KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra Sedaya Finance (ASDF) atau yang dikenal sebagai Astra Credit Companies (ACC) mencatatkan kinerja positif pada Semester I-2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, ACC membukukan laba bersih sebesar Rp 960 miliar pada Semester I-2026. Nilainya tumbuh 1,27% secara year on year (YoY). Adapun pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 4,66% YoY menjadi Rp 3,37 triliun pada Semester I-2026. Secara rinci, pembiayaan konsumen menjadi kontributor terbesar terhadap total pendapatan perusahaan. Nilainya tumbuh 5,43% menjadi Rp 2,72 triliun pada Semester I-2026.
Mengenai hal itu, EVP Corporate Communication & Strategy ACC Riadi Prasodjo tak memungkiri bahwa pertumbuhan laba bersih perusahaan salah satunya ditopang oleh pertumbuhan penyaluran pembiayaan sepanjang Semester I-2026.
Baca Juga: Laba Adira Finance Melonjak 36,58%, Ini Strategi yang Jadi Pendorong Kinerja "Selain itu, pertumbuhan laba bersih perusahaan juga dijaga melalui kualitas aset yang manageable, serta pengendalian biaya operasional di tengah tantangan kondisi perekonomian dan pasar yang dinamis," ujarnya kepada Kontan, Minggu (2/8/2026). Terkait pendapatan yang tumbuh ditopang pembiayaan konsumen, Riadi mengungkapkan hal itu juga tak terlepas dari upaya perusahaan sejauh ini. Dia bilang kenaikan penyaluran pembiayaan didukung oleh kerja sama perusahaan dengan jaringan mitra dealer mobil serta layanan produk pembiayaan yang lengkap bagi konsumen, seperti pembiayaan mobil baru, mobil bekas, fasilitas dana, serta pembiayaan syariah. Untuk mendorong kinerja pembiayaan ke depannya, dia bilang perusahaan akan tetap menjaga keseimbangan antara kualitas penyaluran kredit dan pertumbuhan. Salah satunya dengan menerapkan prinsip kehati-hatian sesuai peraturan yang berlaku. Hingga akhir tahun ini, Riadi mengatakan ACC akan fokus pada pengembangan diversifikasi portofolio pembiayaan, serta terus meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan. Di samping itu, dia menyebut perusahaan tetap berfokus memperkuat kolaborasi dengan mitra bisnis, memperluas jangkauan wilayah layanan, dan mengoptimalkan program pemasaran. Di tengah kenaikan suku bunga acuan, Riadi menyampaikan ACC senantiasa menyelaraskan diversifikasi pendanaan melalui hubungan baik dengan perbankan dan investor pasar modal untuk penerbitan surat utang (obligasi).
Baca Juga: Pendapatan Premi Unitlink Tumbuh 13,71% Menjadi Rp 18,79 Triliun per Mei 2026 "ACC selalu mencermati dinamika kondisi ekonomi, tingkat suku bunga, serta perubahan preferensi pelanggan," tuturnya.
Sementara itu, Riadi menilai peluang pertumbuhan pembiayaan tetap ada hingga akhir tahun ini. Dia menerangkan peluang itu tercermin dari pemulihan penjualan kendaraan bermotor pada Semester I-2026, di mana penjualan mobil nasional naik 16% secara YoY. "Ke depannya, perusahaan akan tetap memfokuskan bisnis pada pembiayaan kendaraan mobil sebagai penopang utama pertumbuhan, sekaligus menjajaki peluang peningkatan layanan untuk memperluas basis pelanggan," ungkap Riadi. Jika ditelaah lebih lanjut, ACC membukukan total aset sebesar Rp 42,92 triliun atau tumbuh 1,56% secara YoY. Adapun ekuitas ACC tercatat tumbuh 3,09% YoY menjadi Rp 11,68 triliun pada Semester I-2026. Sementara itu, rasio non-performing financing (NPF) net perusahaan berada di level 0,35%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News