Laba Bank Negara Indonesia (BBNI) Januari 2026 di Rp 1,7 Triliun, Ini Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) telah merilis laporan keuangan per Januari 2026. Laba bersih bank-only pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp 1,7 triliun, angka ini turun 2,5% secara bulanan namun naik 3,5% secara tahunan.

Karena itu, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim, mempertahankan rekomendasi buy saham BBNI dengan target harga Rp 5.000 per saham. Target ini didasarkan pada valuasi PBV 1,06x di tahun 2026. Pada Kamis 26 Februari 2026, saham BBNI turun 0,89% di level Rp 4.460 per saham.

Menurut Jeffrosenberg, kinerja Januari 2026 relatif stabil secara tahunan meski mengalami normalisasi secara bulanan setelah periode akhir tahun. 


Baca Juga: Bidik Generasi Muda, Prudential Rilis Produk Asuransi Jiwa Tradisional PRUMapan

Pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) naik 17% secara tahunan, ditopang oleh pertumbuhan kredit yang solid. Namun demikian, margin bunga bersih (NIM) bertahan di level 3,7%.

Dari sisi pencadangan terjadi penurunan signifikan secara bulanan, meski secara tahunan masih berada pada level yang tinggi. Ini mencerminkan sikap kehati-hatian manajemen. Jeffrosenberg memperkirakan margin akan bergerak terbatas di kisaran saat ini sepanjang tahun 2026, dengan pemulihan bertahap pada 2027.

Pada Januari 2026, pertumbuhan kredit mencapai 19% secara tahunan, namun melambat menjadi 1,3% secara bulanan. Meski tetap tergolong sehat, Maybank Sekuritas Indonesia memperkirakan akan terjadi normalisasi ke depan, mengingat basis pertumbuhan yang tinggi serta penyaluran kredit berbasis program pada 2025.

Untuk tahun 2026, pertumbuhan kredit diproyeksikan berada di kisaran 8%–9% secara tahunan. Potensi kenaikan proyeksi ini masih terbuka apabila realisasi program pemerintah lebih kuat serta terjadi pemulihan konsumsi masyarakat.

Volatilitas pencadangan pada Januari 2026 dinilai masih dapat dikelola oleh BNI, dengan tren kualitas aset yang tetap stabil. Pencadangan tambahan sebelumnya lebih dipengaruhi oleh pelemahan segmen ritel dan gangguan eksternal.

Cadangan kerugian kredit (NPL coverage) tercatat solid di level 205% pada tahun 2025. Ke depan, biaya kredit diperkirakan berangsur normal menuju sekitar 1,1% pada tahun 2026, didukung pertumbuhan kredit yang lebih moderat serta tingkat pencadangan yang memadai.

Jeffrosenberg menegaskan pertumbuhan aset yang kuat diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan laba pada tahun 2026, meski tekanan margin masih berlanjut.

Baca Juga: OJK Restui Penggabungan 4 BPR ke PT BPR Nusamba Tanjungsari

Adapun sejumlah risiko yang perlu dicermati antara lain potensi kenaikan tajam biaya operasional serta penurunan kualitas kredit yang lebih buruk dari perkiraan.

Pada tahun 2026, Maybank Sekuritas memperkirakan laba bersih BBNI bisa mencapai Rp 22,22 triliun dengan pendapatan operasi Rp 70,62 triliun. Sementara di 2027, laba bersih BNI diperkirakan mencapai Rp 24,92 triliun. 

Selanjutnya: Pengusaha Wait and See Hadapi Tarif Trump, Sektor Manufaktur Dinilai Paling Terdampak

Menarik Dibaca: Jadwal Buka Puasa Kota Madiun Ramadan 26 Februari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News