KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Alamtri Energy Indonesia Tbk (
ADRO) dinilai semakin solid hingga akhir 2026. Momentum pertumbuhan laba yang menguat pada kuartal II 2026, ditopang bisnis batubara yang tetap resilien serta mulai beragamnya sumber pendapatan, menjadi alasan Maybank Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ADRO. Analis Maybank Sekuritas Indonesia Hasan Barakwan dalam riset 2 September 2026 mempertahankan rekomendasi buy untuk ADRO dengan target harga Rp 3.200 per saham. Hasan menilai momentum pertumbuhan laba ADRO masih berlanjut dan berpotensi semakin kuat pada paruh kedua tahun ini. Penguatan harga jual rata-rata batubara serta pertumbuhan volume diperkirakan menopang bisnis inti ADRO.
Baca Juga: Summit Oto Finance Kantongi Restu Merger dengan Oto Multiartha Di sisi lain, ramp-up bisnis aluminium melalui Kalimantan Aluminium Industry (KAI) mulai membuka sumber pertumbuhan baru bagi ADRO menjelang akhir tahun. "Kami mempertahankan rekomendasi buy untuk ADRO dengan target harga Rp 3.200 karena momentum laba terus menguat, didukung operasi batubara yang resilien dan basis pendapatan yang semakin terdiversifikasi," tulis Hasan dalam risetnya. Ia memperkirakan kinerja ADRO pada semester II 2026 akan semakin membaik seiring dengan harga batubara yang lebih kuat dan peningkatan volume penjualan. Pada saat yang sama, KAI mulai memasuki fase peningkatan produksi aluminium yang akan memberikan kontribusi pendapatan tambahan.
Laba ADRO Melonjak 76,9%
Kinerja ADRO sepanjang semester I 2026 menunjukkan momentum pertumbuhan yang cukup kuat. Pendapatan ADRO tercatat sebesar US$ 999 juta, naik 16,5% secara tahunan. Pertumbuhan semakin terlihat pada tingkat profitabilitas. EBITDA ADRO melonjak 56,8% YoY menjadi US$ 491 juta, sementara laba bersih melesat 76,9% secara year on year (yoy) menjadi US$ 309 juta. Realisasi tersebut masing-masing telah mencapai sekitar 52% dari proyeksi EBITDA 2026 Maybank Sekuritas dan 53,3% dari proyeksi laba bersih 2026. Kinerja tersebut juga didukung oleh akselerasi pada kuartal II 2026. Pendapatan ADRO pada periode tersebut mencapai US$ 528 juta, tumbuh 12,2% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Baca Juga: Pendapatan Adaro Andalan (AADI) Naik 6,25% Jadi US$ 2,55 Miliar pada Semester I-2026 EBITDA bahkan melonjak 50,2% secara kuartalan menjadi US$ 295 juta, sedangkan laba bersih meningkat 41,5% menjadi US$ 181 juta. Laba operasional juga tumbuh signifikan, yakni 69,6% secara kuartalan. Sejalan dengan itu, margin EBITDA meningkat menjadi 55,8% pada kuartal II 2026, dari 41,6% pada kuartal I 2026. Menurut Hasan, hasil tersebut membuat kinerja semester I 2026 ADRO secara umum masih sesuai dengan ekspektasi Maybank Sekuritas maupun konsensus pasar.
Harga Jual Batubara Kompensasi Kenaikan Strip Ratio
Dari sisi operasional, kinerja bisnis batubara ADMR juga menunjukkan perkembangan positif. Produksi batubara pada semester I 2026 mencapai 3,64 juta ton, naik 4,9% YoY. Sementara itu, volume penjualan meningkat lebih tinggi, yakni 8,7% YoY menjadi 3,13 juta ton. Salah satu penopang utama kinerja adalah kenaikan harga jual rata-rata (ASP). ASP batubara ADMR pada semester I 2026 melonjak 20,9% menjadi US$ 185,4 per ton. Kenaikan harga tersebut dinilai lebih dari cukup untuk mengimbangi peningkatan strip ratio yang mencapai 3,71 kali. Momentum operasional juga semakin kuat pada kuartal II 2026. Produksi batubara meningkat 12,9% secara kuartalan menjadi 1,93 juta ton, sedangkan penjualan tumbuh 14,4% menjadi 1,67 juta ton. ASP pada kuartal II 2026 turut menguat menjadi US$ 188,3 per ton, naik 3,3% dibandingkan kuartal I 2026 dan 24,1% YoY.
Baca Juga: Adaro Andalan Indonesia (AADI) Bersiap Bagi Dividen Tunai US$ 200 Juta Selain itu, volume pengangkutan batubara oleh SIS meningkat 11,9% secara kuartalan menjadi 17,07 juta ton. Kondisi tersebut memperkuat indikasi bahwa momentum operasional ADRO memasuki semester II 2026 masih cukup positif, meskipun perusahaan menghadapi strip ratio yang lebih tinggi. Hingga akhir 2026, Maybank Sekuritas memperkirakan pendapatan dan laba bersih ADRO akan mencapai US$ 2,2 miliar dan US$ 587 juta. Sementara di 2027 pendapatan dan laba bersih ADRO akan mencapi US$ 3,46 miliar dan US$ 649 juta.
Bisnis Aluminium Jadi Katalis Baru
Selain mengandalkan bisnis batubara, ADRO kini memiliki sumber pertumbuhan baru dari bisnis aluminium. Hasan memperkirakan kontribusi pendapatan dari penjualan aluminium melalui KAI mulai tercatat seiring dengan peningkatan produksi. Ramp-up KAI dinilai dapat memberikan tambahan mesin pertumbuhan bagi ADRO hingga akhir 2026. Diversifikasi tersebut juga berpotensi mengurangi ketergantungan ADRO terhadap siklus bisnis batubara dalam jangka panjang.
Maybank Sekuritas pun mempertahankan proyeksi laba ADRO untuk periode 2026–2028. Keputusan tersebut didasarkan pada kinerja semester I 2026 yang secara umum masih sesuai dengan proyeksi Maybank Sekuritas dan konsensus.
Baca Juga: Bos Adaro, Boy Thohir Tambah 234 Juta Saham ESSA, Kepemilikan Naik Jadi 15,91% Hasan memperkirakan momentum kinerja ADRO akan kembali menguat pada semester II 2026. Kenaikan ASP dan volume batubara akan tetap menjadi penopang bisnis inti, sementara kontribusi penjualan aluminium dari KAI berpotensi menjadi sumber pertumbuhan tambahan menjelang akhir tahun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News