Laba Bank Besar Diproyeksi Tumbuh Positif pada Kuartal I-2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Memasuki dua bulan pertama tahun 2026, kinerja laba bank-bank besar di Indonesia menunjukkan tren yang beragam. Sebagian bank mampu mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan akhir tahun lalu, sementara lainnya justru mengalami perlambatan.

Kondisi ini diproyeksikan menjadi gambaran profitabilitas sektor perbankan pada kuartal I-2026.

Dari kelompok bank berkapitalisasi besar (KBMI IV), Bank Central Asia (BCA) mencatatkan pertumbuhan laba paling terbatas hingga Februari 2026, yakni sebesar 2,81% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 9,2 triliun. Capaian ini melambat dibandingkan pertumbuhan 8,43% yoy pada periode yang sama tahun sebelumnya dan 4,1% yoy pada akhir 2025.


Perlambatan laba BCA sejalan dengan peningkatan beban bunga yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan bunga. Hal ini menekan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang terkoreksi 0,16% yoy menjadi Rp 12,85 triliun.

Selain itu, pertumbuhan kredit juga melambat menjadi 5,84% yoy atau sebesar Rp 953,22 triliun, jauh di bawah pertumbuhan 13,98% yoy pada tahun sebelumnya.

EVP Corporate Communication BCA Hera F. Heryn menjelaskan bahwa penyaluran kredit dipengaruhi berbagai faktor eksternal, seperti dinamika global, kondisi geopolitik, dan sentimen pasar. Kendati demikian, manajemen tetap optimistis terhadap prospek bisnis ke depan.

Baca Juga: BTN Klaim NPL Konsumer Tetap Terjaga Usai Lebaran

“Ditopang prospek pertumbuhan ekonomi yang positif dan likuiditas yang solid, BCA optimistis menjaga penyaluran kredit di berbagai sektor,” ujar Hera.

Selanjutnya, Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 3,67% yoy. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 8,28% yoy pada periode yang sama tahun lalu, namun membaik dibandingkan kontraksi 0,4% yoy pada akhir tahun.

BNI sebenarnya berhasil meningkatkan NII sebesar 14,2% yoy menjadi Rp 6,96 triliun, serta pendapatan berbasis komisi, provisi, dan fee sebesar 10,89% yoy menjadi Rp 1,75 triliun. Namun, kinerja laba tertekan oleh lonjakan pencadangan (impairment) yang meningkat 51,91% yoy menjadi Rp 1,47 triliun.

Di sisi lain, Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatatkan pertumbuhan laba tertinggi di antara bank besar lainnya, yakni sebesar 17,05% yoy menjadi Rp 7,73 triliun. Capaian ini berbalik dari kontraksi laba 18% yoy pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan laba BRI didorong oleh penurunan beban bunga sebesar 15,21% yoy, yang turut mengerek NII naik 4,83% yoy menjadi Rp 19,14 triliun. Selain itu, efisiensi operasional juga terlihat dari penurunan impairment sebesar 15,77% yoy menjadi Rp 7,54 triliun.

Kinerja positif juga ditunjukkan oleh Bank Mandiri yang membukukan pertumbuhan laba sebesar 16,7% yoy menjadi Rp 8,9 triliun. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan pertumbuhan 6% yoy pada periode yang sama tahun sebelumnya dan 0,93% yoy pada akhir 2025.

Baca Juga: Asippindo Beberkan Tantangan yang Pengaruhi Laba Penjaminan pada 2026

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebut, pertumbuhan ini ditopang oleh penguatan fungsi intermediasi, peningkatan aktivitas transaksi, serta akselerasi digitalisasi layanan.

“Meningkatnya aktivitas transaksi digital masyarakat melalui aplikasi digital mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi,” kata Novita.

Dari sisi intermediasi, kredit Bank Mandiri tumbuh double digit sebesar 15,7% yoy menjadi Rp 1.513 triliun. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi dari dua aplikasi digital masing-masing meningkat 45,3% yoy menjadi Rp 625 miliar dan 29,3% yoy menjadi Rp 421 miliar.

Prospek dan Tantangan ke Depan

Analis Kiwoom Sekuritas Adrian Djie menilai kinerja laba perbankan pada kuartal I-2026 akan mengikuti tren dua bulan pertama tahun ini. BRI diuntungkan oleh basis rendah tahun sebelumnya (low base effect), sementara Bank Mandiri didorong oleh akselerasi digital. Di sisi lain, BCA menghadapi perlambatan kredit, dan BNI terbebani oleh pencadangan besar.

Secara umum, normalisasi biaya pencadangan serta efisiensi biaya dana diperkirakan menjadi katalis utama pertumbuhan laba ke depan. Selain itu, pertumbuhan kredit yang mencapai 9,37% yoy—mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK)—dinilai masih sejalan dengan target industri sebesar 8%–12% hingga akhir tahun.

Namun demikian, efektivitas stimulus fiskal tetap menjadi faktor krusial dalam mendorong permintaan kredit.

“Seberapa besar bisa mendongkrak daya beli, mengingat pemulihan daya beli ril merupakan kunci utama untuk mengakselerasi permintaan kredit secara berkelanjutan,” jelas Adrian.

Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Melemah pada Perdagangan Hari Ini, Senin (6/4/2026)

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan, perbedaan strategi masing-masing bank turut memengaruhi kinerja laba. Bank Mandiri dan BRI yang fokus pada kredit korporasi dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan, sementara BCA dan BNI cenderung lebih konservatif dalam menjaga kualitas aset.

Ke depan, Nico memproyeksikan Bank Mandiri dan BRI masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba double digit pada kuartal I, sementara BCA dan BNI tumbuh lebih terbatas.

Memasuki kuartal II-2026, perbankan dinilai perlu strategi yang lebih kuat agar tidak hanya mengandalkan faktor musiman seperti Lebaran dan libur panjang.

“Supaya tidak mengandalkan siklus musiman seperti lebaran dan liburan,” katanya.

Ia juga menilai insentif makroprudensial dari Bank Indonesia berpotensi menjadi katalis positif, terutama jika didukung oleh percepatan proyek pemerintah dan swasta yang dapat meningkatkan aktivitas ekonomi serta penyaluran kredit.

Dari sisi pasar, Nico melihat tekanan terhadap saham perbankan masih ada, meskipun tren pelemahan mulai mereda.

“Tinggal bagaimana bank melakukan mitigasi ke depannya,” pungkas Nico.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News