KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, industri asuransi jiwa mencetak kenaikan laba sebesar 27,73% secara
Year on Year (YoY), menjadi sebesar Rp 9,87 triliun per November 2025. Di sisi lain, pendapatan preminya masih terkontraksi sebesar 0,75% YoY, dengan nilai Rp 163,88 triliun. IFG Progress menilai memang ada beberapa faktor yang menyebabkan laba asuransi jiwa tetap naik, meski premi tertekan. Plt Head of IFG Progress Ibrahim Rohman berpendapat memang laba industri asuransi jiwa pada tahun lalu diselamatkan oleh kinerja hasil investasi yang positif.
Baca Juga: Transaksi BI-FAST BCA Tembus Rp 6.087 Triliun Asal tahu saja, hasil investasi industri asuransi jiwa meningkat sebesar 95,93% secara YoY, dengan nilai mencapai Rp 41,38 triliun per November 2025 "
Investment return-nya masih menyelamatkan. Tak terlepas dari karakteristik asuransi jiwa yang memang
investment dependent. Mereka sangat didukung oleh hasil investasi. Jadi, kalau hasil investasi drop, itu bisa berpengaruh (ke laba)," ungkapnya saat ditemui Kontan di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (29/1/2026). Mengenai tertekannya premi, Ibrahim menilai hal tersebut tak terlepas dari menurunnya kinerja premi dari unitlink yang menjadi penopang. Dengan menurunnya kontribusi unitlink, dia mengatakan hal itu bisa menyebabkan premi industri ikut menurun. Meskipun demikian, Ibrahim menyebut kondisi itu menunjukkan bahwa masyarakat makin tahu bahwa fungsi dari asuransi itu proteksi, bukan investasi. "Kalau mau investasi, ya, ke pasar modal atau
stock market. Bukan dua-duanya mereka pengin, proteksi dan investasi, karena fungsinya memang berbeda. Jadi, menurut saya ada proses
rebalancing dari sisi
demand dan
supply," tuturnya.
Baca Juga: BTN Optimistis Transaksi BI-Fast Tumbuh 30% Usai Layanan Request for Payment Meluncur Ibrahim menerangkan kondisi itu menunjukkan juga masyarakat sudah selektif memilih produk asuransi, yakni bergesernya pilihan dari unitlink ke proteksi. Dia menambahkan peralihan itu juga membuat masyarakat makin memahami manfaat dari produk asuransi.
"Experience studying-nya di sana," kata Ibrahim. Dari sisi perusahaan asuransi, Ibrahim menilai mereka juga akan berusaha untuk berkreasi mengeluarkan produk-produk yang relevan sesuai dengan kemampuan masyarakat dan menghasilkan produk-produk yang
sustainable. Dia mengatakan cara itu juga yang nantinya berpotensi menopang profitabilitas industri, yakni melalui sisi penyediaan produk.
"Menurut saya demikian, sambil memperbaiki
Asset Liability Management (ALM) atau Manajemen Aset dan Liabilitas dan segala macam," ucap Ibrahim.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News