KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Meski demikian, perusahaan masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari pelemahan penjualan emas dan harga bijih nikel. Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Harahap mencatat pendapatan ANTM mencapai Rp 88,48 triliun selama Januari-September 2026. Realisasi ini naik 22,8% secara tahunan atau
year on year (YoY). Di tengah pertumbuhan tersebut, Juan mengingatkan adanya sejumlah risiko yang berpotensi membebani kinerja ANTM pada kuartal IV-2026. Tekanan terutama berasal dari prospek harga komoditas, ditambah kondisi perusahaan asosiasi dan peningkatan utang bank.
“Pelemahan permintaan emas dan tambahan pasokan nikel setelah persetujuan RKAB dapat membebani harga pada kuartal IV-2026. Perusahaan asosiasi juga mencatatkan kerugian sebesar Rp 95 miliar pada kuartal III-2026, sementara utang bank meningkat menjadi Rp 6,30 triliun pada September 2026,” tulis Juan dalam risetnya, Kamis (28/10/2026).
Baca Juga: Widodo Makmur (WMPP) Raup Pendapatan Rp 961,9 Miliar hingga Kuartal III-2026 Adapun dari sisi profitabilitas, laba bersih ANTM tumbuh 47,9% YoY menjadi Rp 8,84 triliun. Laba kotor meningkat 41,6% menjadi Rp 15,56 triliun, sedangkan EBITDA naik 45,8% menjadi Rp 12,86 triliun. Perbaikan tersebut turut mendorong margin laba kotor ANTM menjadi 17,6% pada sembilan bulan pertama 2026, dibandingkan 15,2% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Margin laba bersih juga meningkat dari 8,3% menjadi 10%. Meski mencatatkan pertumbuhan secara tahunan, kinerja ANTM pada kuartal III-2026 mengalami koreksi dibandingkan kuartal sebelumnya. Pendapatan turun 22,8% menjadi Rp 25,77 triliun, sementara laba bersih menyusut 17,9% menjadi Rp 2,45 triliun. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya aktivitas perdagangan emas. Volume penjualan emas ANTM turun 26% secara kuartalan menjadi 7,14 ton, sedangkan harga jual rata-ratanya terkoreksi 6% menjadi US$ 4.456 per ons troi.
Pada segmen nikel, harga jual rata-rata bijih nikel juga turun 13% secara kuartalan menjadi US$ 69 per wet metric ton (wmt). Namun, tekanan harga tersebut sebagian tertahan oleh kenaikan volume penjualan bijih nikel sebesar 18% menjadi 3,96 juta wmt. Penjualan feronikel turut meningkat 33% menjadi 6.367 ton.
peningkatan volume penjualan bijih nikel menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga kinerja ANTM. Selain itu, kondisi likuiditas perusahaan masih cukup kuat untuk menopang operasional. “ANTM mempertahankan posisi kas bersih sebesar Rp 4,14 triliun per September 2026, didukung oleh kas sebesar Rp 10,54 triliun dan arus kas operasional Rp 5,06 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Peningkatan volume penjualan bijih nikel juga membantu mengimbangi pelemahan harga bijih nikel,” ujar Juan. Dengan mempertimbangkan prospek dan katalis tersebut, Juan mempertahankan rekomendasi
buy untuk saham ANTM dengan target harga Rp 4.000 per saham. Target tersebut mengindikasikan potensi kenaikan sebesar 44,4% dari harga saham ANTM sebesar Rp 2.770 saat riset diterbitkan. Valuasi menggunakan metode
discounted cash flow (DCF). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News