Kuota Impor Gula, Daging, dan Garam di 2026 Cerminkan Produksi Lokal Belum Maksimal



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom menilai besarnya kuota impor komoditas pangan yang ditetapkan pemerintah untuk tahun ini menunjukkan persoalan struktural di bagian hulu.

Asal tahu saja, pemerintah resmi menetapkan kuota impor untuk sejumlah komoditas pangan pada 2026. Salah satunya, gula bahan industri ditetapkan sebesar 3,12 juta ton, daging sapi industri sebesar 17.097,95 ton, serta garam untuk kebutuhan industri Chlor Alkali Plant (CAP) sebesar 1,18 juta ton.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman mencermati, kebijakan penetapan kuota impor pangan 2026 pada dasarnya menegaskan bahwa kapasitas produksi domestik belum mampu memenuhi kebutuhan industri secara konsisten.


Baca Juga: KKP Moratorium Izin Kapal Pangkalan di Muara Angke Mulai Januari 2026

Menurutnya, besarnya kuota impor gula, daging sapi, dan garam industri mengindikasikan masalah struktural di hulu, mulai dari produktivitas, kualitas, hingga tata niaga yang belum terselesaikan. “Dengan begitu, impor kembali dipilih sebagai solusi jangka pendek,” ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (31/12/2025).

Adapun untuk mencapai target swasembada pangan, Rizal memandang impor untuk industri tidak otomatis bertentangan, selama pemisahan antara impor industri dan konsumsi benar-benar dikawal.

Masalahnya, lanjut Rizal, lemahnya pengawasan berisiko memicu kebocoran ke pasar konsumsi. “Hal ini pada akhirnya melemahkan insentif produksi domestik dan mereduksi kredibilitas agenda swasembada itu sendiri,” terangnya.

Rizal menambahkan, dalam jangka menengah dan panjang, kuota impor yang besar dan berulang cenderung mendistorsi insentif di sektor hulu. Sebab, kepastian impor, lanjutnya, dapat menekan ekspektasi harga dan menahan investasi petani serta peternak. Dus, ketergantungan pada impor justru berpotensi menguat dan kapasitas domestik sulit bertumbuh signifikan.

Ke depan, Rizal menilai kuota impor perlu didesain sebagai instrumen transisi yang bersyarat dan berbasis kinerja produksi dalam negeri.

Baca Juga: Kemendag Proyeksikan Ekspor 2026 Ditopang Sektor Manufaktur Berteknologi Tinggi

“Impor harus otomatis menurun seiring perbaikan produktivitas hulu, serta dikaitkan dengan kewajiban industri untuk membangun kemitraan serta investasi domestik, agar tidak berhenti sebagai solusi pragmatis tahunan,” tegasnya.

Selanjutnya: Data Ekonomi Korea Selatan Positif, Kospi Ditutup ke Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Menarik Dibaca: Lanjut Ngacir, Story (IP) Bertahan di Puncak Kripto Top Gainers 24 Jam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News