KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Samudera Indonesia Tbk (
SMDR) mencatat penurunan laba bersih pada tiga bulan pertama tahun ini, meskipun pendapatan masih naik tipis. Berdasarkan laporan keuangannya, pada kuartal I-2026, pendapatan dari kontrak dengan pelanggan SMDR naik 2%
year-on-year (YoY) ke level US$ 184,3 juta dari US$ 181,1 juta. Namun, menengok
bottom line, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih SMDR anjlok 35%
year-on-year (YoY) menjadi US$ 10,13 juta dari US$ 15,51 juta pada kuartal I-2025.
Baca Juga: Beka Wire Operasikan Pabrik Kawat Baja 36.000 Ton, Sasar Pasar Otomotif Hingga Energi Direktur Utama Samudera Indonesia, Bani M Mulia menjelaskan, laba perusahaan di awal tahun ini ambles dipengaruhi penambahan armada kapal. Asal tahu saja, SMDR menargetkan penambahan tiga kapal pada tahun ini, yakni dua kapal tanker dan satu kapal peti kemas. "Pendanaan kapal juga menjadi beban depresiasi. Maka bisa dilihat juga penambahan aset lebih besar dibandingkan margin yang kita hasilkan," katanya dalam laporan kinerja keuangan secara daring, pekan lalu. Adapun dana yang akan dianggarkan untuk pembelian dua kapal tanker adalah sebesar Rp 460 miliar, sedangkan untuk kapal peti kemas sebanyak Rp 240 miliar dari Sukuk Ijarah Berkelanjutan 1 Samudera Indonesia. Selain itu, laju
freight rate kapal atau tarif angkutan laut yang lebih lambat pada awal tahun ini juga jadi pemberat profitabilitas. Oleh karenanya, kata Bani, perusahaan berharap
freight rate dapat meningkat agar laba perusahaan di akhir tahun membaik. Ia menambahkan, perusahaan juga berencana menambah rute baru pada 2026, yakni di India, Jepang, dan Eropa. Di tengah gejolak dari kondisi geopolitik saat ini, Bani memastikan pihaknya terus memonitor dinamika perubahan rute hari demi hari. "Dengan begitu, seandainya ada rute yang ke depan
performance-nya jelek baik dari volume maupun permintaan, maka akan disesuaikan secepat mungkin," ujar dia.
Baca Juga: PLN: 116.537 Pelanggan Manfaatkan Program Diskon Tambah Daya Listrik 50% Namun Bani memastikan pada kuartal I-2026, rute-rute yang dioperasikan Samudera Indonesia tak mencatatkan penurunan permintaan, sehingga utilisasi kapal masih dinilai positif.
Dia menambahkan, perusahaan juga melirik peluang dari beroperasinya terminal Patimban Global Gateway Terminal (PGT) pada awal 2026 ini. Dengan kepemilikan saham 21% di perusahaan itu, Bani bilang terminal ini telah mendapatkan beberapa panggilan kapal. Meskipun, saat ini terminal PGT masih memanfaatkan dua alat bongkar muat sementara
harbour mobile crane (HMC). "Tentu kontribusi profitabilitas dari satu terminal baru tak akan langsung besar di tahun pertama. Karena peningkatan volume dan aktivitasnya akan secara bertahap. Apalagi, saat ini masih menggunakan alat bongkar muat yang sementara," ujarnya. Ke depan, Bani mengungkap efisiensi produktivitas akan tercapai apabila
crane yang terpasang sudah bersifat tetap, seperti
shore crane atau
container quay crane. Keberadaan fasilitas tersebut diyakini dapat meningkatkan kecepatan dan volume kegiatan bongkar muat di terminal baru itu. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News