KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Malayan Banking Berhad atau Maybank Group mencatatkan pertumbuhan kinerja pada tahun buku 2025. Laba bersih bank terbesar di Malaysia ini naik 4,2% secara tahunan (
year on year/YoY) menjadi RM10,51 miliar atau sekitar Rp37,3 triliun. Peningkatan laba tersebut didukung oleh pertumbuhan pendapatan yang stabil, pengelolaan biaya yang disiplin, serta kualitas aset yang tetap kuat. Sejalan dengan itu, laba sebelum pajak (pre-tax profit/PBT) Maybank juga meningkat 4,6% YoY menjadi RM14,33 miliar atau setara Rp50,9 triliun.
Chairman Maybank, Tan Sri Dato’ Sri Ir. Zamzamzairani Mohd Isa mengatakan kinerja tersebut mencerminkan kekuatan fundamental bank, mulai dari jaringan regional hingga posisi permodalan yang solid.
Baca Juga: RKAB Batubara 2026 Dipangkas, Premi Asuransi Terancam Turun “Maybank berhasil meningkatkan profitabilitas dan imbal hasil sekaligus mempertahankan permodalan serta likuiditas yang kuat melalui manajemen risiko yang prudent dan eksekusi strategi yang disiplin,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (3/3). Dari sisi pendapatan, pendapatan operasional bersih tumbuh 2,7% YoY menjadi RM30,38 miliar atau sekitar Rp107,8 triliun. Rinciannya, pendapatan bunga bersih meningkat menjadi RM20,23 miliar (sekitar Rp71,8 triliun), sedangkan pendapatan non-bunga mencapai RM10,15 miliar (sekitar Rp36,0 triliun). Sementara itu, margin bunga bersih (
net interest margin/NIM) tetap stabil di level 2,05%, meskipun terjadi penurunan suku bunga di beberapa pasar utama. Dari sisi efisiensi, rasio biaya terhadap pendapatan membaik menjadi 48,8%, meskipun biaya operasional meningkat 2,6% YoY akibat kenaikan biaya tenaga kerja, belanja teknologi informasi, biaya kartu kredit, serta aktivitas pemasaran. Adapun laba operasional sebelum pencadangan (
pre-provision operating profit/PPOP) meningkat 2,8% YoY menjadi RM15,54 miliar atau sekitar Rp55,2 triliun. Maybank juga mencatat perbaikan kualitas aset sepanjang 2025. Beban pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) turun 10,1% YoY menjadi RM1,48 miliar atau sekitar Rp5,3 triliun. Penurunan tersebut sejalan dengan membaiknya portofolio kredit di berbagai pasar utama Maybank. Rasio net charge-off juga membaik menjadi 8 basis poin (bps) dari 26 bps pada tahun sebelumnya. Sementara itu, rasio kredit bermasalah bruto (
gross impaired loans) tercatat sebesar 1,28%, dengan
loan loss coverage yang tetap kuat di level 106,7%. Dari sisi intermediasi, total kredit Maybank Group tumbuh 1,7% YoY, didorong oleh pertumbuhan di pasar utama seperti Malaysia dan Singapura. Kredit di Malaysia meningkat 6,1%, sedangkan Singapura tumbuh 5,0%. Di sisi pendanaan, saldo CASA (
current account savings account) meningkat 9,4% YoY, sehingga rasio CASA naik menjadi 40,5%. Likuiditas bank juga tetap kuat dengan
Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 138,2% dan
Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 116,6%, jauh di atas ketentuan regulator. Dari sisi permodalan, rasio CET1 tercatat 15,13%, sedangkan total capital ratio berada di level 19,05%. Kinerja yang stabil tersebut turut mendorong peningkatan
return on equity (ROE) menjadi 11,7%, dari 11,1% pada tahun sebelumnya. Maybank juga mengumumkan dividen interim kedua sebesar 33 sen per saham, sehingga total dividen tahun buku 2025 mencapai 63 sen per saham. Pembayaran ini mencerminkan
dividend payout ratio sebesar 72,4% dengan
dividend yield sekitar 6%. Group Chief Financial Officer Maybank, Shafiq Abdul Jabbar mengatakan tahun 2025 menjadi penutup strategi transformasi M25+ yang difokuskan pada penguatan jaringan regional, percepatan digitalisasi, serta peningkatan layanan berbasis nasabah. “Ke depan, kami meluncurkan roadmap strategis baru ROAR 30 yang menargetkan ROE sebesar 13%–14% dan rasio biaya terhadap pendapatan di bawah 47% pada 2030,” jelasnya. Strategi tersebut akan difokuskan pada penguatan pengalaman nasabah, dampak sosial yang lebih luas, serta penguatan ekonomi riil di kawasan ASEAN. Di Indonesia, anak usaha Maybank yaitu PT Bank Maybank Indonesia Tbk juga mencatatkan pertumbuhan signifikan.
Laba setelah pajak dan kepentingan non-pengendali (PATAMI) melonjak 48,5% YoY menjadi Rp1,66 triliun pada 2025. Sementara itu, laba sebelum pajak meningkat 38,9% YoY menjadi Rp2,22 triliun, didorong oleh peningkatan pendapatan berbasis dana serta pendapatan non-bunga.
Baca Juga: BTN Bidik Wealth Management Tumbuh 15% pada 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News