Kurs Rupiah Diramal Melemah Lagi pada Akhir Pekan, Ini Alasannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah kembali ditutup melemah di perdagangan Kamis (29/2). Mata uang rupiah melanjutkan tren pelemahan yang telah terjadi dari awal pekan.

Jumat (29/2), Rupiah spot melemah sekitar 0,17% ke level Rp 15.719 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) melemah sekitar 0,27% ke level Rp15.715 per dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi melihat,rupiah melemah karena fokus saat ini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat (AS). Indeks harga Price Consumption Expenditure (PCE) sebagai ukuran inflasi pilihan The Fed akan dirilis hari ini, Kamis (29/2).


Angka tersebut diperkirakan akan menegaskan kembali bahwa inflasi AS masih stabil di bulan Januari, terutama menyusul angka inflasi konsumen yang lebih tinggi dari perkiraan pada bulan tersebut.

Baca Juga: Kompak, Rupiah Jisdor Melemah 0,27% ke Rp 15.715 Per Dolar AS Pada Kamis (29/2)

Di samping itu, komentar pejabat Fed yakni John Williams dan Raphael Bostic menambah keraguan atas ekspektasi bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada awal tahun 2024.

Dari Asia, anggota Bank of Japan (BOJ) Hajime Takata mengatakan bahwa bank sentral harus mempertimbangkan jalan keluar dari kebijakan ultra-longgarnya. Takata menyerukan diakhirinya pengendalian kurva imbal hasil dan suku bunga negatif BOJ, dengan alasan kemajuan dalam mencapai target inflasi bank sentral sebesar 2%.

Komentar Takata memicu spekulasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga secepatnya pada bulan April, sebuah gagasan yang sudah ada setelah data inflasi indeks harga konsumen yang lebih kuat dari perkiraan dirilis awal pekan ini.

Ibrahim turut melihat pelemahan rupiah dipengaruhi kekhawatiran peningkatan inflasi domestik. Inflasi Februari 2024 diperkirakan akan mencapai 0,24% secara bulanan (month to month/MtM) atau 2,62% secara tahunan (year on year/YoY), meningkat dari bulan sebelumnya yang tercatat 0,04% MtM atau 2,57% YoY.

“Inflasi pada Februari 2024 diperkirakan meningkat, baik secara tahunan maupun dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” ungkap Ibrahim dalam riset harian, Kamis (29/2).

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memandang bahwa pelemahan rupiah terjadi menjelang rilis data inflasi Indonesia pada besok Jumat (1/3).  Para investor cenderung khawatir dengan inflasi Indonesia yang meningkat akibat bahan makanan, yang memang mengalami tren peningkatan sepanjang bulan ini.

“Di antara mata uang Asia lainnya, rupiah terdepresiasi paling dalam pada hari ini,” jelas Josua kepada Kontan.co.id, Kamis (29/2).

Baca Juga: Loyo, Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,17% ke Rp 15.719 Per Dolar AS Pada Kamis (29/2)

Josua menilai, rupiah diperkirakan bergerak cenderung melemah terbatas dalam rentang Rp 15.675 - Rp 15.775 per dolar AS di perdagangan Jumat (1/3). 

Proyeksi tersebut karena melihat ekspektasi rilis data inflasi PCE AS yang diperkirakan akan cenderung mixed. Inflasi PCE inti diperkirakan menurun, namun PCE pada bulan Januari diperkirakan meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Ibrahim turut melihat adanya potensi pelemahan rupiah di perdagangan akhir pekan. Mata uang garuda diperkirakan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang  Rp 15.700 – Rp 15.750 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi