KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap tensi geopolitik di Timur Tengah. Seperti diketahui, rupiah spot terus melemah pada perdagangan Senin (21/9/2026) siang. Pukul 12.10 WIB, rupiah spot ada di level Rp 17.827 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,39% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 17.758 per dolar AS. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, tensi geopolitik tersebut turut mendorong harga minyak tetap berada di atas US$ 100 per barel. Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi global sekaligus menambah tekanan terhadap outlook fiskal.
“Pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$100 per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal,” ujar Erwin dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Baca Juga: Beban Bunga Utang Pemerintah Berpotensi Hemat Rp 10 Triliun-Rp 17 Triliun Tahun Ini Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebutuhan valuta asing (valas) importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI memastikan akan terus hadir di pasar. Erwin mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga rupiah tetap bergerak sesuai fundamentalnya. BI akan memperkuat strategi operasi moneter pro-market melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang. Selain itu, bank sentral juga akan memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan menjaga kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif. Erwin menegaskan, intervensi pasar akan dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui sejumlah instrumen. "Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," jelasnya.
Baca Juga: Kemenkeu Optimistis Imbal Hasil SBN Terjaga di Level 6,90% Hingga Akhir 2026 BI juga terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar. Langkah tersebut antara lain diarahkan untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan.
Di sisi lain, BI mendorong diversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Meski rupiah masih menghadapi tekanan, Erwin menyebut pergerakannya secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat menguat 0,37%. Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia juga masih kuat. Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa tercatat meningkat menjadi US$ 146,5 miliar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News