Laba Bersih PGAS Naik 45,84% Kuartal I 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laba bersih PT Perusahaan Gas Negara Tbk alias PGN (PGAS) melesat kala pendapatan tercatat turun di kuartal I 2026.

Laba bersih senilai US$ 90,44 juta pada tiga bulan pertama tahun 2026. Keuntungan PGAS melonjak 45,84% dibandingkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada kuartal I-2025, yang kala itu tercatat sebesar US$ 62,01 juta.


PGAS mencatatkan pendapatan senilai US$ 929,56 juta dalam tiga bulan pertama 2026, ini menyusut 3,82% secara tahunan dibandingkan raihan US$ 966,56 juta pada periode yang sama tahun 2025.

Direktur Keuangan PGN Catur Dermawan mengungkapkan bahwa pertumbuhan laba bersih PGAS terutama ditopang oleh peningkatan laba kotor, seiring dengan penurunan beban pokok pendapatan.

Merujuk laporan keuangan yang rilis di BEI pada akhir pekan lalu, beban pokok pendapatan PGAS turun 6,58% YoY menjadi US$ 771,59 juta. Hasil ini mendongkrak perolehan laba bruto PGAS sebanyak 12,33% YoY dari US$ 140,61 juta menjadi US$ 157,96 juta pada kuartal I-2026.

Baca Juga: PGN (PGAS) Bakal Tambah Kegiatan Usaha Baru, Simak Rekomendasi Sahamnya

EBITDA terhadap beban bunga sebesar 20,75x dan debt to equity ratio sebesar 29%.

Catur menambahkan, pendapatan PGAS tetap ditopang oleh core business niaga dan infrastruktur gas bumi.

“Bisnis inti PGAS tetap kuat di tengah dinamika operasional, termasuk dengan tidak adanya penjualan Liquefied Natural Gas (LNG) pada segmen trading internasional pada periode kuartal I-2026,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (27/4/2026).

Dari sisi operasional, volume penyaluran gas bumi PGAS tercatat sebesar 777 billion British thermal unit per day (BBTUD), dengan volume transmisi gas mencapai 1.539 million standard cubic feet per day (MMSCFD). Pengelolaan penyaluran gas dilakukan secara optimal dengan fokus utama pada menjaga kontinuitas pasokan gas kepada pelanggan di tengah dinamika kondisi makro maupun global.

Keandalan infrastruktur PGN tetap terjaga pada level 99,9%, menopang layanan kepada lebih dari 825.000 pelanggan di seluruh Indonesia. Terdiri dari 822.561 rumah tangga, 2.842 pelanggan kecil, serta 3.310 pelanggan industri dan komersial.

Catur melanjutkan, PGAS menjaga fleksibilitas pasokan melalui pemanfaatan LNG secara terukur sebagai bagian dari pengelolaan sistem distribusi. LNG dimanfaatkan sebagai pelengkap pasokan untuk memastikan keberlanjutan layanan, khususnya di wilayah yang mengalami dinamika pasokan.

Volume jasa regasifikasi tercatat sebesar 115 BBTUD melalui Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Lampung, serta 148 BBTUD melalui fasilitas LNG Arun dan 292 BBTUD melalui FSRU Jawa Barat.

 
PGAS Chart by TradingView

“Seluruh fasilitas tersebut dikelola secara terintegrasi untuk menjaga keandalan sistem distribusi gas bumi nasional,” ungkapnya.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand berpandangan, penyebab lonjakan laba bersih PGAS memang bukan dari ekspansi pendapatan, melainkan dari efisiensi biaya dan stabilisasi nilai tukar.

“Beban pokok turun 7% atau US$54 juta sehingga laba kotor naik 12%, sementara kerugian selisih kurs menyusut drastis dari US$20 juta menjadi hanya US$1,6 juta,” katanya kepada Kontan, Rabu (29/4).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, koreksi pendapatan PGAS disebabkan oleh penurunan volume penjualan gas.

Di tahun 2026, Nafan mengatakan, kinerja PGAS masih prospektif didorong oleh pembangunan infrastruktur gas terintegrasi, termasuk di kawasan industri Jawa Timur, dan juga pipa transmisi di Jawa dan Sumatra. Dengan pembangunan ini, volume penjualan gas PGAS bisa lebih baik.

“PGAS juga telah melakukan diversifikasi bisnis ke LNG,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (29/4).

Di sisi lain, kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bisa menjadi sentimen negatif untuk kinerja PGAS.

Namun, saham PGAS menawarkan imbal hasil dividen (dividend yield) yang menarik, yaitu di 9,48%. “Untuk investor yang mengincar dividen, valuasi juga masih atraktif dan ada potensi capital gain,” ungkapnya.

Sebagai catatan, saham PGAS saat ini memiliki price to earning ratio (PER) 7,57x dan price to book value (PBV) di 0,97x.

Sementara, Abida bilang, katalis kinerja PGAS di tahun 2026 berasal dari margin LNG yang diproyeksikan US$2 per mmbtu dengan estimasi laba 2026 berpotensi 9% di atas konsensus.

“Ini didukung ekspansi jargas dan layanan beyond pipeline seperti CNG,” katanya.

Baca Juga: Permintaan Naik, Perusahaan Gas Negara (PGAS) Targetkan Volume Niaga Gas 877 BBTUD

Dengan asumsi dividend payout ratio di 80–100%, potensi dividend yield mencapai 6,3–7,8% pada harga Rp1.930 per saham.

Melansir RTI, hari ini (29/4/2026) saham PGAS ditutup di Rp 1.920 per saham, dengan rentang pergerakan harian di Rp 1.885–Rp 1.930 per saham.

Abida menghitung, skenario terbaik imbal hasil saham PGAS bisa sekitar 9,4% jika dividen dipertahankan seperti tahun lalu.

Posisi kas PGAS yang mencapai US$ 1,36 miliar per kuartal I 2026 juga mencerminkan neraca yang kuat. Valuasi sahamnya saat ini juga dinilai menarik dengan PER di bawah rata-rata historis dan dividend yield yang kompetitif dibanding sektor lain.

“PGAS adalah salah satu emiten BUMN dengan kombinasi valuasi murah dan yield tinggi yang langka,” katanya.

Abida pun merekomendasikan hold untuk PGAS dengan target harga Rp 2.000 per saham. Sedangkan, Nafan merekomendasikan accumulative buy untuk PGAS dengan target harga Rp 2.320 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News