Laba Bank Besar Hingga September 2026 Masih Tumbuh, Tapi Margin Bunga Mulai Tergerus



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Profitabilitas perbankan mulai menghadapi tantangan di tengah kenaikan biaya dana atau cost of fund (CoF) dan penyusutan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Meski demikian, sejumlah bank besar masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba hingga kuartal III-2026.

Tekanan margin ini terjadi ketika pertumbuhan kredit perbankan masih lebih tinggi dibandingkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan tumbuh 13,65% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 9.178 triliun pada Agustus 2026. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 13,58%.

Namun, pertumbuhan DPK justru melambat dari 11,21% pada Juli menjadi 10,94% pada Agustus 2026 mencapai Rp 10.413 triliun. Meski begitu, laju pertumbuhan kredit dan DPK sama-sama lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


Baca Juga: Ketidakpastian Ekonomi Tekan Kinerja Industri Reasuransi

Di sisi lain, biaya pendanaan perbankan meningkat. OJK mencatat suku bunga tertimbang DPK rupiah naik 7 basis poin secara bulanan pada Agustus 2026, terutama didorong kenaikan bunga deposito sebesar 10 basis poin. Sementara itu, suku bunga tertimbang kredit rupiah hanya naik 3 basis poin secara bulanan.

Kondisi tersebut turut menekan NIM industri perbankan. OJK mencatat NIM perbankan pada Agustus 2026 sebesar 4,31%, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,58%.

Tekanan serupa terlihat pada kinerja sejumlah bank besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), misalnya, membukukan laba bersih konsolidasi Rp 45,2 triliun pada kuartal III-2026, tumbuh 4,2% YoY dari Rp 43,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di tengah pertumbuhan laba tersebut, NIM BCA berdasarkan data yang disampaikan tercatat 5,4% pada September 2026, turun dari 5,8% pada September 2025.

Dari sisi intermediasi, kredit BCA mencapai Rp 1.063 triliun, tumbuh 12,6% YoY. Sementara itu, DPK meningkat 8% menjadi Rp 1.301 triliun. Dana murah atau current account savings account (CASA) juga tumbuh 10,4% menjadi Rp 1.103 triliun.

Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba bersih konsolidasi Rp 45,5 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 20,7% YoY. Secara bank only, kredit Bank Mandiri mencapai Rp 1.605,8 triliun per September 2026, meningkat 16% YoY. Adapun DPK tumbuh 17,7% menjadi Rp 1.750,2 triliun.

Namun, NIM Bank Mandiri pada September 2026 tercatat 4,43%, turun dari 4,78% pada September 2025.

Baca Juga: Avrist Sebut Prospek Unitlink Kuartal IV-2026 Masih Dipengaruhi Kondisi Pasar

Adapun PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) membukukan laba bersih Rp 16,1 triliun pada kuartal III-2026, tumbuh 6,6% YoY. Kredit BNI meningkat 22,2% menjadi Rp 992,5 triliun, sedangkan DPK tumbuh 20,4% menjadi Rp 1.124,58 triliun.

NIM BNI tercatat 3,5% pada September 2026, turun dari 3,8% pada September 2025. Meski demikian, biaya dana BNI relatif terkendali, dengan CoF sebesar 2,77%, lebih rendah dibandingkan 2,83% pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan, NIM BCA secara kuartalan justru membaik dari 5,3% pada kuartal II-2026 menjadi 5,6% pada kuartal III-2026. Menurut dia, perbaikan tersebut ditopang pertumbuhan kredit produktif dan pengelolaan biaya dana yang relatif stabil.

Per September 2026, kredit produktif BCA mencapai Rp 831 triliun, tumbuh 17,2% YoY. Pertumbuhan tersebut ditopang kredit korporasi yang naik 20,9%, kredit komersial 7,8%, serta kredit usaha kecil dan menengah (UKM) sebesar 15,4%.

Vera juga menyebut CASA BCA tumbuh 10,4% YoY, dengan giro meningkat 14,9% dan tabungan naik 7,4%. 

"Kami memandang dengan pertumbuhan kredit, NIM ini akan terjaga dikisaran yang tidak jauh berbeda dari kuartal ketiga," imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan perseroan akan menjaga kinerja hingga akhir tahun melalui tiga fokus utama, yakni penyaluran kredit secara selektif, penghimpunan dana murah berbasis transaksi, serta digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas.

Baca Juga: Rasio Permodalan Bank Besar Menyusut, Begini Prospeknya hingga Akhir 2026

Bank Mandiri juga akan mengevaluasi target pertumbuhan dengan mempertimbangkan realisasi kinerja, kondisi pasar, prospek bisnis, likuiditas, dan kualitas aset.

Di BNI, Direktur Finance & Strategy Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan penurunan NIM menjadi 3,5% terutama dipengaruhi penyesuaian imbal hasil kredit (loan yield) dari 7,3% menjadi 6,9%. Sementara itu, CoF relatif terkendali berkat pertumbuhan CASA yang kuat.

