KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Delapan bulan berjalan di 2026, industri perbankan masih mampu menjaga pertumbuhan laba. Sejumlah bank besar mencatatkan kenaikan laba, meski ruang pertumbuhan ke depan masih menghadapi tantangan dari tingginya biaya dana dan likuiditas yang relatif ketat. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi salah satu bank dengan pertumbuhan laba paling tinggi. Secara bank only, Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp 37,49 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 22,3% secara tahunan dari Rp 30,65 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Mengutip laporan keuangan bulanannya pada Rabu (16/9), pertumbuhan laba Mandiri tersebut sejalan dengan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang naik 7,15% yoy menjadi Rp 54,84 triliun. Pendapatan komisi, provisi, fee dan administrasi juga tumbuh 21,95% yoy menjadi Rp 15,53 triliun. Baca Juga: Praktik STNK Only Berpotensi Timbulkan Risiko Hukum bagi Konsumen dan Multifinance Adapun hingga Agustus 2026, fee-based income (FBI) tumbuh 12,9% yoy, ditopang recurring fee dari Livin’ dan Kopra. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, pencapaian tersebut menjadi landasan bagi perseroan untuk terus menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. “Ke depan, kami akan menjaga kualitas intermediasi sekaligus memperkuat kapabilitas digital Bank Mandiri. Langkah ini kami jalankan agar dapat terus memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional dan menghadirkan layanan perbankan yang nyaman bagi nasabah,” ujar Novita dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (16/9/2026). Di sisi lain, beban impairment Mandiri meningkat 23,57% yoy menjadi Rp 5,55 triliun. Meski beban pencadangan meningkat, laba operasional Mandiri tetap tumbuh 22,74% yoy menjadi Rp 46,06 triliun. Dari sisi intermediasi, kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp 1.592,2 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 17,64% yoy. DPK juga naik 17,56% yoy menjadi Rp 1.687,22 triliun. Pertumbuhan DPK ditopang oleh kenaikan deposito yang melonjak 47,77% yoy menjadi Rp 501,44 triliun. Sementara itu, giro tumbuh 5,51% yoy menjadi Rp 623,09 triliun dan tabungan naik 11,36% yoy menjadi Rp 562,69 triliun. Berikutnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) secara bank only, mencatat laba bersih mencapai Rp 14,32 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 6,89% yoy. Baca Juga: 13 Bank Sudah Masuk Asset Registry Multifinance, OJK Ungkap Manfaat dan Risikonya Mengutip laporan keuangan bulanannya pada Rabu (16/9), NII BNI masih tumbuh dua digit, yakni 14,33% yoy menjadi Rp28,87 triliun. Pendapatan komisi, provisi, fee dan administrasi juga meningkat 11,62% yoy menjadi Rp 7,46 triliun. Namun, beban impairment BNI naik 26,9% yoy menjadi Rp5,92 triliun. Laba operasional bank tumbuh 9,56% yoy menjadi Rp 17,72 triliun. Dari sisi intermediasi, kredit BNI secara bank only tumbuh 27,14% yoy menjadi Rp 977,17 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut diikuti DPK yang naik 29,4% yoy menjadi Rp1.124,71 triliun. Kenaikan DPK terutama oleh deposito meningkat 63,75% menjadi Rp 389,94 triliun. Adapun giro tumbuh 20,76% yoy menjadi Rp 442,62 triliun dan tabungan naik 10,46% yoy menjadi Rp 292,13 triliun. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat pertumbuhan laba yang lebih tipis. Secara bank only, BCA membukukan laba bersih Rp 40,17 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 2,85% yoy. Mengutip laporan keuangan bulanannya pada Rabu (16/9), NII BCA hanya meningkat 1,33% yoy menjadi Rp 53,82 triliun. Meski begitu, pendapatan komisi, provisi, fee dan administrasi masih tumbuh 7,74% yoy menjadi Rp 13,59 triliun. Di sisi pencadangan, beban impairment BCA justru turun 18,55% yoy menjadi Rp 2,16 triliun. Laba operasional BCA pun masih tumbuh 2,72% yoy menjadi Rp 49,36 triliun. Dari sisi intermediasi, kredit BCA bank only mencapai Rp 1.017,7 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 10,52% yoy. Di tengah pertumbuhan kredit tersebut, DPK BCA naik 8,33% yoy menjadi Rp 1.256,83 triliun. Pertumbuhan DPK BCA lebih banyak berasal dari dana murah dengan giro meningkat 14,73% menjadi Rp 447,51 triliun dan tabungan tumbuh 8,2% menjadi Rp 626,70 triliun. Sementara itu, deposito justru turun 4,3% menjadi Rp 182,63 triliun. Direktur BCA, Vera Eve Lim menargetkan kredit tumbuh mendekati 10% hingga akhir 2026. Pertumbuhan kredit diperkirakan masih ditopang segmen korporasi, komersial, dan UKM.
