KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Arkora Hydro Tbk (
ARKO) berhasil meningkatkan profitabilitas bisnisnya hingga kuartal III-2026. Di tengah pendapatan yang relatif stagnan, emiten pembangkit listrik energi terbarukan ini mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 18,7% secara tahunan menjadi Rp 56,6 miliar. Berdasarkan laporan keuangan hingga September 2026, ARKO membukukan pendapatan sebesar Rp 244,9 miliar. Realisasi tersebut terkoreksi sekitar 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, penurunan pendapatan tidak menghambat pertumbuhan laba perseroan. Hal ini tercermin dari peningkatan margin laba bersih ARKO menjadi 23,1% pada kuartal III-2026, dibandingkan 19,3% pada periode yang sama tahun lalu. Direktur ARKO Ricky Hartono mengatakan, meskipun pendapatan secara keseluruhan sedikit menurun, perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan pada segmen penjualan listrik. Kinerja tersebut mampu mengimbangi penurunan pendapatan dari segmen konstruksi.
Baca Juga: NTT Bidik Pertumbuhan Pasar Data Center Jakarta di Tengah Lonjakan Kebutuhan AI Hingga September 2026, pendapatan ARKO dari penjualan listrik mencapai Rp 53,8 miliar. Angka ini meningkat 61,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 33,2 miliar. “Jadi dibalik pendapatan perseroan yang relatif stabil, terdapat perubahan komposisi pendapatan penjualan listrik tumbuh hampir 62%. Ini membantu mengibangi penurunan pendapatan dari pendapatan konstruksi,” ungkap Ricky, dalam paparan publik virtual, Senin (2/11). Selain mengandalkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), ARKO juga mulai memperoleh kontribusi pendapatan dari diversifikasi bisnis pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Hingga September 2026, segmen PLTS ARKO telah menghasilkan pendapatan sekitar Rp 27 miliar. Kontribusi tersebut menjadi salah satu penopang bisnis perseroan, khususnya di tengah kondisi musim kering berkepanjangan. Dari sisi neraca keuangan, total aset ARKO tercatat sebesar Rp 2,07 triliun per akhir September 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 22,1% dibandingkan posisi akhir Desember 2025. Sejalan dengan perkembangan bisnis, total ekuitas perseroan juga tumbuh 8,9% menjadi Rp 562 miliar. Peningkatan ini didukung oleh kontribusi laba periode berjalan.
Sementara itu, total liabilitas ARKO tercatat sebesar Rp 1,50 triliun. Kenaikan liabilitas tersebut sejalan dengan kebutuhan pendanaan untuk pembangunan dua proyek PLTA yang saat ini masih berada dalam tahap konstruksi. Ke depan, ARKO akan berfokus menjaga kinerja operasional pembangkit yang telah beroperasi. Perseroan juga memastikan proyek-proyek yang sedang dikembangkan dapat segera memberikan kontribusi terhadap arus kas perusahaan. "Untuk ke depan fokus kami tetap untuk menjaga kinerja operasional perseroan dan juga kemampuan untuk menghasilkan laba dan arus kas yang bertahan," ujar Ricky. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News