Laba Bersih Sido Muncul (SIDO) Turun 18,58%, Simak Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) membukukan laba bersih Rp 586,57 miliar di kuartal III-2023. Laba SIDO turun 18,58% jika dibandingkan dengan kuartal III-2022 sebesar Rp 720.44 miliar.  

Merujuk laporan keuangan yang dirilis pada Senin (30/10), SIDO membukukan penjualan bersih sebesar Rp 2,36 triliun atau lebih rendah 9,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, penjualan dan profitabilitas SIDO mengalami penurunan sebagai dampak dari tantangan daya beli yang masih berlanjut dari kuartal sebelumnya.


Hingga September 2023, semua segmen bisnis SIDO mencatatkan penurunan penjualan dibandingkan tahun lalu, seperti segmen herbal yang turun 12,1%, segmen makanan & minuman menurun 2,6%, serta segmen farmasi terkontraksi 25,6%. 

Baca Juga: Kinerja Menurun di Kuartal III-2023, Begini Tanggapan Sido Muncul (SIDO)

Direktur Keuangan Sido Muncul Leonard mengatakan, sentimen dari penurunan kinerja SIDO datang dari daya beli masyarakat yang lemah, hal ini terus berlanjut dari kuartal II hingga kuartal III. Selain itu, musim kemarau panjang dan tidak adanya hujan turut mempengaruhi konsumsi produk SIDO.

"Untuk target pendapatan dan laba di tahun 2023, kami berupaya untuk tidak melebihi penurunan yang terjadi hingga kinerja keuangan YTD September 2023. Kami masih berupaya untuk memberikan yang terbaik hingga sisa akhir tahun ini," kata Leonard kepada Kontan.co.id, Selasa (31/10).

Margin laba kotor SIDO tetap stabil di angka 54% pada sembilan bulan pertama tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, biaya operasional sedikit lebih tinggi sebesar 2,4%, didorong oleh biaya iklan & promosi yang lebih tinggi untuk mempertahankan pangsa pasar dan menciptakan permintaan di tingkat pelanggan akhir untuk mendukung penjualan. 

Baca Juga: Kinerja Turun pada Kuartal III, Sido Muncul (SIDO): Daya Beli Lemah

Analis Kiwoom Sekuritas Vicky Rosalinda mengatakan, pada kuartal III-2023 SIDO mengalami penurunan dari imbas daya beli pelanggan yang menurun. Hal ini terjadi disebabkan lonjakan harga beras lebih dari 20% sehingga terjadinya peningkatan inflasi pangan di kuartal III.

"Kenaikan harga beras ini berdampak pada penurunan permintaan produk kesehatan karena para konsumen lebih memprioritaskan pada kategori makanan," kata Vicky kepada Kontan.co.id, Selasa (31/10).

Di tengah penurunan laba, SIDO diproyeksikan akan menghadapi tantangan perubahan perilaku konsumen dan juga menurunnya daya beli konsumen. Alhasil, SIDO berpotensi sulit tumbuh di kuartal IV-2023.

Baca Juga: Daya Beli Loyo Menjadi Tantangan Sido Muncul Tbk (SIDO)

Meski demikian, SIDO tetap memperluas portofolio produknya yaitu Alang Sari Cool (produk RTD), Sido Muncul Vitamin C+D (produk VCD), dan Esemag (produk herbal). 

Bisnis RTD saat ini telah berkontribusi sebanyak 4% terhadap segmen F&B, didorong juga oleh sambutan positif terhadap peluncuran Alang Sari Cool dan VCD pada tahun lalu. Esemag untuk kategori herbal juga memperoleh pangsa pasar dari 5% tahun lalu menjadi 6% dan telah menempati posisi 5 dalam kategori tersebut.

Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan, secara historis, penjualan SIDO di kuartal keempat biasanya meningkat. Peningkatan ini dipengaruhi oleh kebutuhan masyarakat akan suplemen herbal untuk dibawa liburan.

Vicky merekomendasikan wait and see pada saham SIDO. Jika terjadi rebound pada saham SIDO, dia merekomendasikan untuk melakukan buy on weakness dengan target harga Rp 533 per saham-Rp 543 per saham. Tetapi jika terjadi break di Rp 510, maka harga akan melanjutkan penurunannya lagi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati