KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) yang tetap solid pada kuartal I-2026 menjadi indikator awal bagi prospek bank-bank besar yang tergolong dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV. Di kuartal I tahun ini, Bank Mandiri berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 15,4 triliun atau tumbuh 16,6% secara
year on year (yoy) pada kuartal I-2026. Capaian ini salah satunya ditopang oleh pendapatan bunga bersih atau
net interest income (NII) yang naik 11,1% mencapai Rp 21,17 triliun. Penyaluran kreditnya juga mencapai sebesar Rp 1.530 triliun atau naik 17,4% secara tahunan pada kuartal I-2026.
Baca Juga: Pembiayaan Bank Syariah Kompak Naik di Kuartal I-2026, Segmen Konsumer Jadi Penopang Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank only tercatat sebesar Rp1.675 triliun atau meningkat 21,1% yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri yang sebesar 13,2% pada periode yang sama. Kualitas aset juga terjaga dengan rasio Non Performing Loan (NPL) Gross bank only berada di level 0,98% atau membaik 3 bps yoy, didukung pencadangan yang memadai dengan NPL Coverage Ratio di level 245%. Memasuki kuartal II-2026, Bank Mandiri memproyeksikan ekspansi kredit tetap tumbuh sejalan dengan industri. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini menyampaikan, penyaluran kredit akan difokuskan ke sektor-sektor yang prospektif dan memiliki ketahanan tinggi, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Di sisi lain, bank ini juga memperkuat dukungan terhadap ekonomi kerakyatan melalui akselerasi pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus mendukung berbagai program strategis pemerintah. Dari sisi pendanaan, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) lebih tinggi dibandingkan kredit. Fokus utama diarahkan pada peningkatan dana murah (CASA) guna menjaga efisiensi struktur pendanaan dan likuiditas. “LDR kami jaga agar tetap berada pada level yang sehat,” jelasnya saat paparan kinerja perseroan, Selasa (21/4/2026). Untuk menjaga profitabilitas, margin bunga bersih (NIM) diproyeksikan stabil melalui penguatan ekosistem, akselerasi transaksi, serta optimalisasi komposisi portofolio.
Baca Juga: Laba Bank Mandiri (BMRI) Melejit, Begini Rasio Keuangan dan Harapan di Tahun Ini Adapun Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai performa Bank Mandiri ditopang oleh kombinasi strategi yang tepat, mulai dari pertumbuhan kredit hingga efisiensi operasional. “Pendorong kinerja BMRI adalah pertumbuhan kredit yang selektif namun tetap ekspansif, net interest margin yang terjaga, kualitas aset yang stabil, serta efisiensi operasional,” ujarnya. Menurutnya, faktor-faktor tersebut juga menjadi kunci bagi bank-bank besar lainnya. Namun, masing-masing bank memiliki keunggulan yang berbeda sehingga kinerjanya akan bervariasi. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), misalnya, unggul di segmen kredit mikro yang memberikan yield lebih tinggi, serta didukung dana murah (CASA) yang stabil. Sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dikenal memiliki kekuatan pada CASA dan biaya dana yang rendah. Adapun PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengandalkan ekspansi kredit korporasi sebagai pendorong pertumbuhan. “Kinerja akan variatif tergantung bagaimana bank menjaga ekspansi yang selektif, NIM yang stabil, dan efisiensi operasional,” jelasnya. Trioksa melihat, pada kuartal I-2026, kinerja perbankan masih relatif tumbuh baik. Namun, tekanan mulai terlihat dari pelemahan rupiah yang berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi.
Baca Juga: Portofolio Pembiayaan Berkelanjutan Bank Mandiri Capai Rp320 Triliun per Maret 2026 Kondisi tersebut dapat berdampak pada likuiditas perbankan, terutama dalam menjaga biaya dana dan strategi penempatan likuiditas. “Kuartal I masih bertumbuh baik, tapi ada tekanan dari kurs rupiah yang melemah dan yield obligasi yang naik,” katanya. Meski demikian, ia memperkirakan kinerja industri perbankan secara umum masih akan tetap solid pada semester I-2026. Untuk prospek hingga akhir tahun, Trioksa menilai kinerja perbankan sangat bergantung pada kondisi eksternal, terutama stabilitas geopolitik dan nilai tukar rupiah. Jika kondisi global membaik, rupiah kembali stabil, harga minyak terkendali, serta inflasi tetap terjaga, maka kinerja perbankan berpeluang tumbuh lebih kuat di paruh kedua tahun ini. Sebaliknya, jika ketidakpastian global meningkat dan tekanan terhadap rupiah berlanjut, maka pertumbuhan kinerja perbankan berpotensi melambat. “Kalau kondisi global membaik, kinerja bank bisa tumbuh lebih tinggi. Tapi kalau tidak terkendali, tentu akan ada tekanan,” imbuhnya. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga optimistis kinerjanya di kuartal I-2026 tetap solid dan resilien jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. "Ini terlihat dari pertumbuhan DPK, intermediasi, dan kualitas aset yang tetap terjaga, serta likuiditas yang memadai di tengah dinamika pasar yang masih menantang," ungkap Corporate Secretary BRI Dhany. Lebih lanjut Dhanny mengatakan, pertumbuhan kredit masih akan ditopang khususnya pada segmen UMKM yang menjadi kontributor utama, sejalan dengan fokus BRI pada ekonomi kerakyatan.
