Laba Bersih Chandra Asri Pacific (TPIA) Tertekan, Cek Prospek Sahamnya



KONTAN. CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mampu membukukan peningkatan pendapatan bersih 83,6% year on year (yoy) menjadi US$ 5,3 miliar pada semester I-2026. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan kinerja bottom line emiten milik Prajogo Pangestu tersebut.

TPIA mengalami penurunan laba bersih setelah pajak sebesar 77,2% yoy menjadi US$ 371,2 juta pada semester I-2026. Pada saat yang sama, EBITDA perusahaan terkoreksi 54,5% yoy menjadi US$ 802,6 juta.

Perbedaan yang signifikan hasil kinerja bottom line semester I-2026 dengan semester I-2025 mencerminkan basis yang tinggi bargain purchase gain yang diakui sehubungan dengan akuisisi Aster. Di luar keuntungan yang tidak berulang tersebut, TPIA tetap mencatatkan kinerja operasional dan keuangan yang kuat, yang menegaskan ketahanan dan kekuatan bisnis intinya.


Baca Juga: Simak Prospek Emiten BUMN20 Pasca Evaluasi Indeks

Bila ditelusuri lebih dalam, hasil kinerja ini didukung oleh ketahanan platform terintegrasi TPIA di sektor energi, kimia, dan infrastruktur, eksekusi operasional yang disiplin, serta keberhasilan integrasi aset-aset strategis. 

"Chandra Asri Group juga memperkuat struktur permodalannya melalui peningkatan kepemilikan saham free float menjadi 25,7% dan penyelesaian penerbitan tahap akhir Obligasi Berkelanjutan V senilai Rp 6 triliun dengan oversubscription, guna meningkatkan fleksibilitas keuangan, memperkuat tata kelola perusahaan, dan memperluas akses investor," ungkap Manajemen TPIA dalam keterbukaan informasi, Rabu (29/7).

Kinerja ini juga menegaskan kemampuan berkelanjutan TPIA dalam mengeksekusi strategi pertumbuhan sekaligus menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan.

Pada segmen energi, TPIA melanjutkan integrasi pasca akuisisi melalui keberhasilan transisi jaringan SPBU Esso bersama fasilitas Cold Storage yang menjadi fondasi kuat platform mobility sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan ketahanan rantai pasok di seluruh rantai nilai hilir. 

Lebih lanjut, fasilitas CSU dan SBM di Pulau Bukom terus menunjukkan kemajuan menuju tahap operasional sebagai bagian dari upaya revitalisasi dan integrasi yang lebih luas pascaakuisisi Aster. Inisiatif ini diperkirakan akan memberikan tambahan EBITDA sekitar US$ 20 juta per bulan mulai kuartal IV-2026, semakin memperkuat profil laba TPIA.

Pada segmen kimia, TPIA terus memperkuat platform regional melalui investasi strategis yang meningkatkan integrasi dan kapabilitas hilir. Pembangunan pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) telah mencapai progres 72% dan tetap berjalan sesuai rencana untuk mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2027. 

TPIA juga telah mencapai Final Investment Decision (FID) untuk proyek ekspansi ekspor C2 senilai US$ 80 juta yang akan meningkatkan kapasitas ekspor, memperkuat fleksibilitas rantai pasok, serta memperkuat integrasi antara operasi Aster di Singapura dengan platform kimia hilir TPIA di Indonesia.

Pada segmen Infrastruktur, anak usaha TPIA yaitu PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) terus menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan jangka panjang Grup. Pada periode ini, CDIA memperluas kapabilitas kepelabuhanan dan penyimpanan serta logistik melalui kolaborasi strategis dengan SCG Barito Logistics (SBL) dan Krakatau Bandar Samudera (KBS) untuk mengeksplorasi pengembangan layanan penyimpanan ISO tank, penyimpanan dry container, serta layanan lift-on/lift-off (LOLO) di Krakatau International Port. 

Selain itu, progres pembangunan fasilitas tangki bitumen CDI telah mencapai 75%, sementara kapal Novah dari Jepang telah menyelesaikan pelayaran perdana (maiden voyage) dan berhasil melakukan sandar perdana (maiden berthing) yang semakin memperkuat jaringan logistik dan kapabilitas maritim TPIA.

TPIA juga memperkuat platform infrastruktur regional melalui pembentukan joint venture Aster Power – Sembcorp – CDIA, sementara Aster Ports & Terminals resmi memulai operasional pada 1 Juli 2026 sebagai platform pelabuhan terintegrasi yang melayani kebutuhan operasional internal maupun pelanggan pihak ketiga.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, koreksi laba bersih TPIA lebih banyak dipengaruhi oleh tingginya basis perbandingan (high base effect) akibat adanya keuntungan akuntansi dari akuisisi Aster pada periode yang sama tahun lalu. Oleh karena itu, penurunan laba bersih belum tentu mencerminkan pelemahan fundamental operasional perusahaan.

Untuk semester II-2026, Nafan menilai prospek TPIA masih relatif positif. Peluang peningkatan laba bersih tetap terbuka apabila didukung oleh beberapa faktor seperti adanya kontribusi penuh aset hasil akuisisi, sehingga sinergi pendapatan dan efisiensi biaya mulai terealisasi lebih optimal.

Kinerja TPIA juga berpeluang tumbuh seiring membaiknya margin petrokimia apabila selisih harga produk terhadap bahan baku kembali melebar bersamaan dengan membaiknya permintaan regional. Meningkatnya kontribusi dari bisnis non-petrokimia, termasuk energi, infrastruktur, maupun bisnis pendukung lainnya juga bakal menjadi katalis positif bagi TPIA karena menjadi sinyal keberhasilan diversifikasi pendapatan.

Nafan melanjutkan, fokus utama TPIA pada sisa 2026 sebaiknya adalah memaksimalkan nilai dari aset yang telah dimiliki, bukan semata-mata mengejar ekspansi baru. Dalam hal ini, TPIA harus memastikan integrasi aset hasil akuisisi berjalan efektif sehingga sinergi operasional, efisiensi biaya, optimalisasi rantai pasok, serta peningkatan utilisasi dapat terealisasi sesuai target. 

Berikutnya, TPIA perlu meningkatkan efisiensi operasional melalui optimalisasi utilisasi pabrik, digitalisasi proses produksi, serta pengendalian biaya bahan baku dan logistik agar margin tetap terjaga di tengah siklus industri yang masih menantang.

TPIA juga dapat melanjutkan diversifikasi bisnis ke sektor-sektor yang memiliki karakteristik pendapatan lebih stabil, seperti energi, infrastruktur, logistik, dan utilitas. Emiten ini juga perlu menjaga struktur permodalan dan arus kas tetap sehat, terutama di tengah kebutuhan belanja modal yang cukup besar. 

Nafan juga melihat bahwa agenda ekspansi tetap penting, tetapi eksekusi integrasi aset yang sudah diakuisisi memiliki urgensi yang lebih tinggi. 

"Market umumnya akan lebih menghargai keberhasilan perusahaan dalam mengubah akuisisi menjadi pertumbuhan laba dan arus kas yang berkelanjutan dibandingkan sekadar menambah aset baru," jelas dia.

Lantas, Nafan merekomendasikan add saham TPIA dengan target harga di level Rp 2.940 per saham.

Baca Juga: El Nino Bikin Haus Pasar AMDK, Tapi Analis Ingatkan Laba Emiten Belum Ikut Tumbuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: