Laba Bersih Naik, Analis Kerek Target Saham Bank Mandiri (BMRI)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dibuka stagan di harga Rp 5.000 per saham pada Selasa (10/2/2026). 

Dari fundamental saham BMRI masih cukup solid. Ini nampak dari hasil kinerja Bank Mandiri yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih di sepanjang tahun buku 2025 sebesar 1% secara tahunan menjadi Rp 56,3 triliun. 

Realisasi ini melampaui estimasi analis maupun konsensus pasar. Kinerja positif ini terutama ditopang oleh biaya operasional dan biaya kredit yang lebih rendah dari perkiraan.


Baca Juga: BEI Sebut Ada Potensi Kode Broker Dibuka Lagi

Analis Victor Stefano dari BRI Danareksa Sekuritas dalam riset tertanggal 9 Februari 2026 menyatakan bahwa rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) dan cost of credit (CoC) yang lebih rendah dari ekspektasi menjadi faktor utama yang mendorong capaian tersebut.

“Pertumbuhan kredit tetap kuat di level 13% yoy, dipimpin oleh segmen korporasi dan komersial, yang mampu mengimbangi tekanan margin bunga bersih (NIM) yang terkompresi sekitar 30 basis poin,” tulis Victor.

Meskipun NIM mengalami penurunan, pendapatan bunga bersih (NII) BMRI masih tumbuh 4% yoy. Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga meningkat signifikan sebesar 24% yoy, terutama didorong oleh pertumbuhan deposito berjangka, sehingga rasio loan to deposit (LDR) turun ke level 89%. 

Pendapatan non-bunga juga meningkat 9% yoy berkat kontribusi fee based income dan pendapatan non-berulang. Sementara itu, CoC turun menjadi 58 bps, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap stabil di 1,1%.

Pada kuartal IV 2025, BMRI mencetak laba bersih kuartalan tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp18,6 triliun, melonjak 40% secara kuartalan (qoq) dan 35% yoy. Kinerja ini didorong oleh ketahanan NIM, lonjakan pendapatan non-bunga, pengendalian biaya operasional, serta pembentukan pencadangan yang minimal.

Victor menjelaskan NIM bank-only tetap stabil di 4,5% qoq, di mana penurunan cost of fund mampu mengompensasi pelemahan yield kredit. Pendapatan non-bunga melonjak 34% qoq, ditopang oleh fee terkait deposito, remitansi, kartu kredit, serta pemulihan kredit. Di sisi lain, beban operasional hanya naik 2% qoq dan bahkan turun 6% yoy, meski terdapat faktor musiman.

Baca Juga: IHSG Menguat ke 8.070,8 di Pagi Ini (10/2), Top Gainers LQ45: MBMA, SCMA, ISAT

“Beban provisi turun tajam, sehingga mendorong CoC ke level sangat rendah, yakni sekitar 0,2%, seiring penyesuaian metodologi loss given default (LGD),” ujar Victor, seraya menambahkan bahwa kualitas aset tetap terjaga dengan NPL membaik ke 1,1%.

Untuk tahun buku 2026, manajemen Bank Mandiri memproyeksikan kinerja yang kembali normal, dengan target pertumbuhan kredit 7%–9%. Bank Mandiri menargetkan NIM di kisaran 4,6%–4,8%, serta CoC 0,6%–0,8%. 

Bank Mandiri menargetkan LDR tetap di bawah 95% dan CIR di level 42%–43%, dengan rasio kecukupan modal yang solid serta target dividend payout ratio sebesar 65%–70%.

Atas kinerja tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BMRI. Victor juga menaikkan target dengan target harga Rp 6.200, naik dari sebelumnya Rp 5.500. “Kami merevisi naik proyeksi laba bersih tahun 2026 sebesar 10%, yang mendorong estimasi ROE menjadi 18,8%,” tulis Victor.

Meski demikian, Victor mengingatkan bahwa dalam jangka pendek saham BMRI berpotensi mengalami volatilitas tinggi akibat ketidakpastian makroekonomi dan global. Risiko utama terhadap rekomendasi ini mencakup potensi pembalikan tren likuiditas serta penurunan kualitas aset pada kredit wholesale.

Pada tahun ini, BRI Danareksa menargetkan BMRI bisa menghasilkan laba bersih sebesar Rp 57,37 triliun dan di tahun 2027 laba bersih BMRI bisa mencapai Rp 61,28 triliun.  

Baca Juga: FTSE Tunda Review Index Indonesia Periode Maret 2026, Ini Hasil Pertemuan dengan BEI

Selanjutnya: Upgrade iQOO 15: Layar 6000 Nits, Baterai 7000 mAh & Bawa Chip Monster

Menarik Dibaca: Upgrade iQOO 15: Layar 6000 Nits, Baterai 7000 mAh & Bawa Chip Monster

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News