Laba Amman Mineral (AMMN) Melonjak 111%, UOB KayHian Pasang Target di Rp 7.000



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menunjukkan pemulihan yang signifikan pada kuartal II 2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$ 337,8 juta, melonjak 110,9% secara kuartalan, berbalik dari rugi US$ 10 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Analis UOB KayHian Sekuritas Benyamin Mikael dalam riset 23 September 2026 mengatakan, penguatan kinerja AMMN terutama ditopang peningkatan penjualan konsentrat serta kenaikan produksi emas olahan seiring dengan ramp-up precious metals refinery (PMR).

Pada kuartal II 2026, penjualan bersih AMMN mencapai US$1,24 miliar, tumbuh 54% qoq dan melesat 589,6% secara tahunan. Kenaikan penjualan tersebut kemudian mendorong laba kotor naik 81,6% qoq menjadi US$ 622 juta.


Baca Juga: Saham Grup MNC Melemah, Investor Hadapi Fase Price Discovery Baru

Margin laba kotor pun meningkat menjadi 50% pada kuartal II 2026, dari 42,4% pada kuartal I 2026. Sementara itu, beban operasional turun 4,4% qoq menjadi US$27 juta.

Kondisi tersebut membuat laba operasional AMMN meningkat 89,3% qoq menjadi US$ 595 juta. Margin operasional juga melebar menjadi 47,8%, dari 38,9% pada kuartal sebelumnya.

“Kinerja pada paruh pertama 2026 sejalan dengan konsensus pasar dan estimasi kami,” tulis Benyamin dalam risetnya.

Secara kumulatif, laba bersih AMMN pada semester I 2026 mencapai US$ 498 juta. Capaian tersebut berbalik dari rugi US$ 149 juta pada semester I 2025 dan telah mencerminkan sekitar 43% dari estimasi laba UOB KayHian untuk 2026 serta 53% dari konsensus.

Sementara itu, EBITDA AMMN melonjak 1.207% yoy menjadi US$1,13 miliar. Benyamin menyebut kenaikan tersebut terjadi dari basis yang rendah, mengingat smelter AMMN baru kembali beroperasi pada kuartal IV 2025.

Menurut dia, kinerja AMMN pada paruh kedua tahun ini masih berpotensi solid. Hal tersebut ditopang oleh smelter dan PMR yang telah beroperasi penuh, serta produksi katoda tembaga dan emas olahan yang diperkirakan lebih banyak terealisasi pada paruh kedua tahun ini.

Baca Juga: Saham CPO Dibayangi UU Reforma Agraria, LSIP dan TAPG Jadi Pilihan Analis

Benyamin menyoroti pemulihan volume penjualan sebagai salah satu faktor penting di balik lonjakan kinerja AMMN.

Volume penjualan konsentrat pada kuartal II 2026 tercatat 90.066 dry metric tonnes (dmt), atau sekitar tiga kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya 30.013 dmt. Dengan demikian, volume penjualan konsentrat pada semester I 2026 mencapai 120.079 dmt.

Kenaikan tersebut berlangsung di bawah izin ekspor yang berlaku hingga April 2026.

Penjualan tembaga dalam konsentrat pada kuartal II 2026 juga meningkat 178,9% qoq menjadi 53 juta pound. Sementara itu, harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) naik menjadi US$7,10 per pound, dari US$5,87 per pound pada kuartal I 2026.

Untuk semester I 2026, harga jual rata-rata tembaga dalam konsentrat berada di US$ 6,80 per pound.

Penjualan emas dalam konsentrat juga meningkat 195,6% qoq menjadi 90.162 ons pada kuartal II 2026. Sepanjang semester I, volumenya mencapai 120.667 ons dengan ASP sekitar US$ 4.866 per ons.

Selain konsentrat, penjualan emas olahan turut mengalami lonjakan. Penjualan refined gold meningkat 208,6% qoq menjadi 49.501 ons pada kuartal II 2026 seiring dengan peningkatan produksi PMR.

Namun, harga jual rata-rata emas olahan turun 10,1% qoq menjadi sekitar US$ 4.619 per ons, dari US$ 5.139 per ons pada kuartal I 2026.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Consumer Staples ICBP, MYOR, CMRY dan SIDO untuk Senin (28/9)

Di sisi lain, penjualan katoda tembaga turun 34,3% qoq menjadi 18.890 ton pada kuartal II 2026. Meski demikian, secara semesteran volumenya masih tumbuh 157,3% yoy menjadi 47.654 ton.

ASP katoda tembaga pada kuartal II 2026 naik 5,8% qoq menjadi US$ 14.391 per ton. Secara semester I, ASP mencapai US$ 13.625 per ton atau meningkat 38,9% yoy.

Selain pemulihan kinerja operasional, prospek AMMN juga mendapatkan dukungan dari peningkatan panduan produksi emas dalam konsentrat.

Manajemen menaikkan panduan produksi emas dalam konsentrat tahun 2026 sebesar 34% menjadi 775.000 ons.

Benyamin menilai peningkatan panduan tersebut menjadi potensi risiko positif terhadap proyeksi laba UOB KayHian. Meski demikian, pihaknya masih mempertahankan proyeksi laba AMMN untuk 2026 dan 2027.

“Meski demikian, terdapat potensi kenaikan, seiring manajemen meningkatkan panduan produksi emas dalam konsentrat tahun 2026 sebesar 34% menjadi 775.000 ons,” tulis Benyamin.

Dari sisi sumber daya, pembaruan JORC juga memperpanjang umur tambang Batu Hijau. Cadangan bijih Batu Hijau meningkat 10,2% menjadi 777 juta ton, yang terdiri dari 5,75 miliar pound tembaga dan 5,90 juta ons emas.

Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi penggunaan asumsi harga emas US$2.500 per ons, dari sebelumnya US$1.800 per ons, sementara asumsi harga tembaga tetap US$4 per pound.

Dengan pembaruan tersebut, umur tambang Batu Hijau kini diperpanjang hingga 2031/2032, sedangkan pengolahan stockpile diproyeksikan berlangsung hingga 2033/2034.

Cadangan Elang juga meningkat 2% menjadi 2,58 miliar ton, yang terdiri dari 18,17 miliar pound tembaga dan 27 juta ons emas. Final investment decision (FID) proyek Elang ditargetkan pada 2027, dengan produksi bijih pertama diproyeksikan pada 2031/2032.

Pengembangan Elang akan memanfaatkan infrastruktur Batu Hijau yang sudah ada melalui pembangunan overland conveyor baru.

Melihat perkembangan tersebut, UOB KayHian Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham AMMN dengan target harga Rp 7.000 per saham. Harga saham AMMN turun 0,21% di level Rp 4.720 per saham. 

Target tersebut menggunakan pendekatan valuasi enterprise value to EBITDA (EV/EBITDA) 13,9 kali berdasarkan proyeksi 2026.

Benyamin menyebut multiple tersebut sejalan dengan rata-rata perusahaan sejenis di tingkat global dan domestik. Pada harga saham saat ini, AMMN diperdagangkan pada EV/EBITDA sekitar 7 kali, atau sekitar 30% lebih rendah dibandingkan rata-rata EV/EBITDA Freeport dalam enam bulan terakhir sebesar 9,1 kali.

UOB KayHian juga melihat sejumlah katalis yang dapat memengaruhi pergerakan saham AMMN, terutama volume operasional yang solid pada paruh kedua 2026, peningkatan cadangan berdasarkan pembaruan JORC, serta harga tembaga yang tetap tinggi dan berpotensi menopang kinerja laba.

Di sisi lain, sejumlah risiko yang perlu diperhatikan mencakup ketidakpastian kebijakan pemerintah, fluktuasi harga komoditas dan stabilitas nilai tukar, serta potensi keterlambatan pengembangan proyek Elang.

Selain itu, bobot AMMN dalam indeks VanEck Gold Miners ETF (GDX) juga meningkat menjadi 0,74% dari sebelumnya 0,53% dalam tinjauan semesteran September 2026. Perubahan tersebut mulai berlaku pada 18 September 2026.

Baca Juga: Levoca Enterprise Jual 3,77 Miliar Saham BNBR di Harga Rp 71 per Saham

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News