KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Sebagian besar bank penghuni Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3 berhasil mendorong laba tetap tumbuh selama paruh pertama tahun. PT Bank Permata Tbk misalnya per Juni 2026, total kredit yang disalurkan bank secara konsolidasian mencapai Rp 171,2 triliun atau tumbuh 5,3% secara tahunan. Sejalan dengan itu, rasio kredit bermasalah alias
non performing loan (NPL) terjaga di 2,1%. Jika dibedah, segmen korporasi masih jadi penopangnya senilai Rp 106,4 triliun atau tumbuh 9,7% secara
year on year (yoy). Menyusul segmen komersial yang tumbuh 5,7% yoy menjadi Rp 21,9 triliun, sementara segmen konsumer terkoreksi 4,3% yoy menjadi Rp 42,1 triliun.
Baca Juga: Tak Hanya KPR, BTN (BBTN) Perkuat Bisnis di Sektor Fesyen dan Kuliner Dari sisi pendapatan, sejatinya pendapatan bunga bersih alias
net interest income (NII) bank berkode saham
BNLI ini turun 4,1% yoy menjadi Rp 4,8 triliun. Meski begitu, bank berhasil mendorong pendapatan komisi tumbuh 16,6% yoy menjadi Rp 820 miliar, di saat yang sama menurunkan beban pencadangan 25,6% yoy menjadi Rp 798,9 miliar. Dus, laba bersihnya berhasil tumbuh 4,5% yoy menjadi Rp 1,7 triliun. Dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) Permata Bank relatif stagnan di Rp 189,2 triliun. Pun, dana murah masih mendominasi sebesar 57,9%, meski nilainya berkurang 7,63% yoy menjadi Rp 109,6 triliun. Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli menyebut, penguatan dana murah tetap menjadi salah satu strategi utama bank untuk menjaga pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan. Itu diwujudkan melalui penguatan transaksi nasabah di seluruh segmen, utamanya konsumer dan komersial. Lebih lanjut, ia bilang pihaknya bakal meningkatkan sinergi dengan Bangkok Group sebagai
controlling stakeholder untuk membidik peluang nasabah baru, rekomendasi bisnis strategis, hingga dukungan layanan yang terintegrasi. Adapun PT Bank OCBC NISP Tbk (
NISP) berhasil menumbuhkan total kredit sebesar Rp 184,76 triliun atau tumbuh 11,4% yoy. Sejalan dengan itu, NII bank berhasil tumbuh 7,24% yoy menjadi Rp 5,8 triliun.
Baca Juga: OCBC Bidik Pertumbuhan Kredit Sindikasi, Garap Infrastruktur hingga Telekomunikasi Kinerja kredit ini tak lepas dari struktur pendanaan yang solid. Dalam periode yang sama, OCBC Indonesia berhasil menghimpun DPK sebanyak Rp 239,9 triliun atau naik 10,9% yoy, dengan dana murah bertambah 26,2% yoy menjadi Rp 145,2 triliun. Dari sisi operasional lainnya, bank turut menekan turun beban pencadangan menjadi Rp 709,3 miliar dari posisi Rp 80,4 miliar pada tahun sebelumnya. Yang menarik adalah pendapatan komisi bank melesat 39,5% yoy menjadi Rp 709,5 miliar, dan pada gilirannya mendorong laba naik 6,4% yoy menjadi Rp 2,7 triliun. Menurut Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja, pihaknya memang berstrategi mendorong kinerja melalui peningkatan kapabilitas layanan, termasuk dalam kebutuhan wealth management yang terus berkembang di Indonesia. “Dengan kapabilitas yang semakin terintegrasi dan didukung kekuatan ekosistem Grup OCBC, kami berfokus menjadi mitra keuangan jangka panjang bagi nasabah dalam mengelola dan menumbuhkan aset secara berkelanjutan,” ujar Parwati. PT Bank Maybank Indonesia Tbk (
BNII) juga nampaknya berupaya mendorong kinerja melalui penguatan pendapatan komisi. Yang mana, dalam periode ini nilainya berhasil naik 23,7% yoy menjadi Rp 560,5 miliar. Dus, laba bersih bank berhasil naik 21,2% yoy menjadi Rp 698.7 miliar. Dari sisi intermediasi, total kredit bank dan NII kompak naik 3,8% yoy masing-masing menjadi Rp 126,3 triliun dan Rp 3,8 triliun. Sejalan dengan itu, DPK bank naik 8,2% yoy menjadi Rp 124,1 triliun, dengan dana murah tumbuh pesar 22,4% yoy menjadi Rp 78,9 triliun sementara deposito sebagai dana mahal justru berkurang 10% yoy menjadi Rp 45,14 triliun. Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan menyebut, dalam periode ini pihaknya memang lebih fokus pada prioritas bisnis yang strategis. Di tengah era suku bunga tinggi dan ketidakpastian global yang masih membayangi pasar domestik, menurutnya penerapan manajemen risiko yang pruden menjadi penting.
Baca Juga: KB Bank (BBKP) Perpanjang Kredit Rp 200 Miliar ke SKBF, Ini Alasannya PT Bank Danamon Indonesia Tbk (
BDMN) juga berhasil mencetak pertumbuhan laba double digit, yakni sebesar 33% yoy menjadi Rp 2,4 triliun. Kredit bank naik 13,9% yoy menjadi Rp 187 triliun, sejalan dengan itu NII tumbuh 9,3% yoy menjadi Rp 10,8 triliun. Pun DPK tumbuh 13,84% yoy menjadi Rp 179,2 triliun, meski pertumbuhannya utamanya ditopang deposito yang naik 23,6% yoy menjadi Rp 110 triliun. Dari sisi operasional lainnya, ada dua aspek utama yang mendorong laba. Pertama kenaikan pendapatan komisi sebesar 6,4% yoy menjadi Rp 1,6 triliun, kedua keuntungan transaksi spot dan derivatif yang melesat menjadi Rp 1,2 triliun dari posisi Rp 137,7 miliar tahun sebelumnya. Bernasib agak berbeda, PT Bank Pan Indonesia Tbk (
PNBN) alias Panin Bank belum berhasil menumbuhkan labanya. Hingga Juni 2026, laba bersih bank turun 1,2% yoy menjadi Rp 1,4 triliun. Itu sejalan dengan penyaluran kredit yang turun 6,1% yoy menjadi Rp 139,6 triliun, meski NII bank sejatinya masih tumbuh 6,6% yoy menjadi Rp 4,7 triliun. Hanya saja, pendapatan komisi Panin Bank memang turun 10,7% yoy menjadi Rp 274,9 miliar.
Dari sisi pendanaan, total DPK yang dihimpun bank juga turun 4,25% yoy menjadi Rp 144,6 triliun. Presiden Direktur Panin Bank Herwidayatmo bilang penurunan kinerja kali ini sejalan dengan penerapan prinsip kehati-hatian yang ditempuh untuk menjaga kualitas portofolio. “Selama semester I-2026 kami semakin selektif dalam memilih sektor, debitur, dan tujuan pembiayaan di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian,” ungkap Herwidayatmo.
Baca Juga: BSI Percepat KPR FLPP, Sudah Salurkan Lebih dari 25.000 Rumah Subsidi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News