Laba Bank Besar Diproyeksi Tumbuh pada Kuartal III-2026, Ini Saham Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja laba bank-bank besar atau big banks pada kuartal III-2026 diproyeksikan masih tumbuh positif. Padahal, perbankan menghadapi tantangan perlambatan kredit, tekanan biaya dana, dan pemulihan permintaan kredit yang belum merata. 

Hingga Agustus 2026, secara bank only, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memimpin kinerja laba bersih dengan catatan pertumbuhan 22,41% secara tahunan menjadi Rp 37,48 triliun. 

Menyusul dua bank pelat merah lainnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencetak pertumbuhan laba 6,89% secara year-on-year (yoy)  menjadi Rp 14,32 triliun dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 6,63% yoy menjadi Rp 32,61 triliun. 


Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kian tertinggal dengan catatan pertumbuhan 2,85% yoy menjadi Rp 40,17 triliun. 

Baca Juga: AXA Mandiri Intip Peluang Inovasi Hadirkan Produk Unitlink Berbasis ETF Emas

Melihat hasil tersebut, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya memperkirakan kelompok big banks masih bakal mencetak hasil positif untuk pertumbuhan laba kumulatif sembilan bulan pertama 2026.

Dalam kalkulasinya laba agregat empat bank besar alias big banks tumbuh 9,5% yoy dalam periode Januari-Agustus 2026. Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan 8,7% pada periode Januari-Juli 2026.

Nah untuk realisasi September 2026, Andrey melihat BMRI menjadi bank dengan peluang terbesar untuk mempertahankan pertumbuhan laba dua digit. BBNI dan BBRI masih berpeluang mempertahankan pertumbuhan laba di level satu digit menengah.

“Repricing kredit menjadi peluang bagi BMRI, sedangkan pemulihan kualitas kredit mikro penting bagi BBRI,” sebut Andrey saat dihubungi Kontan, Jumat (9/10/2026).

Untuk BBCA, Andrey memperkirakan masih mencatatkan pertumbuhan laba di level low single digit. Meski demikian, ia menyoroti pertumbuhan laba BBCA yang menunjukkan perbaikan dari 1,6% pada Juli 2026.

Di sisi lain, Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, kinerja bank-bank besar pada kuartal III-2026 masih menghadapi tantangan dari perlambatan pertumbuhan kredit hingga Agustus, tekanan biaya dana, serta permintaan kredit yang belum sepenuhnya kuat.

Hendra memandang BBCA berpotensi mempertahankan pertumbuhan laba moderat. Keunggulan dana murah alias current account saving account (CASA), kualitas aset yang relatif terjaga, serta pendapatan transaksi menjadi penopang kinerja bank tersebut.

Baca Juga: Bunga Deposito Bank Digital Menggiurkan Hingga 9%, Awas Tak Masuk Jaminan LPS

Di luar itu, ia bilang besarnya basis laba BBCA membuat pertumbuhan secara persentase semakin menantang, terutama ketika ekspansi kredit dan pendapatan nonbunga belum cukup kuat untuk mengakselerasi laba.

Katalis Sisa Tahun

Memasuki kuartal IV-2026, pertumbuhan laba bank akan ditentukan oleh kemampuan menjaga margin bunga bersih atau net interest margin (NIM), memperkuat dana murah, serta mengendalikan biaya kredit.

Andrey menyebut, sejumlah pendorong laba hingga akhir tahun antara lain pertumbuhan kredit, peningkatan CASA, pemulihan margin bunga, pendapatan komisi, dan biaya kredit yang terkendali.

Hendra sepakat bank perlu meningkatkan porsi dana murah untuk menekan biaya dana. Di luar itu, penyaluran kredit juga perlu dilakukan secara selektif ke sektor produktif. 

Efisiensi operasional dan pengendalian kualitas aset juga menjadi faktor penting. Sebab, pertumbuhan kredit yang tinggi belum tentu menghasilkan pertumbuhan laba yang sepadan apabila tak diikuti kualitas penyaluran kredit yang baik dan efisiensi biaya.

Adapun katalis kinerja perbankan hingga akhir tahun mencakup stabilitas rupiah, arah suku bunga Bank Indonesia (BI), likuiditas pemerintah, serta stimulus konsumsi. Sebaliknya, kenaikan biaya dana dan pencadangan menjadi risiko yang perlu dicermati.

Dari sisi investasi, Andrey memilih BBCA dan BBRI sebagai saham pilihan utama di antara big banks. BMRI juga dinilai menarik karena momentum pertumbuhan labanya.

Baca Juga: Dampak PHK ke Rasio Kredit Macet Perbankan Diprediksi Terasa pada 2027

RHB Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk keempat saham tersebut. Target harga BBCA dipatok Rp 7.740 per saham, BBRI Rp 3.600 per saham, BMRI Rp 5.420 per saham, dan BBNI Rp 4.560 per saham.

Sementara itu, Hendra menyarankan strategi buy on weakness untuk BMRI pada kisaran Rp 3.900-Rp 3.960 per saham, dengan target harga Rp 4.400 per saham. Untuk BBCA, strategi buy on weakness disarankan pada kisaran Rp 5.900-Rp 6.000 per saham, dengan target Rp 6.400 per saham.

Adapun untuk BBRI, Hendra menyarankan strategi sell on strength dengan target acuan Rp 2.910 per saham selama tekanan jual masih dominan dan pemulihan kualitas kredit mikro belum menunjukkan perkembangan meyakinkan. Untuk BBNI, investor disarankan menunggu konfirmasi perbaikan pertumbuhan laba, kualitas kredit, dan momentum harga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: