KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) membukukan kinerja yang solid sepanjang semester I-2026. Meski demikian, tekanan terhadap net interest margin (NIM) diperkirakan masih akan berlanjut hingga kuartal III-2026 seiring penurunan imbal hasil kredit dan tingginya biaya dana. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama melihat pertumbuhan laba Bank Mandiri pada paruh pertama tahun ini lebih banyak ditopang oleh peningkatan pendapatan nonbunga, efisiensi biaya operasional, serta penurunan biaya pencadangan. "Bank Mandiri mencatat laba bersih sebesar Rp 30,4 triliun pada semester I-2026 atau tumbuh 24,4% secara tahunan. Pertumbuhan ini didukung kenaikan pre-provision operating profit (PPOP) sebesar 19,9%," tulis Kevin dalam risetnya, Kamis (23/7/2026).
Baca Juga: BNI Rampungkan Penjualan 39,96 Juta Saham BNI AM ke Danantara AM Di sisi lain, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) hanya tumbuh 8,1% secara tahunan, mencerminkan mulai tertekannya margin bunga. Penyaluran kredit konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp 1.677 triliun atau tumbuh 6,4% sejak awal tahun. Pertumbuhan tersebut mendekati batas bawah target perseroan tahun ini yang berada di kisaran 7%–9%. Namun, ekspansi kredit masih didominasi segmen wholesale, terutama kredit korporasi dan komersial. Sementara itu, pertumbuhan kredit ritel bank secara standalone hanya naik 1,3% secara year to date akibat masih lemahnya permintaan kredit kendaraan bermotor dan payroll. Kiwoom menilai komposisi pertumbuhan kredit tersebut turut menekan margin bunga. NIM konsolidasi turun menjadi 4,56% pada semester I-2026. Manajemen pun merevisi target NIM sepanjang 2026 menjadi 4,3%–4,5%, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,5%–4,7%. Selain itu, yield kredit bank secara standalone juga turun menjadi 6,91% pada kuartal II-2026 dari 7,11% pada kuartal sebelumnya. Di saat yang sama, kenaikan suku bunga deposito masih membebani biaya dana (
cost of fund). Manajemen juga menyebut kredit kepada pihak berelasi dan program pemerintah memiliki tingkat bunga sekitar 100 hingga 200 basis poin lebih rendah dibandingkan kredit reguler. Meski margin tertekan, pendapatan berbasis komisi (fee based income) berulang masih menjadi penopang kinerja. Pendapatan ini meningkat 24% secara tahunan berkat pertumbuhan transaksi melalui Livin' by Mandiri, Kopra by Mandiri, kartu kredit, aktivitas treasury, hingga transaksi digital lainnya. Kontribusi pendapatan nonbunga kini mencapai sekitar 32% dari total pendapatan perusahaan. Efisiensi operasional juga terus berlanjut. Beban operasional turun 1,4% secara tahunan sehingga rasio cost to income (CIR) membaik menjadi 37,9%, lebih rendah dibandingkan target manajemen sebesar 39%–41%.
Baca Juga: Jenius Perkuat Posisi di Segmen Lifestyle Banking Melalui POCARI SWEAT Run Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (gross NPL) konsolidasi tetap terjaga di level 1,01%, sementara loan at risk (LaR) turun menjadi 5,83% dan cost of credit (CoC) berada di level 0,61%. Meski demikian, Kiwoom mengingatkan adanya kenaikan rasio NPL pada segmen konsumer serta mikro dan payroll sehingga perkembangan kualitas aset ritel masih perlu dicermati. Di samping itu, rasio pencadangan terhadap NPL sebesar 235% dinilai sudah mendekati batas minimum yang diinginkan manajemen sehingga ruang untuk menurunkan beban pencadangan lebih lanjut menjadi terbatas. Ke depan, Kiwoom memperkirakan pertumbuhan laba Bank Mandiri akan melambat pada paruh kedua tahun ini. Pemulihan permintaan kredit dari sektor swasta, pertumbuhan transaksi digital yang berkelanjutan, serta stabilisasi biaya dana akan menjadi faktor utama yang dapat menopang kinerja perseroan. Sementara itu, tekanan terhadap NIM dan perkembangan kualitas aset di segmen ritel masih menjadi risiko utama yang perlu diperhatikan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News