Kupon tinggi dan minimal investasi terjangkau, penawaran ORI015 bakal ramai



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Obligasi ritel Indonesia (ORI) seri ORI015 akan ditawarkan ke investor mulai 4 Oktober hingga 25 Oktober 2018. Pemerintah menetapkan kupon ORI015 sebesar 8,25% per tahun.

Para analis yakin nilai kupon yang ditetapkan untuk ORI015 sebesar 8,25% per tahun akan membuat instrumen tersebut diminati oleh banyak investor. Apalagi nilai investasi minimum yang ditetapkan cukup terjangkau oleh investor ritel, yakni sebesar Rp 1 juta.

Anil Kumar, Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Indonesia menilai, angka Rp 1 juta sudah tergolong murah bagi investor ritel, termasuk untuk investor yang masih berusia muda sekalipun. “Ketika minimum pembelian ORI masih Rp 5 juta, banyak investor yang bahkan bisa memesan hingga ratusan juta,” ujar dia, Selasa 2/10).


Karakteristik ORI015 pun sudah sesuai dengan sifat investor ritel Indonesia yang memprioritaskan instrumen yang aman namun memberikan imbal hasil yang atraktif. “Selama kuponnya menarik, volatilitas pasar obligasi tidak terlalu mempengaruhi minat investor ritel,” terang Anil.

Selain itu, ORI015 dapat diperdagangkan di pasar sekunder sehingga di samping memperoleh tawaran kupon tinggi, investor ritel juga berkesempatan mendapatkan capital gain ketika nanti menjual instrumen tersebut di pasar sekunder.

Lebih lanjut, isu soal akses transaksi obligasi ritel juga tidak lagi menjadi kendala asalkan tiap mitra distribusi beserta pemerintah terus melakukan edukasi secara menyeluruh kepada para calon investor ORI015.

Senada, Analis Fixed Income MNC Sekuritas, I Made Adi Saputra menyampaikan, semakin rendah nilai minimum pembelian ORI015, maka potensi pemerintah untuk menambah basis investor ritel akan semakin besar.

Menurut Made, ORI015 cukup likuid ketika diperdagangkan di pasar sekunder, terutama pada dua hingga tiga bulan pertama masa perdagangan.

Hal ini mengingat instrumen ORI biasanya mulai diperdagangkan di pasar sekunder pada akhir tahun. Momen tersebut biasanya dimanfaatkan oleh investor institusi yang sedang melakukan rebalancing portofolio untuk keperluan tahun depan. Di samping itu, ada pula investor ritel yang terbiasa memanfaatkan momen kenaikan harga untuk menjual ORI yang dimilikinya.

“Kombinasi ini yang membuat transaksi ORI di pasar sekunder biasanya ramai di bulan Desember sampai Februari,” kata Made.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat