Moskow.

“Jelas bahwa Kim dan Xi tidak memiliki kedekatan personal seperti hubungan Kim dengan Putin. Tampaknya hanya ada sedikit ikatan pribadi di antara mereka. Namun, keduanya memahami nilai strategis dari hubungan tersebut sehingga tetap memilih untuk melanjutkannya,” ujarnya.

Dukungan Korea Utara terhadap Kebijakan Satu China Jadi Sorotan

Pengamat juga menyoroti dukungan eksplisit Kim Jong Un terhadap prinsip "Satu China" (One China Policy), yakni kebijakan Beijing yang menyatakan bahwa kedua sisi Selat Taiwan merupakan bagian dari satu negara.

Selain itu, pernyataan China mengenai kerja sama militer juga dianggap sebagai perkembangan penting.

Pendiri situs NK News, Chad O'Carroll, mengatakan bahwa dukungan Korea Utara terhadap Rusia sebelumnya telah membuktikan bahwa Pyongyang mampu memberikan bantuan material kepada kekuatan besar pada masa perang.

“Dukungan Korea Utara kepada Rusia menunjukkan bahwa Pyongyang dapat memberikan bantuan material kepada negara besar saat perang berlangsung. Memang belum ada bukti komitmen serupa kepada China, tetapi sikap Korea Utara mengenai Taiwan kini menjadi jauh lebih penting dibanding sebelumnya,” katanya.

Baca Juga: Malaysia Cari Sumber Minyak Baru, Pertimbangkan Pasokan dari Afrika & Rusia

Putri Kim Jong Un Tidak Muncul dalam Kunjungan

Selain isu geopolitik, para pengamat juga mencermati absennya putri Kim Jong Un dalam kunjungan tersebut.

Sebelumnya, putri Kim yang diyakini berusia sekitar 13 tahun dan bernama Ju Ae sempat mendampingi ayahnya dalam kunjungan ke Beijing tahun lalu serta beberapa kali tampil dalam acara resmi, sehingga memunculkan spekulasi bahwa ia sedang dipersiapkan sebagai penerus kepemimpinan.

Namun, baik media pemerintah China maupun Korea Utara tidak menampilkan sosok Ju Ae dalam dokumentasi kunjungan kali ini.

Associate Professor Program China di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, Benjamin Ho, menilai absennya Ju Ae sejalan dengan gaya diplomasi Beijing.

“Mengingat Beijing sangat menjunjung tinggi protokol kenegaraan, akan terasa canggung apabila seorang gadis muda hadir di tengah para pejabat senior yang mengikuti pertemuan tersebut,” ujarnya.