KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) cetak kinerja apik dengan pertumbuhan laba bersih dan pendapatan pada periode Januari hingga September 2026. Berdasarkan laporan keuangannya, Selasa (27/10/2026), produsen rokok ini membukukan laba bersih sebesar Rp 6,51 triliun, melonjak 44,42% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan Rp 4,51 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan laba tersebut ditopang oleh pertumbuhan penjualan bersih perusahaan. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, HMSP mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 87,51 triliun, naik 4,5% yoy dibandingkan Rp 83,74 triliun pada periode Januari–September 2025.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama mengatakan kenaikan laba bersih HMSP yang mencapai 44,42% secara tahunan, jauh melampaui pertumbuhan penjualan sebesar 4,5%, terutama didorong oleh efisiensi biaya operasional, peningkatan penghasilan lain-lain, serta penurunan beban pajak penghasilan. Beban penjualan turun sekitar 2,6% menjadi Rp 5,83 triliun, sementara penghasilan lain-lain meningkat dari Rp 178,13 miliar menjadi Rp511,78 miliar. Selain itu, beban pajak penghasilan turun dari Rp 2,36 triliun menjadi Rp1,84 triliun.
Baca Juga: Laba Bersih Sampoerna (HMSP) Melonjak 44,42% hingga Kuartal III-2026 "Faktor-faktor tersebut membuat laba bersih meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan," kata Nafan kepada Kontan, Rabu (28/10/2026). Dari sisi operasional, pertumbuhan penjualan sigaret kretek mesin (SKM) menjadi salah satu kontributor utama, dengan nilai penjualan naik dari Rp 45,43 triliun menjadi Rp 52,51 triliun. Namun, investor juga perlu mencermati bahwa kenaikan laba ini tidak sepenuhnya berasal dari ekspansi bisnis inti, mengingat pertumbuhan laba kotor hanya sekitar 3,9%. Dengan demikian, keberlanjutan pertumbuhan laba HMSP ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mempertahankan efisiensi, memperbaiki bauran produk, dan menjaga profitabilitas di tengah tekanan industri rokok.
Prospek HMSP Dalam jangka panjang, Nafan berpendapat HMSP masih memiliki prospek yang ditopang oleh skala bisnis yang besar, jaringan distribusi yang luas, kekuatan merek, serta posisinya yang kuat di industri hasil tembakau nasional. Akan tetapi, perusahaan masih menghadapi tantangan struktural, seperti pergeseran konsumsi ke rokok dengan harga lebih murah, tekanan daya beli masyarakat, persaingan dengan rokok ilegal, serta tingginya beban cukai dan biaya produksi. Dus, pertumbuhan penjualan belum tentu diikuti peningkatan laba dengan laju yang sama. Prospek HMSP akan semakin positif apabila perusahaan mampu meningkatkan kontribusi produk dengan margin lebih baik, mengoptimalkan efisiensi operasional, dan mempertahankan pangsa pasar.
Baca Juga: Harga Saham HMSP Naik 4%, Asing Borong Rp 19 M, Investor Ritel Pilih Beli / Jual? Kepastian kebijakan cukai hasil tembakau untuk 2027 juga menjadi faktor penting dalam menentukan strategi harga dan margin keuntungan. "Saya melihat peluang perbaikan kinerja masih terbuka, tetapi investor perlu memastikan bahwa pertumbuhan laba didukung oleh perbaikan fundamental yang berkelanjutan, bukan semata-mata faktor efisiensi biaya atau penurunan beban pajak yang belum tentu berulang," tambah Nafan.
Dana Asing Masuk Nafan juga bilang aksi beli bersih investor asing terhadap HMSP yang mencapai Rp 101,9 miliar sejak awal tahun hingga 27 Oktober 2026 dapat mencerminkan meningkatnya minat terhadap saham yang memiliki fundamental relatif defensif, valuasi yang berpotensi menarik, dan prospek pemulihan profitabilitas. Kenaikan laba bersih hingga kuartal III 2026 juga berpotensi memperkuat persepsi investor terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dan menjaga arus kas. Selain itu, karakteristik bisnis HMSP yang relatif mapan serta potensi pembagian dividen dapat menjadi pertimbangan bagi investor yang mencari pendapatan investasi.
Baca Juga: Investor Asing Ramai Borong Saham HMSP, Cermati Rekomendasi Analis Namun, net buy asing tidak serta-merta menunjukkan tren kenaikan harga akan berlanjut, karena pergerakan saham juga dipengaruhi oleh kondisi pasar secara keseluruhan, likuiditas, valuasi, dan ekspektasi terhadap industri rokok. Ke depan, saham HMSP berpeluang melanjutkan pemulihan apabila pertumbuhan laba dapat dipertahankan dan akumulasi asing berlanjut. Meski demikian, investor perlu mencermati keberlanjutan margin keuntungan, kebijakan cukai, tren volume penjualan, serta risiko downtrading. Strategi yang lebih prudent adalah mencermati pergerakan harga dan volume transaksi serta menunggu konfirmasi tren sebelum mengambil keputusan investasi.
Rekomendasi Saham Dari sisi rekomendasi saham, Nafan menyarankan akumulasi beli saham HMSP di target harga jangka pendek Rp 700 per saham dan jangka panjang di posisi Rp 780 per saham. Sementara itu, MNC sekuritas memperkirakan posisi saham HMSP sedang berada di akhir wave (v) dari wave [a] dari wave A, sehingga penguatannya akan cenderung terbatas untuk menguji rentang Rp 690-Rp 700 per saham.
Baca Juga: Di Tengah Tekanan Industri Rokok, HMSP Menebar Dividen Jumbo Yield di Atas 7% Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News