Baca Juga: Bank Mandiri Janji Tambahan Dana SAL Akan Disalurkan ke Sektor Produktif BRI juga berupaya menciptakan pertumbuhan baru dengan mempercepat ekspansi bisnis konsumer melalui penguatan mortgage, auto loan, optimalisasi payroll, hingga penguatan layanan wealth management. "Disiplin dalam manajemen risiko dan selective growth juga turut menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas aset perseroan," katanya. Jika dilihat dari laporan keuangannya, hingga Februari 2026, bank berkode saham BBRI ini berhasil mencetak laba sebesar Rp 7,73 triliun, tumbuh 17,05% secara tahunan. Capaian tersebut salah satunya didorong oleh penurunan beban bunga bank sebesar 15,21% yoy menjadi Rp 6,74 triliun. Meski pendapatan bunga bank sejatinya terkoreksi tipis 1,24% yoy menjadi Rp 25,89 triliun, pendapatan bunga bersih bank berhasil tumbuh 4,83% yoy menjadi Rp 19,14 triliun. Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit bank juga berhasil tumbuh dua digit dalam periode ini, yakni 10,49% yoy menjadi Rp 1.345,16 triliun. Sejalan dengan itu, dana pihak ketiga (DPK) bank tumbuh 9,26% yoy menjadi Rp 1.508,84 triliun. Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan laba bank besar pada awal tahun ini ditopang oleh pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang sama-sama tumbuh di atas 10% secara tahunan. “Laba bersih bank besar bisa tumbuh lebih dari 10% pada kuartal I-2026, didukung pertumbuhan kredit dan DPK yang kuat,” ujarnya.
Baca Juga: Honest Card Hadirkan QRIS MPM, Dorong Transaksi Harian via Kartu Kredit Ia memaparkan, ada sejumlah faktor utama yang mendorong kinerja tersebut. Pertama, ekspansi kredit ke sektor produktif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tumbuh
double digit, seiring dukungan program pemerintah seperti kredit usaha rakyat (KUR). Kedua, efisiensi biaya dana (cost of fund/CoF) yang menurun signifikan. Hal ini dipicu oleh penurunan suku bunga acuan serta tambahan likuiditas ke perbankan, sehingga margin bunga bersih alias
net interest margin (NIM) tetap terjaga dan pendapatan bunga meningkat. Ketiga, pertumbuhan
fee-based income yang ditopang lonjakan transaksi digital banking, baik dari segmen ritel maupun korporasi. Keempat, kualitas aset yang tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah, coverage ratio tinggi, serta beban provisi yang terkendali. “Ini menunjukkan disiplin manajemen risiko dan sistem early warning yang berjalan efektif,” jelasnya. Meski faktor pendorong tersebut juga dirasakan oleh bank besar lain, Myrdal menilai kinerja masing-masing bank tetap bervariasi, tergantung fokus bisnisnya. BRI, misalnya, mencatat pertumbuhan laba paling tinggi karena kuat di segmen UMKM dan mikro. Pada awal 2026, laba BRI tercatat tumbuh sekitar 17% secara tahunan. Sementara itu, BCA mencatat pertumbuhan lebih moderat di kisaran 2,8%–3% YoY, seiring pendekatan ekspansi kredit yang lebih konservatif meski didukung dana murah (CASA) yang kuat. Adapun PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mencatat pertumbuhan moderat sekitar 3%–4% YoY, dengan kekuatan pada kredit korporasi dan investasi.
Baca Juga: Maknai Peran Pemberdayaan dalam Membangun Kartini Penggerak Ekonomi “Bank yang punya eksposur besar ke UMKM dan sektor produktif serta didukung digitalisasi, seperti Bank Mandiri dan BRI, cenderung mencatat pertumbuhan lebih tinggi,” ungkap Myrdal. Secara umum, ia memperkirakan pertumbuhan laba bank besar pada kuartal I-2026 berada di kisaran 3% hingga 17% YoY. Sementara kredit tumbuh 10%–17% YoY dan DPK di kisaran 10%–21% YoY. Meski dihadapkan pada tantangan seperti fluktuasi suku bunga global, ketegangan geopolitik, serta tekanan inflasi domestik, sektor perbankan dinilai masih memiliki fundamental yang kuat. Myrdal menyebut likuiditas perbankan tetap longgar dan pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan masih di atas 5,2% pada tahun ini. Mengacu proyeksi regulator, pertumbuhan kredit sepanjang 2026 diperkirakan berada di kisaran 8%–12% YoY, sementara DPK tumbuh 7%–11% YoY. Adapun laba bersih bank besar diproyeksikan tetap tumbuh positif di kisaran single digit hingga low double digit, sekitar 5%–9% YoY.
“Selama biaya dana tetap terkendali dan kualitas kredit terjaga, kinerja perbankan masih akan positif,” katanya. Dengan likuiditas yang memadai, intermediasi yang terus berjalan, serta dukungan kebijakan seperti insentif likuiditas makroprudensial, Myrdal menilai sektor perbankan Indonesia masih menarik di tengah dinamika global.
Baca Juga: Maknai Peran Pemberdayaan dalam Membangun Kartini Penggerak Ekonomi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News