Laba Bersih Bukit Asam (PTBA) Melesat 105% pada Kuartal I-2026, Ini Strateginya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) cetak kinerja moncer di kuartal I-2026. Di mana, perusahaan pelat merah ini membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 9,93 triliun pada kuartal I-2026 atau relatif sama secara year on year (YoY).

Namun, laba bersih PTBA tercatat mencapai Rp 801,79 miliar di periode Januari-Maret 2026. Realisasi tersebut melesat 105% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Bersamaan dengan itu, volume produksi PTBA terkoreksi 22% YoY menjadi 6,62 juta ton. Volume angkutan batubara PTBA juga turun 7% YoY menjadi 8,74 juta ton. Begitu pula dengan volume penjualan batubara PTBA yang terkikis 1% YoY menjadi 10,17 juta ton.


Bila dirinci, PTBA mencatat kenaikan penjualan batubara di pasar domestik sebesar 4% YoY menjadi 5,37 juta ton pada kuartal I-2026. Sebaliknya, penjualan batubara PTBA di pasar ekspor melemah 6% YoY menjadi 4,79 juta ton. Lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA antara lain Vietnam, Bangladesh, India, Kamboja, dan Thailand.

Baca Juga: Bitcoin Melemah pada Awal Tahun 2026, Tertekan Suku Bunga dan Geopolitik

Meski terjadi penurunan volume penjualan, respons harga batubara berbeda pada periode kuartal I-2026. Dalam hal ini, Newcastle Index naik 14% YoY, namun ICI-3 turun 2% YoY, sehingga berimbas pada penguatan harga jual rata-rata sebesar 1% YoY.

Beban pokok pendapatan PTBA terealisasi sebesar Rp 8,39 triliun pada kuartal I-2026, atau turun sebesar 6% YoY. Hasil ini disebabkan oleh penurunan volume operasional, baik produksi maupun pengangkutan batubara.

Selain itu, stripping ratio PTBA juga tercatat lebih rendah di angka 5,31 kali pada kuartal I-2026, dibandingkan periode sebelumnya di level 6,42 kali.

Adapun konflik di Selat Hormuz yang terjadi pada akhir Februari 2026 sudah mulai berdampak pada peningkatan harga BBM per liter, meskipun untuk periode ini masih relatif kecil atau 3% YoY. Hal tersebut tentunya akan berdampak pada peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh PTBA, baik untuk kegiatan penambangan maupun angkutan kereta api.

Di samping itu, beban operasional PBTA naik 10% menjadi Rp 61,37 miliar pada kuartal I-2026. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh adanya kenaikan di komponen beban umum dan administrasi.

 
PTBA Chart by TradingView

PTBA turut membukukan penghasilan keuangan sebesar Rp 41,27 miliar atau turun 17% YoY pada kuartal I-2026, seiring dengan turunnya penghasilan bunga baik dari penempatan kas di bank dan deposito berjangka maupun dari penempatan obligasi.

Biaya keuangan PTBA tercatat turun 20% YoY menjadi Rp 54,04 miliar pada kuartal I-2026 seiring dengan penurunan beban bunga dari pinjaman bank. Sebaliknya, laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama mengalami kenaikan 81% YoY menjadi Rp 168,04 miliar pada akhir kuartal I-2026.

Alhasil, hingga akhir kuartal I-2026, PTBA mengantongi laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 801,79 miliar atau melesat 105% YoY.

Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan, di tengah tantangan curah hujan yang tinggi pada awal tahun, PTBA mampu menjaga stabilitas penjualan melalui pengelolaan persediaan yang prudent sekaligus melanjutkan disiplin efisiensi dan selective mining yang mendorong perbaikan struktur biaya.

"Hasilnya, perusahaan membukukan pertumbuhan laba secara tahunan yang solid, yang merupakan bukti nyata dari ketahanan operasional dan efektivitas strategi yang kami jalankan," ujar dia dalam keterbukaan informasi, Kamis (30/4/2026).

Baca Juga: Wall Street Ditutup Menguat: S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Bulanan Terbesar

Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno menambahkan, capaian pada kuartal ini menunjukkan fondasi operasional PTBA tetap solid di tengah tantangan eksternal, termasuk kondisi cuaca yang memengaruhi produksi dan kondisi geopolitik yang mulai memanas.

PTBA akan terus menjaga disiplin operasional, memperkuat efisiensi, serta memastikan fleksibilitas dalam merespons dinamika pasar dan tantangan eksternal.

"Dengan fondasi operasional yang solid, perusahaan optimistis dapat terus menjaga kinerja yang sehat dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News