BNI menargetkan NIM sebesar 3,5% pada 2026, dengan pertumbuhan kredit diproyeksikan berada di kisaran 10%-13%.

Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai kinerja bank-bank besar hingga sembilan bulan pertama 2026 masih cukup solid, meskipun tekanan margin bunga mulai terlihat.

Menurut dia, kenaikan biaya pendanaan akibat persaingan likuiditas menjadi salah satu faktor yang membatasi pertumbuhan pendapatan bunga bersih. Namun, pertumbuhan kredit, pendapatan nonbunga, dan pengendalian biaya masih menjadi penopang laba.

Andrey menilai, tekanan NIM belum tentu mencerminkan pelemahan fundamental bisnis perbankan. Pemulihan profitabilitas ke depan akan semakin bergantung pada stabilisasi biaya dana dan kemampuan bank menyesuaikan imbal hasil kredit.

Untuk kuartal IV-2026, Andrey memperkirakan pertumbuhan laba bank-bank besar masih positif, meskipun tekanan NIM berpotensi berlanjut hingga awal 2027. Target pertumbuhan kredit Bank Mandiri sebesar 9%-11% dan BNI sebesar 10%-13% dinilai masih realistis, didukung permintaan kredit korporasi dan aktivitas investasi.

Baca Juga: Rasio Permodalan Bank Besar Menyusut, Begini Prospeknya hingga Akhir 2026

Dari sisi investasi, RHB Sekuritas mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor perbankan, dengan preferensi pada bank yang memiliki likuiditas kuat, struktur CASA tinggi, dan kualitas aset terjaga. RHB mempertahankan rekomendasi buy untuk Bank Mandiri dengan target harga Rp 4.730, sedangkan BCA tetap menjadi pilihan utama karena kekuatan dana murah, likuiditas, dan kualitas asetnya.

Adapun katalis utama sektor perbankan mencakup pertumbuhan kredit, stabilisasi biaya dana, dan pemulihan arus dana asing. Sementara itu, risiko yang perlu dicermati meliputi pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga, tekanan NIM, serta potensi peningkatan kredit bermasalah.

Senada, Head of Online Trading BCA Sekuritas Achmad Yaki menilai, secara umum kinerja sebagian besar bank besar hingga kuartal III-2026 sudah sejalan dengan atau memenuhi ekspektasi konsensus pasar. Namun, kinerja tersebut masih dibayangi tekanan pada margin bunga akibat tingginya biaya dana.

Menurut Achmad, sejumlah faktor masih menopang kinerja perbankan, antara lain pertumbuhan kredit yang agresif tetapi selektif, ekspansi ekosistem bisnis, digitalisasi, serta penguatan dana murah atau CASA.

Di sisi lain, tekanan NIM, volatilitas makroekonomi, pergerakan suku bunga bank sentral, dan perlambatan kredit pada sektor tertentu menjadi faktor yang menahan kinerja.

Baca Juga: MSIG Life Catatkan Pertumbuhan APE 7% Menjadi Rp 790 Miliar pada Semester I-2026

Achmad melihat pertumbuhan laba bank secara tahunan masih positif, meskipun laju pertumbuhannya cenderung melandai secara kuartalan. Kondisi ini lebih mencerminkan perlambatan pertumbuhan laba atau growth rate deceleration, bukan penurunan kinerja operasional secara keseluruhan.

Menurut dia, tekanan tersebut terutama terjadi karena kemampuan bank menghasilkan laba dari aktivitas intermediasi tergerus oleh penyusutan margin bunga.

Secara fundamental, Bank Mandiri dan BNI dinilai masih menunjukkan kinerja yang kuat hingga kuartal III-2026. Bank Mandiri, misalnya, ditopang pasokan likuiditas yang memadai berkat pertumbuhan pendanaan yang mampu mengimbangi laju kredit. Pertumbuhan kredit yang tinggi juga belum diikuti lonjakan biaya pencadangan.

Achmad memperkirakan bank-bank besar masih berpeluang mencatatkan kinerja positif pada kuartal IV-2026, meskipun pertumbuhan laba berpotensi melandai dan berada pada level satu digit.

Ia menilai kebijakan pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap mulai November 2026 diharapkan dapat membantu meredam tekanan biaya dana atau CoF, sehingga mendukung perbaikan profitabilitas perbankan.

Dari sisi rekomendasi saham, BCA Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk BNI dengan target harga Rp 5.690, Bank Mandiri Rp 6.500, dan BRI Rp 4.400. Sementara itu, saham BCA memperoleh rekomendasi trading buy dengan target harga Rp 6.850.

Baca Juga: Bank of India Indonesia (BSWD) Kaji Pemenuhan Free Float 15%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News