KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Musim rilis laporan keuangan perbankan kuartal I-2026 dibuka dengan sinyal pemulihan, khususnya di kelompok bank bermodal inti besar (KBMI 4). Perbaikan kualitas aset yang menekan biaya provisi menjadi faktor utama yang mendorong kinerja industri. PT Bank Mandiri Tbk menjadi pembuka dengan kinerja yang melampaui ekspektasi pasar. Bank berkode saham BMRI ini membukukan laba bersih Rp 15,4 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 16,6% secara tahunan dan di atas proyeksi konsensus analis sebesar Rp 14,2 triliun.
Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan pendapatan dan efisiensi pencadangan. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) naik 11,3% menjadi Rp 25 triliun, sementara pendapatan nonbunga tumbuh 6,06% ke Rp 11,3 triliun.
Baca Juga: Laba Bank Besar 2025 Masih Tumbuh, BCA Cetak Tertinggi Rp 57,5 Triliun Di sisi lain, biaya provisi turun tajam 20,1% menjadi Rp 2,69 triliun, mencerminkan perbaikan kualitas kredit. Ekspansi kredit juga masih kuat, tumbuh 17,4% secara tahunan hingga Maret 2026. Pertumbuhan ini sejalan dengan perbaikan kualitas aset, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang turun menjadi 0,98%, membaik dibanding periode sama tahun lalu. Meski demikian, realisasi NII masih sedikit di bawah proyeksi analis yang memperkirakan Rp 27,61 triliun. Memasuki kuartal II-2026, manajemen memperkirakan pertumbuhan kredit akan tetap sejalan dengan industri, dengan fokus pada sektor prospektif, UMKM, dan program pemerintah. “NIM diperkirakan stabil melalui penguatan ekosistem, akselerasi transaksi, dan optimalisasi portofolio,” ujar Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga: RUPST Bank Danamon Rombak Susunan Pengurus, Nobuya Kawasaki Jadi Direktur Utama Pengamat perbankan dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Trioksa Siahaan, menilai capaian Bank Mandiri mencerminkan strategi yang tepat, mulai dari ekspansi kredit yang selektif, margin bunga bersih (NIM) yang terjaga, hingga efisiensi operasional. Menurutnya, tren positif ini juga berpotensi terjadi di bank besar lainnya, meski dengan keunggulan masing-masing. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) unggul di segmen mikro, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kuat pada biaya dana rendah, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dominan di pembiayaan korporasi.
“Secara keseluruhan, kinerja perbankan kuartal I akan tetap tumbuh, meski ada tekanan dari pelemahan rupiah yang berpotensi memengaruhi likuiditas,” kata Trioksa. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia juga menunjukkan optimisme terhadap kinerja awal tahun. Manajemen menyebut pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), kualitas aset yang stabil, dan likuiditas yang memadai menjadi penopang utama.
Baca Juga: Kinerja Bank Besar Bakal Tumbuh Solid Kuartal I Dalam dua bulan pertama 2026, BRI mencatat laba bersih Rp 7,73 triliun, tumbuh 17,05% secara tahunan. Konsensus analis memperkirakan laba bank ini bisa mencapai Rp 14,98 triliun sepanjang kuartal I-2026. Dengan kombinasi pertumbuhan kredit, kualitas aset yang membaik, dan tekanan provisi yang mereda, bank-bank besar diperkirakan tetap menjadi motor kinerja industri perbankan pada awal tahun ini. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News