Kursi CEO MPS: Calon Pilihan Dewan Diragukan Bank Sentral Eropa?



KONTAN.CO.ID - Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) dikabarkan tengah menaruh perhatian serius terhadap proses pemilihan nakhoda baru di Monte dei Paschi di Siena (MPS).

Berdasarkan laporan eksklusif dari Reuters, sumber yang memahami masalah ini menyebutkan bahwa ECB meragukan pengalaman operasional Fabrizio Palermo di sektor perbankan.

Saat ini, Palermo menjabat sebagai CEO ACEA, sebuah perusahaan utilitas yang berbasis di Roma. 


Baca Juga: Bos Freeport-McMoRan Optimis Permintaan Tembaga Tetap Kuat di Tengah Perang

Pengalaman di CDP Bukan Jaminan

Nama Fabrizio Palermo mencuat sebagai pilihan utama dewan direksi MPS setelah mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan mandat CEO saat ini, Luigi Lovaglio.

Dewan direksi menilai Palermo adalah sosok terbaik dari tiga kandidat untuk mengawal proses merger strategis antara MPS dengan Mediobanca yang baru saja diakuisisi.

Rekam jejak Palermo memang mentereng, terutama saat ia memimpin lembaga negara Italia, Cassa Depositi e Prestiti (CDP) pada periode 2018-2021.

CDP sendiri mengelola tabungan pos dan berada di bawah pengawasan Bank of Italy untuk isu anti-pencucian uang, serta memiliki akses likuiditas ke ECB.

Namun, sumber Reuters menegaskan bahwa ECB tidak menganggap pengalaman di CDP setara dengan pengalaman di bank komersial.

CDP dinilai tidak memiliki lisensi perbankan dan tidak diawasi dengan protokol ketat layaknya pemberi pinjaman biasa.

Hal ini menjadi faktor krusial dalam penilaian rutin "fit and proper test" yang dilakukan ECB terhadap jajaran eksekutif puncak perbankan.

Baca Juga: Robert Mueller Meninggal Dunia, Eks Bos FBI yang Bongkar Skandal Trump-Rusia

Risiko Tata Kelola

Jika pemegang saham MPS tetap memilih Palermo pada rapat 15 April mendatang, ECB kemungkinan besar tidak akan tinggal diam.

Pengawas perbankan Eropa tersebut memiliki kewenangan untuk melampirkan syarat tambahan dalam keputusannya.

Syarat ini bersifat konkret dan memiliki kekuatan hukum tetap, yang bisa berupa kewajiban mengikuti pelatihan tambahan bagi sang CEO hingga penetapan lini masa yang ketat untuk mencapai standar kompetensi tertentu.

ECB juga mempertimbangkan kelemahan tata kelola dalam tinjauan profil risiko tahunan bank. Jika pengawasan dinilai lemah, otoritas dapat menetapkan persyaratan modal spesifik yang lebih tinggi bagi bank tersebut.

Baca Juga: Profil Nabil Fahmy, Calon Sekjen Liga Arab Pilihan Negara Arab

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News