KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan laba perbankan diperkirakan melambat pada semester II 2026. Kondisi likuiditas yang semakin ketat dan meningkatnya biaya dana menjadi salah satu faktor yang dapat menekan kinerja bank. BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memperkirakan laba sektor perbankan pada semester II 2026 turun sekitar 3% secara tahunan (yoy), jika tidak memperhitungkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan laba perbankan pada semester I 2026 yang mencapai 11% yoy. Untuk tahun ini, BRI Danareksa Sekuritas masih memperkirakan laba sektor perbankan tumbuh sekitar 4% pada 2026. Tekanan terhadap laba salah satunya berasal dari kondisi likuiditas perbankan yang semakin ketat. BRIDS mencatat, suku bunga IndONIA yang telah berada di atas BI-Rate serta bunga deposito tenor satu bulan yang mencapai sekitar 4,2%, atau menjadi level tertinggi dalam tiga tahun. Baca Juga: Sun Life: 58% Masyarakat Indonesia Khawatir Konflik Keluarga Ganggu Warisan Selain itu, cost of funds (CoF) industri perbankan tercatat sebesar 2,8% pada Juli 2026. BRIDS juga mencatat funding gap industri perbankan mencapai Rp 591 triliun pada Juni 2026. Apabila seluruh penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 299 triliun ditarik dari perbankan, rasio loan to deposit ratio (LDR) industri diperkirakan dapat mencapai 92%. Di sisi lain, BRIDS menilai risiko kualitas aset dari pembiayaan Agrinas dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) mulai mereda. Pemerintah telah membayar cicilan pertama pinjaman sebesar Rp 37,7 triliun, dengan BRI menerima pembayaran sebesar Rp 11,9 triliun. "Hilangkan risiko reklasifikasi ke special mention," demikian tertulis dalam riset, Senin (28/9/2026). Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Laba Bank Diproyeksi Melambat di Semester II 2026, Ini Penjelasan BRI Danareksa
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan laba perbankan diperkirakan melambat pada semester II 2026. Kondisi likuiditas yang semakin ketat dan meningkatnya biaya dana menjadi salah satu faktor yang dapat menekan kinerja bank. BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memperkirakan laba sektor perbankan pada semester II 2026 turun sekitar 3% secara tahunan (yoy), jika tidak memperhitungkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan laba perbankan pada semester I 2026 yang mencapai 11% yoy. Untuk tahun ini, BRI Danareksa Sekuritas masih memperkirakan laba sektor perbankan tumbuh sekitar 4% pada 2026. Tekanan terhadap laba salah satunya berasal dari kondisi likuiditas perbankan yang semakin ketat. BRIDS mencatat, suku bunga IndONIA yang telah berada di atas BI-Rate serta bunga deposito tenor satu bulan yang mencapai sekitar 4,2%, atau menjadi level tertinggi dalam tiga tahun. Baca Juga: Sun Life: 58% Masyarakat Indonesia Khawatir Konflik Keluarga Ganggu Warisan Selain itu, cost of funds (CoF) industri perbankan tercatat sebesar 2,8% pada Juli 2026. BRIDS juga mencatat funding gap industri perbankan mencapai Rp 591 triliun pada Juni 2026. Apabila seluruh penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 299 triliun ditarik dari perbankan, rasio loan to deposit ratio (LDR) industri diperkirakan dapat mencapai 92%. Di sisi lain, BRIDS menilai risiko kualitas aset dari pembiayaan Agrinas dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) mulai mereda. Pemerintah telah membayar cicilan pertama pinjaman sebesar Rp 37,7 triliun, dengan BRI menerima pembayaran sebesar Rp 11,9 triliun. "Hilangkan risiko reklasifikasi ke special mention," demikian tertulis dalam riset, Senin (28/9/2026). Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
TAG: