Laba 2025 Melesat Dekati Rp 1,5 T, Analis Rekomendasi Beli Saham Blue Chip Ini



KONTAN.CO.ID - Jakarta. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat kenaikan laba bersih 27,83% dan pendapatan naik 31,3% sepanjang 2025. Simak prospek saham blue chip ini dan rekomendasi analis.

Kinerja AALI diperkirakan masih prospektif usai mencatatkan pertumbuhan laba dan pendapatan sepanjang 2025. Berdasarkan laporan keuangan terbaru, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2025 mencapai Rp 1,47 triliun, tumbuh 27,83% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode sama tahun 2024 sebesar Rp 1,15 triliun.

Kenaikan laba tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan AALI yang sepanjang 2025 mencapai Rp 28,65 triliun. Angka ini meningkat 31,3% yoy dari Rp 21,82 triliun pada 2024.


Pendapatan Ditopang Harga CPO dan Penjualan

Pertumbuhan pendapatan AALI didorong oleh kontribusi utama dari segmen minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya yang mencapai Rp 25,52 triliun, naik 26,46% yoy.

Sementara itu, pendapatan dari segmen inti dan turunannya melonjak 92,59% yoy menjadi Rp 3,12 triliun.

Direktur Astra Agro Tingning Sukowignjo menjelaskan, peningkatan kinerja keuangan pada 2025 dipengaruhi faktor eksternal dan internal.

Dari sisi eksternal, harga Crude Palm Oil (CPO) mengalami kenaikan signifikan. Rata-rata harga CPO CIF Rotterdam sepanjang 2025 mencapai US$ 1.222 per ton, naik 13% dibandingkan rata-rata 2024 sebesar US$ 1.084 per ton.

“Sementara itu, dari sisi internal, Astra Agro mencatatkan kenaikan 13,3% yoy pada penjualan CPO beserta turunannya dan 15,8% yoy pada penjualan kernel dan turunannya,” ujarnya, Senin (23/2/2026).

Selain faktor harga dan volume, perseroan juga melakukan efisiensi biaya berbasis inovasi teknologi sehingga struktur biaya menjadi lebih efektif.

Astra Agro juga melunasi pinjaman bank jangka pendek maupun panjang hingga nihil pada 2025. Langkah ini berdampak positif terhadap penurunan cost of debt dan memperkuat struktur neraca perusahaan.

Baca Juga: OJK Update Soal 32 Kasus Goreng Saham, Tak Semuanya Influencer

Prospek AALI 2026 Masih Positif

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai peningkatan kinerja AALI pada 2025 didorong oleh penguatan average selling price (ASP) CPO akibat peningkatan permintaan.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi melihat kombinasi kenaikan ASP dan efisiensi operasional menjadi kunci. Selain itu, efek El Nino yang menekan suplai global membuat harga CPO bertahan di level tinggi.

“AALI mampu memaksimalkan momentum harga tinggi ini berkat manajemen supply chain yang solid,” ujarnya.

Untuk 2026, kinerja AALI diperkirakan masih baik meski laju pertumbuhan berpotensi kembali normal karena efek basis (base effect) yang tinggi pada 2025.

Sentimen positif tahun ini antara lain:

- Implementasi program biodiesel B40/B50   - Akses ekspor tanpa tarif ke Amerika Serikat (AS)   - Permintaan kuat dari China dan India  

Namun, terdapat juga sejumlah tantangan, terutama profil usia tanaman yang menuntut percepatan replanting guna menjaga pertumbuhan volume produksi tandan buah segar (TBS).

Replanting berpotensi meningkatkan biaya, terutama pupuk, sehingga dapat menekan margin jika tidak dikelola optimal.

Tonton: Produk AS Masuk Tanpa Label Halal? Istana Buka Suara!

Rekomendasi Saham AALI dari Analis

Berikut rangkuman rekomendasi analis untuk saham AALI:

- Muhammad Wafi (KISI): Buy, target harga Rp 8.000 per saham   - Nafan Aji Gusta (Mirae Asset): Add, target harga Rp 8.700 per saham   - Herditya Wicaksono (MNC Sekuritas): Trading Buy, target Rp 7.925 – Rp 8.050 per saham  

Secara teknikal, Herditya melihat level support AALI di Rp 7.550 dan resistance di Rp 7.775 per saham. Pada perdagangan Senin 23 Februari 2025, harga saham AALI ditutup di level 7.700 naik 125 poin atau 1,65% dibandingkan sehari sebelumnya.

Dengan kombinasi fundamental yang membaik, harga CPO yang relatif tinggi, serta kebijakan biodiesel domestik, saham AALI masih dinilai menarik untuk dikoleksi, terutama bagi investor yang memburu potensi dividen.  

PURBAYA BLACKLIST PENERIMA LPDP HINA NEGARA
© 2026 Konten oleh Kontan

Selanjutnya: Bayer Gugat Johnson & Johnson Soal Obar Kanker Prostat, Apa Akar Masalahnya?

Menarik Dibaca: Pedoman Penting: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 di Sragen Demi Ibadah Sempurna

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: