KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (
PJAA) tertekan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Meski pendapatan hanya turun 2,10% secara tahunan atau
year on year (YoY) menjadi Rp 781,77 miliar, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 56,76% YoY menjadi Rp 25,35 miliar per 30 September 2026. Laba per saham dasar pun turun menjadi Rp 16. Tim riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Sekuritas menilai, penurunan laba PJAA yang lebih dalam dibandingkan pendapatan terutama disebabkan oleh kenaikan biaya operasional.
Beban langsung perusahaan meningkat dari sekitar Rp 440 miliar menjadi Rp 463 miliar, sehingga menekan margin kotor dari 44,9% menjadi 40,8%.
Baca Juga: Rugi Turun 9,54% per Kuartal III 2026, Waskita Karya (WSKT) Lanjut Restrukturisasi Sebagian besar biaya PJAA bersifat tetap, seperti tenaga kerja, listrik, dan pemeliharaan wahana. Akibatnya, beban tersebut tidak dapat turun secara signifikan ketika pertumbuhan pengunjung melambat. Tekanan biaya juga datang dari pelemahan rupiah yang berada di kisaran Rp 17.900 per dollar AS serta tingginya harga minyak yang berpotensi meningkatkan biaya energi. Di sisi lain, ruang untuk menaikkan harga tiket relatif terbatas di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Kombinasi faktor tersebut turut menekan laba operasi PJAA yang turun 29%. Meski demikian, penurunan beban bunga menjadi sekitar Rp 49 miliar memberikan sedikit dukungan terhadap kinerja perseroan. Memasuki kuartal IV-2026, PJAA berpeluang memperoleh tambahan pendapatan dari momentum libur sekolah serta Natal dan Tahun Baru (Nataru). Secara musiman, periode tersebut menjadi salah satu momentum penting bagi pengelola destinasi rekreasi untuk meningkatkan jumlah kunjungan.
Baca Juga: Konsumsi Semen Naik per September 2026, Simak Prospek Kinerja Emiten Semen Kinerja PJAA juga menunjukkan perbaikan secara bertahap sepanjang 2026. Pada kuartal I-2026, perseroan masih mencatatkan kerugian sekitar Rp 38 miliar. Laba pada semester I-2026 baru mencapai sekitar Rp 1 miliar, sebelum meningkat menjadi sekitar Rp 24 miliar pada kuartal III-2026. Namun, momentum Nataru belum tentu cukup untuk mengatasi persoalan biaya yang membebani perusahaan. Musim hujan pada akhir tahun juga berpotensi menghambat kunjungan ke wahana luar ruang. Dengan kondisi tersebut, Wafi memperkirakan laba PJAA sepanjang 2026 masih berpotensi berada di bawah pencapaian 2025. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana juga menilai momentum Nataru dapat menjadi katalis bagi kinerja PJAA pada kuartal IV-2026. Kawasan Ancol memiliki beragam atraksi, mulai dari wahana rekreasi, pantai, hotel, restoran hingga fasilitas hiburan yang berpotensi menarik pengunjung selama liburan akhir tahun.
Baca Juga: Danantara Mulai Masuk Bursa, Cermati Saham BUMN Pilihan Analis Meski demikian, peningkatan jumlah pengunjung tidak otomatis menghasilkan kenaikan laba. Menurut Hendra, PJAA perlu meningkatkan pendapatan rata-rata per pengunjung melalui penjualan tiket, wahana berbayar, makanan dan minuman atau
food and beverage (F&B), serta penyelenggaraan acara. Paket keluarga, bundling tiket, konser, dan acara tematik dapat menjadi strategi untuk meningkatkan kunjungan sekaligus mendorong belanja pengunjung. Perusahaan juga perlu memperbarui atraksi, menjaga kebersihan dan kenyamanan kawasan, serta meningkatkan akses dan fasilitas parkir agar mampu mempertahankan minat wisatawan. Dari sisi komersial, PJAA dapat mengoptimalkan promosi pada hari kerja, program keanggotaan, serta kerja sama dengan perusahaan dan komunitas. Pendapatan dari hotel, restoran, penyewaan ruang, acara korporasi, dan kerja sama komersial juga berpotensi menjadi penopang di luar penjualan tiket.
Baca Juga: BEI Keluarkan Saham HSC dan Papan Akselerasi dari IHSG, Mampukan Meyakinkan MSCI? Hendra menekankan bahwa pengendalian biaya tetap menjadi pekerjaan rumah utama perseroan. Berdasarkan data yang disampaikan, beban pokok pendapatan dan beban langsung meningkat menjadi Rp 463,07 miliar dari Rp 440,03 miliar. Sementara itu, beban usaha naik menjadi Rp 201,90 miliar dari Rp 194,20 miliar. “Yang tidak kalah penting adalah disiplin biaya. Dengan pendapatan yang relatif stagnan sementara beban pokok pendapatan dan beban langsung meningkat menjadi Rp 463,07 miliar dari Rp 440,03 miliar serta beban usaha naik menjadi Rp 201,90 miliar dari Rp 194,20 miliar, efisiensi operasional menjadi kebutuhan mendesak. PJAA harus mengevaluasi produktivitas setiap wahana dan unit usaha agar investasi yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan tambahan pendapatan dan laba, bukan sekadar menambah biaya tetap,” tutur Hendra kepada Kontan, Kamis (22/10/2026). Untuk memperbaiki profitabilitas, PJAA perlu mengevaluasi produktivitas setiap wahana dan unit usaha, meningkatkan efisiensi energi, serta mempertimbangkan pemanfaatan panel surya untuk menekan biaya operasional. Optimalisasi aset lahan melalui pengembangan properti dan kerja sama bisnis juga dapat menjadi sumber pertumbuhan pendapatan jangka panjang.
Baca Juga: OJK Catat 5 Insiden Aset Kripto, Waspadai Penipuan Berkedok Customer Support Prospek PJAA pada 2027 Memasuki 2027, prospek PJAA masih terbuka, meski pemulihan kinerja perlu dicermati secara realistis. Salah satu katalis yang berpotensi mendukung kunjungan adalah perayaan 500 tahun Jakarta pada Juni 2027. Momentum tersebut berpeluang mendorong penyelenggaraan acara dan aktivitas wisata di kawasan Ancol. Katalis lainnya berasal dari pengembangan wahana baru, optimalisasi lahan dan properti, pertumbuhan wisatawan domestik maupun mancanegara, serta potensi penurunan beban bunga. Keunggulan Ancol sebagai kawasan wisata terpadu di Jakarta juga memberikan peluang untuk mengembangkan sumber pendapatan selain penjualan tiket. Hendra menilai, pemulihan laba dapat berlangsung lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan apabila PJAA mampu meningkatkan frekuensi kunjungan, memperbesar belanja rata-rata pengunjung, dan memperbaiki margin keuntungan. Namun, sejumlah risiko tetap perlu dicermati, antara lain daya beli masyarakat yang belum pulih, persaingan dengan destinasi wisata lain, kenaikan biaya pemeliharaan dan tenaga kerja, serta kebutuhan belanja modal dan pendanaan. Faktor cuaca juga dapat memengaruhi jumlah kunjungan, terutama pada wahana luar ruang.
Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Berencana Buyback Saham, Begini Prospeknya Selain itu, investor perlu memperhatikan pemenuhan ketentuan
free float saham. Potensi kepemilikan saham publik yang masih berada di bawah batas minimum 12,5%, dengan tenggat pemenuhan pada Maret 2027 sebagaimana disebutkan dalam bahan analisis, dapat menjadi faktor tambahan yang memengaruhi perhatian pasar terhadap saham PJAA. Hendra mengingatkan investor agar tidak hanya mengandalkan potensi kenaikan kunjungan pada 2027. Investor juga perlu mencermati apakah peningkatan aktivitas wisata benar-benar menghasilkan pertumbuhan laba dan arus kas operasional yang lebih sehat. “Untuk saham PJAA, saya merekomendasikan speculative buy dengan target harga Rp 450 per saham. Rekomendasi ini bersifat spekulatif karena potensi pemulihan kinerja dan momentum liburan akhir tahun masih harus berhadapan dengan kenyataan bahwa laba bersih sembilan bulan pertama 2026 turun tajam dan margin usaha mengalami tekanan. Daya tarik PJAA terletak pada nilai aset, pengenalan merek Ancol, serta peluang perbaikan kinerja apabila strategi komersial dan efisiensi berjalan efektif,” tutur Hendra. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News