Laba Bank BCA (BBCA) Tembus Rp 5 Triliun di Januari 2026, Begini Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berhasil membukukan pertumbuhan kinerja di awal tahun 2026. 

Pada Januari 2026, BBCA membukukan laba sebesar Rp 5 triliun atau tumbuh 5,8% secara tahunan  menandai awal tahun yang kuat. Pendapatan bunga bersih (NII) tercatat sedikit melemah 1% secara tahunan seiring margin bunga bersih (NIM) yang turun ke level 5,7%, mencerminkan normalisasi margin secara bertahap serta kenaikan beban bunga sebesar 8,3% secara tahunan.

Namun, pencadangan turun tajam 53,9% secara tahunan sehingga biaya kredit (credit cost) berada di level rendah 0,3%. Sementara itu, pre-provision operating profit (PPOP) meningkat 20% secara bulanan (month-on-month/MoM).


Baca Juga: Penyaluran Kredit Multiguna Perbankan Masih Lesu Hingga Akhir 2025, Ini Penyebabnya

Jeffrosenberg memperkirakan NIM akan terus menormal menuju kisaran 5,5% pada tahun 2026 dan 5,4% pada 2027, seiring ekspektasi lingkungan suku bunga yang lebih rendah.

Penyaluran kredit pada Januari 2026 terkontraksi 1,3% secara bulanan, sejalan dengan pola musiman kuartal pertama. Secara tahunan, kredit masih tumbuh 6,3% secara tahunan.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim memperkirakan, pertumbuhan kredit kembali meningkat sepanjang tahun. Ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan kredit pada tahun 2026 di kisaran 8%–10%. Likuiditas dinilai tetap memadai, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) yang turun ke 77,4% serta pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 9,4% secara tahunan, ditopang kenaikan giro sebesar 19,5% secara tahunan.

Dengan bauran portofolio yang pruden serta sikap hati-hati pada segmen kredit konsumer, kualitas aset BBCA diperkirakan tetap terjaga dan rasio kredit bermasalah (NPL) terkendali.

Karena itu, Jeffrosenberg mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 10.650 per saham. Target tersebut didasarkan pada valuasi 4,2 kali price to book value (P/BV) estimasi tahun buku 2026 (FY26E).

Menurut Jeffrosenberg, BBCA mencatat awal tahun yang solid dengan margin yang tetap tangguh serta biaya kredit yang terkendali, sehingga memperkuat keyakinan terhadap daya tahan laba BBCA. Meski demikian, ia mengingatkan sejumlah risiko utama, yakni potensi pelemahan lebih lanjut pada kualitas aset konsumer serta kenaikan beban operasional yang lebih tinggi dari perkiraan.

Baca Juga: BFI Finance (BFIN) Tutup Usaha Fintech P2P Lending

Meski profitabilitas tetap kuat dengan return on average equity (ROAE) sebesar 21,3% pada Januari 2026 serta kualitas aset yang solid, valuasi forward P/BV BBCA saat ini masih berada di bawah rata-rata historisnya.

Jeffrosenberg memperkirakan pertumbuhan laba akan kembali ke level high-single digit pada tahun 2026, didukung margin yang stabil, biaya kredit rendah di kisaran 0,4%–0,5%, serta likuiditas yang kuat.

“Dalam pandangan kami, hal ini mendukung premi valuasi BBCA yang berkelanjutan dibandingkan dengan para pesaingnya,” ujar Jeffrosenberg.

Selanjutnya: Tabel Harga Emas Antam 23 Februari 2026 - Cek Semua Ukuran Naik 0,5%

Menarik Dibaca: Harga Emas Dunia Lanjut Naik di atas US$ 5.100, Terpicu Tarif AS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News