Laba Bank Besar Masih Tumbuh hingga Agustus 2026, Siapa yang Paling Tinggi?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Delapan bulan berjalan di 2026, industri perbankan masih mampu menjaga pertumbuhan laba. Sejumlah bank besar mencatatkan kenaikan laba, meski ruang pertumbuhan ke depan masih menghadapi tantangan dari tingginya biaya dana dan likuiditas yang relatif ketat. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi salah satu bank dengan pertumbuhan laba paling tinggi. Secara bank only, Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp 37,49 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 22,3% secara tahunan dari Rp 30,65 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Mengutip laporan keuangan bulanannya pada Rabu (16/9), pertumbuhan laba Mandiri tersebut sejalan dengan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang naik 7,15% yoy menjadi Rp 54,84 triliun. Pendapatan komisi, provisi, fee dan administrasi juga tumbuh 21,95% yoy menjadi Rp 15,53 triliun. Baca Juga: Praktik STNK Only Berpotensi Timbulkan Risiko Hukum bagi Konsumen dan Multifinance Adapun hingga Agustus 2026, fee-based income (FBI) tumbuh 12,9% yoy, ditopang recurring fee dari Livin’ dan Kopra. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, pencapaian tersebut menjadi landasan bagi perseroan untuk terus menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. “Ke depan, kami akan menjaga kualitas intermediasi sekaligus memperkuat kapabilitas digital Bank Mandiri. Langkah ini kami jalankan agar dapat terus memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional dan menghadirkan layanan perbankan yang nyaman bagi nasabah,” ujar Novita dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (16/9/2026). Di sisi lain, beban impairment Mandiri meningkat 23,57% yoy menjadi Rp 5,55 triliun. Meski beban pencadangan meningkat, laba operasional Mandiri tetap tumbuh 22,74% yoy menjadi Rp 46,06 triliun. Dari sisi intermediasi, kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp 1.592,2 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 17,64% yoy. DPK juga naik 17,56% yoy menjadi Rp 1.687,22 triliun. Pertumbuhan DPK ditopang oleh kenaikan deposito yang melonjak 47,77% yoy menjadi Rp 501,44 triliun. Sementara itu, giro tumbuh 5,51% yoy menjadi Rp 623,09 triliun dan tabungan naik 11,36% yoy menjadi Rp 562,69 triliun. Berikutnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) secara bank only, mencatat laba bersih mencapai Rp 14,32 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 6,89% yoy. Baca Juga: 13 Bank Sudah Masuk Asset Registry Multifinance, OJK Ungkap Manfaat dan Risikonya Mengutip laporan keuangan bulanannya pada Rabu (16/9), NII BNI masih tumbuh dua digit, yakni 14,33% yoy menjadi Rp28,87 triliun. Pendapatan komisi, provisi, fee dan administrasi juga meningkat 11,62% yoy menjadi Rp 7,46 triliun. Namun, beban impairment BNI naik 26,9% yoy menjadi Rp5,92 triliun. Laba operasional bank tumbuh 9,56% yoy menjadi Rp 17,72 triliun. Dari sisi intermediasi, kredit BNI secara bank only tumbuh 27,14% yoy menjadi Rp 977,17 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut diikuti DPK yang naik 29,4% yoy menjadi Rp1.124,71 triliun. Kenaikan DPK terutama oleh deposito meningkat 63,75% menjadi Rp 389,94 triliun. Adapun giro tumbuh 20,76% yoy menjadi Rp 442,62 triliun dan tabungan naik 10,46% yoy menjadi Rp 292,13 triliun. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat pertumbuhan laba yang lebih tipis. Secara bank only, BCA membukukan laba bersih Rp 40,17 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 2,85% yoy. Mengutip laporan keuangan bulanannya pada Rabu (16/9), NII BCA hanya meningkat 1,33% yoy menjadi Rp 53,82 triliun. Meski begitu, pendapatan komisi, provisi, fee dan administrasi masih tumbuh 7,74% yoy menjadi Rp 13,59 triliun. Di sisi pencadangan, beban impairment BCA justru turun 18,55% yoy menjadi Rp 2,16 triliun. Laba operasional BCA pun masih tumbuh 2,72% yoy menjadi Rp 49,36 triliun. Dari sisi intermediasi, kredit BCA bank only mencapai Rp 1.017,7 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 10,52% yoy. Di tengah pertumbuhan kredit tersebut, DPK BCA naik 8,33% yoy menjadi Rp 1.256,83 triliun. Pertumbuhan DPK BCA lebih banyak berasal dari dana murah dengan giro meningkat 14,73% menjadi Rp 447,51 triliun dan tabungan tumbuh 8,2% menjadi Rp 626,70 triliun. Sementara itu, deposito justru turun 4,3% menjadi Rp 182,63 triliun. Direktur BCA, Vera Eve Lim menargetkan kredit tumbuh mendekati 10% hingga akhir 2026. Pertumbuhan kredit diperkirakan masih ditopang segmen korporasi, komersial, dan UKM.
TAG: